
-Panggilan pelayanan adalah anugerah Tuhan Yesus Kristus, Daud Kharis Ministry adalah bagian dari impian, visi dan misi panggilan pelayanan hambaNya, bagi Tuhan dan bagi GerejaNya. -Blog ini hanyalah catatan kecil dan langkah iman dari sebuah impian besar yang Tuhan tanamkan bagi masa depan dan pelayanan hambaNya. -Semoga blog ini menjadi berkat tersendiri bagi anda. Tuhan Yesus memberkati.
SELAMAT DATANG
Selamat datang di blog saya, semoga anda diberkati, Tuhan Yesus mengasihi anda.
Jika membutuhkan pelayanan saya silahkan menghubungi email dave_kandar@yahoo.com; atau Hp. 0813-6409-5029.
Jika membutuhkan pelayanan saya silahkan menghubungi email dave_kandar@yahoo.com; atau Hp. 0813-6409-5029.
Tentang saya
- David Kandar 甘大卫
- Pelayanan di Gereja Methodist Indonesia (GMI) Getsemani Binjai Sumatera Utara sebagai asistan gembala sidang dan gembala Pos Pelayanan di Brahrang (2004-2011). Gembala Sidang GMI Damai Sejahtera Jakarta Barat (2011-2013). Asistan gembala sidang di GMI Anugerah Batam (2013-2014). Gembala Sidang GMI Kana Marelan (2014-2015). Pimpinan Perguruan PKMI Methodist-10 TK-SD-SMP Belawan (2015-2018). Asistan Pimpinan Jemaat GMI Kanaan Medan (2018-2019). Pimpinan Perguruan PKMI 2 Kisaran Asahan (2019-2021). Gembala Sidang GMI Kanaan Medan (2021-2022). Pimpinan Perguruan PKMI Pangkalan Brandan dan Gembala Sidang GMI Pangkalan Brandan (2022- sekarang) Tinggal di Pangkalan Brandan Langkat dan melayani bersama istri Pdt. Delima Li En dan dikaruniai seorang anak Daud Kharis Delvidson Kandar.
Wednesday, December 17, 2008
Wednesday, December 3, 2008
Ujilah Dirimu Sendiri
2 Korintus 13:1-10
Oleh : Ev. David Kandar, S.Th
Di Khotbahkan di Gereja Methodist Indonesia jemaat Getsemani Binjai
Minggu, 30 Nopember 2008
Di terjemahkan dalam penyampaiannya melalui bahasa Mandarin oleh: Sdr. Kurniawan Leo
Saudara/i yang Tuhan Yesus kasihi,
Seperti yang sudah dijelaskan dalam khotbah-khotbah sebelumnya, bahwa surat Paulus ini ditujukan kepada jemaat di Korintus yang meragukan tentang kerasulan Paulus adalah dari Yesus Kristus.
Dalam Pasal 13:1-10 yang kita baca tadi adalah nasehat terakhir dari penutup Surat Paulus yang kedua yang dituliskannya. Bagian pasal 13 ini adalah puncak penjelasan Paulus yang tegas kepada jemaat di Korintus tentang tuduhan-tuduhan mengenai kerasulannya, sampai Paulus dengan tegas mengatakan kepada jemaat di Korintus,
“Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji.” (2 Korintus 13:5).
Saudara/i, saat ini Saudara/i yang Tuhan Yesus kasihi,
Di dalam Alkitab, beberapa kali Paulus dengan tegas mengatakan bahwa Gereja adalah sebagai suatu persekutuan umat Percaya, yang percaya kepada janji keselamatan melalui Tuhan Yesus Kristus, yang Kristus adalah Kepalanya dari seluruh umat.
Dan di dalam gereja, setiap jemaat diberikan talenta atu karunia yang berbeda untuk saling memperlengkapi demi untuk menjalankan tugas ke dalam (Intern) gereja yaitu beribadah kepada Allah dan saling memperhatikan dan mengingatkan sebagai suatu persekutuan dan saudara dalam Kristus Yesus, dan juga tugas keluar yaitu untuk menjalankan amanat agung dari Yesus Kristus, menjadikan semua bangsa percaya dan menjadi murid Kristus Yesus.
Tetapi sangat disesalkan, dalam kurun waktu sekarang ini, banyak gereja seolah-olah melupakan konsep gereja yang sebenarnya seperti yang diungkapkan dan dijelaskan oleh Paulus. Gereja saat ini, tidak lagi dengan serius mengerjakan tugas dan kewajibannya pelayanannya, dan bahkan jemaat ke gereja hanya seperti Handphone yang kehabisan baterai (Bagaimana handphone yang kehabisan baterai, yang pasti harus di cash atau diisi baterainya bukan?, begitu juga jemaat zaman sekarang, datang ke gereja hanya seminggu sekali, dan itu pun datang beribadah malah tidak tenang beribadah karena memikirkan bisnis dan pekerjaannya), atau saya bisa katakan lagi orang hanya ke gereja semusim umur jagung, (mau tau maksudnya? Saya mau tanya dahulu, berapa lamanya jagung kalau ditanam (3 bulan bulan bukan??) begitu juga orang ke gereja hanya pada bulan Oktober, Nopember dan Desember, karena hanya mau Natal nya saja) Atau sekarang ada istilah Jemaat ke Gereja hanya untuk Ber-NaPas, (Mau tau artinya: Na-Pas (Natal-Paskah), habis itu jemaat itu tidak pernah datang ke gereja lagi.
Akhirnya gereja dan jemaat di dalamnya menjadi gereja yang ”suam-suam kuku” seperti Gereja Jemaat di Laodikia yang dituliskan di dalam Kitab Wahyu, dan Tuhan mengatakan apa: “Jika engkau suam-suam kuku, maka aku akan memuntahkan engkau”.(Wahyu 3: 15-16)....................................................................................................................................................................
Saudara/i setiap masalah yang ada dalam gereja bukan hanya dialami oleh gereja-gereja masa kini tetapi oleh gereja di Korintus juga mengalami masalah dan tantangan dalam pelayanan, pergumulan gereja di Korintus pada zaman Paulus juga, gereja di Korintus terpengaruhi oleh beberapa orang yang meragukan tentang keabsahan Paulus sebagai rasul Kristus Yesus, dan dalam suratnya juga Paulus sudah beberapa kali membela tentang Kerasulannya.
Apakah ada gereja seperti demikian dalam zaman ini? Ada,
contohnya banyak majeli, banyak jemaat yang hanya menganggap hamba Tuhan bukan sebagai hamba Tuhan, tetapi hanya sebagai orang upahan, untuk menjalankan tugas pelayanannnya, orang upahan dari Allah masih bagus karena upahnya besar di Surga, tetapi parahnya banyak jemaat menganggap yang karena kekayaaannya, yang karena pangkat dan jabatannya menganggap hamba Tuhan hanya sebagai upahannya, sehingga dengan seenaknya mengatur hamba Tuhan dalam pelayanannya. (Bukan disini).
Dan inilah yang dibela oleh Paulus, yang merupakan ketegasannya dalam membela kerasulannya
Ketegasan pertama ada tertulis dalam ayat 1, “baru dengan dua atau tiga orang saksi...” (Ayat 1). Ini merupakan suatu bukti bahwa memang jemaat di Korintus masih tidak bisa memahami tentang kerasulan Paulus, (dua atau tiga orang saksi menunjuk kepada Hukum Musa dalam Perjanjian Lama).
Sampai akhirnya Paulus harus mengatakan “baru dengan dua atau tiga orang saksi.perkara ini dianggap sah” (perkara yang dimaksud adalah keraguan akan kerasulan Paulus)
yang menunjukkan kepada ketidak percayaan jemaat di Korintus, ketiga saksi yang dimaksud di sini adalah ketiga kali kunjungan Paulus baik melalui dirnya atau melalui surat yang dikirimnya. Atau ada tafsiran mengatakan ketiga orang saksi yang dimaksudkan oleh Paulus adalah Stefanus, Fortunatus, dan Akhaikus. Sehingga dengan Paulus mengatakan “baru dengan dua atau tiga orang saksi..”, Paulus mengharapkan jemaat di Korintus dapat percaya bahwa Paulus adalah Rasul Kristus.
Ketegasan kedua dituliskan Paulus dalam ayat 2 “....sekarang pada waktu aku berjauhan dengan kamu tepat seperti pada waktu kedatanganku kedua kalinya--bahwa aku tidak akan menyayangkan mereka pada waktu aku datang lagi. “
Maksudnya adalah dalam ketegasan Paulus ini, Paulus yang sudah mengunjungi jemaat Korintus tiga kali, Paulus berharap apabila ada waktu kesekian kalinya nanti Paulus mengunjungi kembali jemaat di Korintus, jemaat di Korintus menyadari kesalahannya, dan percaya bahwa Paulus adalah rasul dari Kristus Yesus.
Kalimat “ ....tidak menyayangkan lagi” , maksudnya adalah apabila mereka dalam kunjungan Paulus nanti, masih tidak percaya maka Paulus akan bertindak tegas....bahkan akan menghukum mereka atau mendisiplinkan mereka. (bertindak keras menurut Kuasa yang dianugerahkan Tuhan kepada ku (ayat 10)
Mengapa Paulus harus tegas kepada jemaat di Korintus, karena Jemaat di Korintus ingin suatu bukti tentang bahwa Kristus berkata-kata dengan perantaraan Paulus. (Ayat 3)
Ketegasan ketiga yang dituliskan Paulus dalam ayat 5, “Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji.”
Maksudnya disini adalah , jemaat di Korintus, jika masih meragukan kerasulan Paulus, jangan senantiasa terus meragukan, tetapi kembali Paulus meminta untuk jemaat di Korintus mengguji diri jemaat Korintus sendiri tentang imannya dalam Yesus. Mengapa menguji diri sendiri, karena dengan jemaat Korintus mempunyai iman dalam Yesus, maka Paulus mengharapkan jemaat di Korintus akan menemukan bahwa Paulus benar, di utus oleh Tuhan Yesus, dan tidak mereka tolak.
Dan akhir dari semua nasihatnya dan pembelaan Paulus, Paulus akhiri dengan kalimat penutup yang penting, “Itulah sebabnya sekali ini aku menulis kepada kamu ketika aku berjauhan dengan kamu, supaya bila aku berada di tengah-tengah kamu, aku tidak terpaksa bertindak keras menurut kuasa yang dianugerahkan Tuhan kepadaku untuk membangun dan bukan untuk meruntuhkan.” (ayat 10)
Ini penjelasan sekaligus permintaan maaf Paulus, mengenai semua pembelaannya dalam ayat ayat sebelumnya atas kata-kata keras yang ia gunakan.
Penjelasan yang di tulis “menurut Kuasa yang dianugerahkan Tuhan kepada ku”, yaitu kuasa yang diberikan Yesus untuk mendisiplinkan gereja (oleh karena itu Paulus bertindak keras), yang sebenarnya Paulus lebih senang datang dan menjelaskan dengan lemah lembut, jika jemaat Korintus tidak keras kepala.
Karena tujuan Paulus adalah “untuk membangun, dan bukan meruntuhkan.”
Saudara/i , banyak gereja saat ini pula sering meragukan konsep dan pemikiran hamba Tuhannya, tetapi sesungguhnya jikalau hamba Tuhan itu benar-benar dalam melayani, tujuan hamba Tuhan adalah untuk membangun setiap jemaat yang diberikan Tuhan kepadanya untuk digembalakannya. Tetapi kembali, yang diperlukan dalam pemahaman disini adalah “Kesatuan hati” untuk melayani, seperti sebatang sapu lidi, jika sebatang sapu lidi dipatahkan akan sangat mudah, tetapi jika satu ikat sapu lidi, jika dipatahkan akan sulit. Demikian juga Persekutuan/ gereja, jika di dalam gereja ada kelompok-kelompok, ada pertentangan, melayani tanpa “Hati”, yang intinya tidak ada kesatuan, baik jemaat dengan jemaat atau jemaat dan hamba Tuhan, maka pekerjaan pelayanan apapun dalam gereja tidak akan maksimal, ataupun jika berhasil, itu semua tidak akan berkenan kepada Tuhan.
Doa saya, masing-masing dari kita menguji diri kita seperti Paulus katakan dalam ayat 5, apakah saat ini kita masih memegang teguh iman kita kepada Yesus Kristus, ataukah iman kita sudah luntur, sehingga dalam pelayanan dalam ibadah yang ada hanyalah egoisme pribadi, kepentingan pribadi, ujilah terus dirimu dalam imanmu kepada Yesus Kristus. Sehingga pelayanan kita, ibadah kita layak dihadapan Tuhan. Sehingga segala tantangan yang ada dalam ibadah dan pelayanan, kita bisa kuat bertahan dan berhasil. Amin
Oleh : Ev. David Kandar, S.Th
Di Khotbahkan di Gereja Methodist Indonesia jemaat Getsemani Binjai
Minggu, 30 Nopember 2008
Di terjemahkan dalam penyampaiannya melalui bahasa Mandarin oleh: Sdr. Kurniawan Leo
Saudara/i yang Tuhan Yesus kasihi,
Seperti yang sudah dijelaskan dalam khotbah-khotbah sebelumnya, bahwa surat Paulus ini ditujukan kepada jemaat di Korintus yang meragukan tentang kerasulan Paulus adalah dari Yesus Kristus.
Dalam Pasal 13:1-10 yang kita baca tadi adalah nasehat terakhir dari penutup Surat Paulus yang kedua yang dituliskannya. Bagian pasal 13 ini adalah puncak penjelasan Paulus yang tegas kepada jemaat di Korintus tentang tuduhan-tuduhan mengenai kerasulannya, sampai Paulus dengan tegas mengatakan kepada jemaat di Korintus,
“Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji.” (2 Korintus 13:5).
Saudara/i, saat ini Saudara/i yang Tuhan Yesus kasihi,
Di dalam Alkitab, beberapa kali Paulus dengan tegas mengatakan bahwa Gereja adalah sebagai suatu persekutuan umat Percaya, yang percaya kepada janji keselamatan melalui Tuhan Yesus Kristus, yang Kristus adalah Kepalanya dari seluruh umat.
Dan di dalam gereja, setiap jemaat diberikan talenta atu karunia yang berbeda untuk saling memperlengkapi demi untuk menjalankan tugas ke dalam (Intern) gereja yaitu beribadah kepada Allah dan saling memperhatikan dan mengingatkan sebagai suatu persekutuan dan saudara dalam Kristus Yesus, dan juga tugas keluar yaitu untuk menjalankan amanat agung dari Yesus Kristus, menjadikan semua bangsa percaya dan menjadi murid Kristus Yesus.
Tetapi sangat disesalkan, dalam kurun waktu sekarang ini, banyak gereja seolah-olah melupakan konsep gereja yang sebenarnya seperti yang diungkapkan dan dijelaskan oleh Paulus. Gereja saat ini, tidak lagi dengan serius mengerjakan tugas dan kewajibannya pelayanannya, dan bahkan jemaat ke gereja hanya seperti Handphone yang kehabisan baterai (Bagaimana handphone yang kehabisan baterai, yang pasti harus di cash atau diisi baterainya bukan?, begitu juga jemaat zaman sekarang, datang ke gereja hanya seminggu sekali, dan itu pun datang beribadah malah tidak tenang beribadah karena memikirkan bisnis dan pekerjaannya), atau saya bisa katakan lagi orang hanya ke gereja semusim umur jagung, (mau tau maksudnya? Saya mau tanya dahulu, berapa lamanya jagung kalau ditanam (3 bulan bulan bukan??) begitu juga orang ke gereja hanya pada bulan Oktober, Nopember dan Desember, karena hanya mau Natal nya saja) Atau sekarang ada istilah Jemaat ke Gereja hanya untuk Ber-NaPas, (Mau tau artinya: Na-Pas (Natal-Paskah), habis itu jemaat itu tidak pernah datang ke gereja lagi.
Akhirnya gereja dan jemaat di dalamnya menjadi gereja yang ”suam-suam kuku” seperti Gereja Jemaat di Laodikia yang dituliskan di dalam Kitab Wahyu, dan Tuhan mengatakan apa: “Jika engkau suam-suam kuku, maka aku akan memuntahkan engkau”.(Wahyu 3: 15-16)....................................................................................................................................................................
Saudara/i setiap masalah yang ada dalam gereja bukan hanya dialami oleh gereja-gereja masa kini tetapi oleh gereja di Korintus juga mengalami masalah dan tantangan dalam pelayanan, pergumulan gereja di Korintus pada zaman Paulus juga, gereja di Korintus terpengaruhi oleh beberapa orang yang meragukan tentang keabsahan Paulus sebagai rasul Kristus Yesus, dan dalam suratnya juga Paulus sudah beberapa kali membela tentang Kerasulannya.
Apakah ada gereja seperti demikian dalam zaman ini? Ada,
contohnya banyak majeli, banyak jemaat yang hanya menganggap hamba Tuhan bukan sebagai hamba Tuhan, tetapi hanya sebagai orang upahan, untuk menjalankan tugas pelayanannnya, orang upahan dari Allah masih bagus karena upahnya besar di Surga, tetapi parahnya banyak jemaat menganggap yang karena kekayaaannya, yang karena pangkat dan jabatannya menganggap hamba Tuhan hanya sebagai upahannya, sehingga dengan seenaknya mengatur hamba Tuhan dalam pelayanannya. (Bukan disini).
Dan inilah yang dibela oleh Paulus, yang merupakan ketegasannya dalam membela kerasulannya
Ketegasan pertama ada tertulis dalam ayat 1, “baru dengan dua atau tiga orang saksi...” (Ayat 1). Ini merupakan suatu bukti bahwa memang jemaat di Korintus masih tidak bisa memahami tentang kerasulan Paulus, (dua atau tiga orang saksi menunjuk kepada Hukum Musa dalam Perjanjian Lama).
Sampai akhirnya Paulus harus mengatakan “baru dengan dua atau tiga orang saksi.perkara ini dianggap sah” (perkara yang dimaksud adalah keraguan akan kerasulan Paulus)
yang menunjukkan kepada ketidak percayaan jemaat di Korintus, ketiga saksi yang dimaksud di sini adalah ketiga kali kunjungan Paulus baik melalui dirnya atau melalui surat yang dikirimnya. Atau ada tafsiran mengatakan ketiga orang saksi yang dimaksudkan oleh Paulus adalah Stefanus, Fortunatus, dan Akhaikus. Sehingga dengan Paulus mengatakan “baru dengan dua atau tiga orang saksi..”, Paulus mengharapkan jemaat di Korintus dapat percaya bahwa Paulus adalah Rasul Kristus.
Ketegasan kedua dituliskan Paulus dalam ayat 2 “....sekarang pada waktu aku berjauhan dengan kamu tepat seperti pada waktu kedatanganku kedua kalinya--bahwa aku tidak akan menyayangkan mereka pada waktu aku datang lagi. “
Maksudnya adalah dalam ketegasan Paulus ini, Paulus yang sudah mengunjungi jemaat Korintus tiga kali, Paulus berharap apabila ada waktu kesekian kalinya nanti Paulus mengunjungi kembali jemaat di Korintus, jemaat di Korintus menyadari kesalahannya, dan percaya bahwa Paulus adalah rasul dari Kristus Yesus.
Kalimat “ ....tidak menyayangkan lagi” , maksudnya adalah apabila mereka dalam kunjungan Paulus nanti, masih tidak percaya maka Paulus akan bertindak tegas....bahkan akan menghukum mereka atau mendisiplinkan mereka. (bertindak keras menurut Kuasa yang dianugerahkan Tuhan kepada ku (ayat 10)
Mengapa Paulus harus tegas kepada jemaat di Korintus, karena Jemaat di Korintus ingin suatu bukti tentang bahwa Kristus berkata-kata dengan perantaraan Paulus. (Ayat 3)
Ketegasan ketiga yang dituliskan Paulus dalam ayat 5, “Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji.”
Maksudnya disini adalah , jemaat di Korintus, jika masih meragukan kerasulan Paulus, jangan senantiasa terus meragukan, tetapi kembali Paulus meminta untuk jemaat di Korintus mengguji diri jemaat Korintus sendiri tentang imannya dalam Yesus. Mengapa menguji diri sendiri, karena dengan jemaat Korintus mempunyai iman dalam Yesus, maka Paulus mengharapkan jemaat di Korintus akan menemukan bahwa Paulus benar, di utus oleh Tuhan Yesus, dan tidak mereka tolak.
Dan akhir dari semua nasihatnya dan pembelaan Paulus, Paulus akhiri dengan kalimat penutup yang penting, “Itulah sebabnya sekali ini aku menulis kepada kamu ketika aku berjauhan dengan kamu, supaya bila aku berada di tengah-tengah kamu, aku tidak terpaksa bertindak keras menurut kuasa yang dianugerahkan Tuhan kepadaku untuk membangun dan bukan untuk meruntuhkan.” (ayat 10)
Ini penjelasan sekaligus permintaan maaf Paulus, mengenai semua pembelaannya dalam ayat ayat sebelumnya atas kata-kata keras yang ia gunakan.
Penjelasan yang di tulis “menurut Kuasa yang dianugerahkan Tuhan kepada ku”, yaitu kuasa yang diberikan Yesus untuk mendisiplinkan gereja (oleh karena itu Paulus bertindak keras), yang sebenarnya Paulus lebih senang datang dan menjelaskan dengan lemah lembut, jika jemaat Korintus tidak keras kepala.
Karena tujuan Paulus adalah “untuk membangun, dan bukan meruntuhkan.”
Saudara/i , banyak gereja saat ini pula sering meragukan konsep dan pemikiran hamba Tuhannya, tetapi sesungguhnya jikalau hamba Tuhan itu benar-benar dalam melayani, tujuan hamba Tuhan adalah untuk membangun setiap jemaat yang diberikan Tuhan kepadanya untuk digembalakannya. Tetapi kembali, yang diperlukan dalam pemahaman disini adalah “Kesatuan hati” untuk melayani, seperti sebatang sapu lidi, jika sebatang sapu lidi dipatahkan akan sangat mudah, tetapi jika satu ikat sapu lidi, jika dipatahkan akan sulit. Demikian juga Persekutuan/ gereja, jika di dalam gereja ada kelompok-kelompok, ada pertentangan, melayani tanpa “Hati”, yang intinya tidak ada kesatuan, baik jemaat dengan jemaat atau jemaat dan hamba Tuhan, maka pekerjaan pelayanan apapun dalam gereja tidak akan maksimal, ataupun jika berhasil, itu semua tidak akan berkenan kepada Tuhan.
Doa saya, masing-masing dari kita menguji diri kita seperti Paulus katakan dalam ayat 5, apakah saat ini kita masih memegang teguh iman kita kepada Yesus Kristus, ataukah iman kita sudah luntur, sehingga dalam pelayanan dalam ibadah yang ada hanyalah egoisme pribadi, kepentingan pribadi, ujilah terus dirimu dalam imanmu kepada Yesus Kristus. Sehingga pelayanan kita, ibadah kita layak dihadapan Tuhan. Sehingga segala tantangan yang ada dalam ibadah dan pelayanan, kita bisa kuat bertahan dan berhasil. Amin
Sunday, October 12, 2008
Methodist Pos Pelayanan di Brahrang membutuhkan:
Shalom, bagi anak-anak Tuhan dimanapun juga yang ingin membagi berkat Tuhan melalui persembahan, kami Methodist Pos Pelayanan Brahrang membutuhkan dana untuk pembelian satu unit LCD Projector Merk Epson seharga Rp. 6.200.000,- dan satu unit Computer PC rakitan seharga Rp. 2.500.000,-
dan jika ada yang terbeban untuk memberikan persembahan dapat menghubungi Ev. David Kandar, S.Th di e-mail dave_kandar@yahoo.com, atau hubungi no telepon (061) 30-3000-45,
Kami sangat mengharapkan dukungan doa dan persembahan anda, untuk menunjang pelayanan kami dalam pujian dan ibadah.
Jadwal Pelayanan-Pelayanan kami di Methodist Pos Pelayanan Brahrang:
Ibadah Raya/ Umum :Minggu, Pk. 19.30 WIB, kehadiran per minggu +/- 25-30 orang
dengan total kebutuhan dana untuk pembelian adalah sebesar:
RP. 8.700.000,-
Bantulah dalam doa untuk kebutuhan alat-alat tersebut di atas,dan jika ada yang terbeban untuk memberikan persembahan dapat menghubungi Ev. David Kandar, S.Th di e-mail dave_kandar@yahoo.com, atau hubungi no telepon (061) 30-3000-45,
Kami sangat mengharapkan dukungan doa dan persembahan anda, untuk menunjang pelayanan kami dalam pujian dan ibadah.
Jadwal Pelayanan-Pelayanan kami di Methodist Pos Pelayanan Brahrang:
Ibadah Raya/ Umum :Minggu, Pk. 19.30 WIB, kehadiran per minggu +/- 25-30 orang
Ibadah Sekolah Minggu :Minggu, Pk. 09.00 WIB, kehadiran per minggu +/- 100-120 orang
Ibadah Pemuda Remaja : Sabtu, Pk. 19.30 WIB, kehadiran per minggu +/- 50-70 orang
Saturday, September 27, 2008
VISI DAN MISI DALAM PELAYANAN


VISI DAN MISI DALAM PELAYANAN
Disajikan penulisan ini untuk:
Semua yang terbeban dalam pelayanan di Methodist BRAHRANG
TUHAN berfirman kepadanya: "Apakah yang di tanganmu itu?" Jawab Musa: "Tongkat."
Firman TUHAN: "Lemparkanlah itu ke tanah." Dan ketika dilemparkannya ke tanah, maka tongkat
itu menjadi ular, sehingga Musa lari meninggalkannya.
(Keluaran 4:2-3)
Kata Yesus kepada mereka: "Berapa roti ada padamu?" "Tujuh," jawab mereka, "dan ada lagi beberapa ikan kecil."
(Matius 15:34)
"Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka.
Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat.
Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta.
Hamba yang menerima dua talenta itupun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta.
Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya.
Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka.
Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta.
Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.
Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta.
Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.
Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam.
Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan!
Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam?
Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya.
Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu.
(Matius 25:14-28)
Ketika Tuhan bertanya kepada Musa, “Hai Musa apa yang ada di tanganmu?” Musa lalu menjawab “tongkat”, lalu tongkat di tangan Musa berubah jadi ular dan tongkat inilah yang membuat Firaun menjadi yakin akan Allah Israel dan tongkat inilah yang berubah jadi ular dan mengalahkan tongkat-tongkat para ahli Sihir Mesir.
Hanya dengan sebuah tongkat menjadi modal Musa untuk meyakinkan Firaun agar melepaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir. Bukan karena tongkat Musa, tetapi Allah memakai dan memberikan kuasa untuk tongkat yang Musa miliki. Kuasa Allah yang melalui tongkat Musa, yang mampu membelah Laut Merah, yang mampu membuat batu mengeluarkan air.
Tongkat hanyalah sebuah tongkat biasa yang hanya dimiliki oleh seorang Musa yang hanya manusia biasa, tetapi jikalau Allah mau memakai Musa, untuk menjalankan tugas Allah membebaskan bangsa Mesir, maka tongkat tersebut menjadi sangat berguna, tergantung ditangan siapa tongkat itu dipegang, yaitu ditangan Musa yang mempunyai otoritas Illahi.
Hal yang sama terjadi, ketika orang banyak berbondong-bondong mengikuti Yesus, Yesus melihat mereka dan berbelas kasihan karena mereka semua belum makan, dan Yesus ingin supaya mereka mendapatkan makanan. Lalu Yesus bertanya kepada murid-muridnya, apakah yang murid-muridnya punyai, murid-muridnya menjawab, “ada tujuh roti dan beberapa ikan-ikan kecil”, lalu Yesus mengambi 7 roti dan ikan ikan kecil itu, lalu mengucapkan berkat dan Roti dan ikan yang hanya beberapa itu sanggup memberi makan orang banyak. Dan bahkan dari tujuh roti itu tersisa 7 bakul penuh, suatu keajaiban bukan??.
Ini terjadi bukan karena murid-muridnya, bukan karena roti dan ikannya, tetapi semua keajaiban ini terjadi karena pada tangan siapa yang mengucapkan berkat, yaitu Tuhan Yesus. 7 roti dan beberapa ikan kecil menjadi makanan yang cukup untuk semua orang, tercatat dalam Alkitab yang makan adalah empat ribu laki-laki dan belum termasuk wanita dan anak-anak. Sungguh ajaib. Tuhan Yesus memakai apa yang ada pada murid-muridnya, yang sungguh mustahil bagi manusia tetapi tidak mustahil bagi Allah.
Lain lagi dengan kisah yang diumpamakan oleh Yesus tentang seorang tuan yang mempercayakan kepada 3 hambanya, hamba yang satu dipercayakan 5 talenta, hamba yang satu 2 talenta, hamba yang satu lagi diberikan 1 talenta, ketika tuannya datang, hamba yang dipercayakan 5 talenta berhasil melipatgandakan talenta tersebut menjadi 2 kali lipat, begitu pula hamba yang dipercayakan 2 talenta, mampu melipat gandakan 2 talenta tersebut menjadi 2 kali lipat. Tetapi lain lagi dengan hamba yang dipercayakan 1 talenta, dia malah menyimpan nya di tanah, dan mengembalikan tanpa berlipat ganda, dan inilah kegagalan hamba yang ketiga, tidak mampu melipatgandakan apa yang dipercayakan oleh tuannya. Kepada kedua hamba yang telah berhasil tuannya mengatakan, “baik sekali perbuatanmu, dan engkau telah setia terhadap perkara-perkara kecil, masuklah ke dalam kebahagiaan tuanmu.”
Apa yang dapat kita pelajari dari ketiga peristiwa dalam Alkitab diatas, seperti Tuhan berkata kepada Musa, “apa yang ada di tanganmu”, hanyalah sebuah tongkat yang tidak berarti. Tetapi mampu untuk membuat Firaun bertekuk lutut
Lalu seperti pertanyaan Yesus kepada murid-muridnya, berapa roti yang kamu punya, hanya 7 roti dan beberapa ikan kecil, tetapi sanggup untuk member makan banyak orang.
Atau seperti ketiga hamba yang dipercayakan talenta oleh tuannya, belajar dari kedua hamba yang berhasil, mereka mampu melipatgandakan apa yang dieprcayakan tuannya.
Dari ketiga peristiwa diatas, sekarang kembali apa yang dipunyai Pos Pelayanan Methodist Brahrang, mungkin sangat sederhana sekali, dengan ibadah yang sederhana, dengan perlengkapan dan fasilitas sederhana, tetapi jika Tuhan berkata kepada kita semua, khususnya jemaat Pos Pelayanan Methodist Brahrang, apa yang engkau punya, janganlah engkau takut tidak dapat ber buat lebih bagi pelayanan, karena dari apapun yang kita punyai walaupun sederhana, tetapi jika Tuhan Allah mau memakai itu, maka apa yang kita punyai akan berguna, bahkan membawa keajaiban bagi kita semua, dan umumnya bagi Brahrang.
Tetapi kesederhanaan dan fasilitas yang serba adanya ini, bukan karena kita berpikir Tuhan telah memberkatinya dengan seperti ini sehingga kita tenang-tenang saja, dan akhir nya jadi “stagnan”,
tetapi perlahan-lahan kita juga harus belajar dari ketiga hamba yang dipercayakan talenta oleh tuannya,maksudnya adalah apa yang kita punyai Tuhan sudah percayakan kepada kita, mampukah kita untuk melipatgandakannya, secara intern adalah, mampukah kita membuat fasilitas, prasarana dan sarana yang kita miliki dapat berlipat ganda, karena semua itu kepercayaan yang Tuhan berikan kepada kita. Sehingga pelayanan kita menjadi lebih berkembang, dan sampai Tuhan berkata “Baik sekali perbuatan hai engkau Pos Pelayanan Brahrang, engkau telah setia terhadap perkara-perkara kecil, maka sekarang masuklah ke kebahagiaan tuanmu”.
Atau untuk hal yang ekstern, Tuhan berkata “Berapa jumlah jemaat yang kamu punyai hai Pos Pelayanan Methodist Brahrang?” ketika engkau menjawab sekian, Tuhan sudah mempercayakan yang sekian itu pada kita, pertanyaannya mampukah kita melipatgandakannya menjadi berkalikali lipat, sehingga kita menjadi hamba yang setia??.
Jadi renungkanlah, dan camkanlah,dan akhir kata bangkitlah, bersama-sama, dengan apa yang telah Tuhan percayakan, dan kembangkanlah itu bersama-sama, karena Tuhan sudah mempercayakan bukan kepada satu atau dua individu saja, tetapi kepada semua yang merasa terbeban untuk pengembangan Pos Pelayanan Methodist di Brahrang. (I Korintus 15:58)
Tuhan Yesus memberkati!!
Oleh: Ev. David Kandar, S.Th
(Penghujung September 2008, Pk. 22.40 Wib)
Disajikan penulisan ini untuk:
Semua yang terbeban dalam pelayanan di Methodist BRAHRANG
TUHAN berfirman kepadanya: "Apakah yang di tanganmu itu?" Jawab Musa: "Tongkat."
Firman TUHAN: "Lemparkanlah itu ke tanah." Dan ketika dilemparkannya ke tanah, maka tongkat
itu menjadi ular, sehingga Musa lari meninggalkannya.
(Keluaran 4:2-3)
Kata Yesus kepada mereka: "Berapa roti ada padamu?" "Tujuh," jawab mereka, "dan ada lagi beberapa ikan kecil."
(Matius 15:34)
"Sebab hal Kerajaan Sorga sama seperti seorang yang mau bepergian ke luar negeri, yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka.
Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat.
Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta.
Hamba yang menerima dua talenta itupun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta.
Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya.
Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka.
Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba lima talenta.
Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.
Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya: Tuan, dua talenta tuan percayakan kepadaku; lihat, aku telah beroleh laba dua talenta.
Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia, engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.
Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata: Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam.
Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah: Ini, terimalah kepunyaan tuan!
Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas, jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam?
Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya.
Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu.
(Matius 25:14-28)
Ketika Tuhan bertanya kepada Musa, “Hai Musa apa yang ada di tanganmu?” Musa lalu menjawab “tongkat”, lalu tongkat di tangan Musa berubah jadi ular dan tongkat inilah yang membuat Firaun menjadi yakin akan Allah Israel dan tongkat inilah yang berubah jadi ular dan mengalahkan tongkat-tongkat para ahli Sihir Mesir.
Hanya dengan sebuah tongkat menjadi modal Musa untuk meyakinkan Firaun agar melepaskan bangsa Israel dari perbudakan Mesir. Bukan karena tongkat Musa, tetapi Allah memakai dan memberikan kuasa untuk tongkat yang Musa miliki. Kuasa Allah yang melalui tongkat Musa, yang mampu membelah Laut Merah, yang mampu membuat batu mengeluarkan air.
Tongkat hanyalah sebuah tongkat biasa yang hanya dimiliki oleh seorang Musa yang hanya manusia biasa, tetapi jikalau Allah mau memakai Musa, untuk menjalankan tugas Allah membebaskan bangsa Mesir, maka tongkat tersebut menjadi sangat berguna, tergantung ditangan siapa tongkat itu dipegang, yaitu ditangan Musa yang mempunyai otoritas Illahi.
Hal yang sama terjadi, ketika orang banyak berbondong-bondong mengikuti Yesus, Yesus melihat mereka dan berbelas kasihan karena mereka semua belum makan, dan Yesus ingin supaya mereka mendapatkan makanan. Lalu Yesus bertanya kepada murid-muridnya, apakah yang murid-muridnya punyai, murid-muridnya menjawab, “ada tujuh roti dan beberapa ikan-ikan kecil”, lalu Yesus mengambi 7 roti dan ikan ikan kecil itu, lalu mengucapkan berkat dan Roti dan ikan yang hanya beberapa itu sanggup memberi makan orang banyak. Dan bahkan dari tujuh roti itu tersisa 7 bakul penuh, suatu keajaiban bukan??.
Ini terjadi bukan karena murid-muridnya, bukan karena roti dan ikannya, tetapi semua keajaiban ini terjadi karena pada tangan siapa yang mengucapkan berkat, yaitu Tuhan Yesus. 7 roti dan beberapa ikan kecil menjadi makanan yang cukup untuk semua orang, tercatat dalam Alkitab yang makan adalah empat ribu laki-laki dan belum termasuk wanita dan anak-anak. Sungguh ajaib. Tuhan Yesus memakai apa yang ada pada murid-muridnya, yang sungguh mustahil bagi manusia tetapi tidak mustahil bagi Allah.
Lain lagi dengan kisah yang diumpamakan oleh Yesus tentang seorang tuan yang mempercayakan kepada 3 hambanya, hamba yang satu dipercayakan 5 talenta, hamba yang satu 2 talenta, hamba yang satu lagi diberikan 1 talenta, ketika tuannya datang, hamba yang dipercayakan 5 talenta berhasil melipatgandakan talenta tersebut menjadi 2 kali lipat, begitu pula hamba yang dipercayakan 2 talenta, mampu melipat gandakan 2 talenta tersebut menjadi 2 kali lipat. Tetapi lain lagi dengan hamba yang dipercayakan 1 talenta, dia malah menyimpan nya di tanah, dan mengembalikan tanpa berlipat ganda, dan inilah kegagalan hamba yang ketiga, tidak mampu melipatgandakan apa yang dipercayakan oleh tuannya. Kepada kedua hamba yang telah berhasil tuannya mengatakan, “baik sekali perbuatanmu, dan engkau telah setia terhadap perkara-perkara kecil, masuklah ke dalam kebahagiaan tuanmu.”
Apa yang dapat kita pelajari dari ketiga peristiwa dalam Alkitab diatas, seperti Tuhan berkata kepada Musa, “apa yang ada di tanganmu”, hanyalah sebuah tongkat yang tidak berarti. Tetapi mampu untuk membuat Firaun bertekuk lutut
Lalu seperti pertanyaan Yesus kepada murid-muridnya, berapa roti yang kamu punya, hanya 7 roti dan beberapa ikan kecil, tetapi sanggup untuk member makan banyak orang.
Atau seperti ketiga hamba yang dipercayakan talenta oleh tuannya, belajar dari kedua hamba yang berhasil, mereka mampu melipatgandakan apa yang dieprcayakan tuannya.
Dari ketiga peristiwa diatas, sekarang kembali apa yang dipunyai Pos Pelayanan Methodist Brahrang, mungkin sangat sederhana sekali, dengan ibadah yang sederhana, dengan perlengkapan dan fasilitas sederhana, tetapi jika Tuhan berkata kepada kita semua, khususnya jemaat Pos Pelayanan Methodist Brahrang, apa yang engkau punya, janganlah engkau takut tidak dapat ber buat lebih bagi pelayanan, karena dari apapun yang kita punyai walaupun sederhana, tetapi jika Tuhan Allah mau memakai itu, maka apa yang kita punyai akan berguna, bahkan membawa keajaiban bagi kita semua, dan umumnya bagi Brahrang.
Tetapi kesederhanaan dan fasilitas yang serba adanya ini, bukan karena kita berpikir Tuhan telah memberkatinya dengan seperti ini sehingga kita tenang-tenang saja, dan akhir nya jadi “stagnan”,
tetapi perlahan-lahan kita juga harus belajar dari ketiga hamba yang dipercayakan talenta oleh tuannya,maksudnya adalah apa yang kita punyai Tuhan sudah percayakan kepada kita, mampukah kita untuk melipatgandakannya, secara intern adalah, mampukah kita membuat fasilitas, prasarana dan sarana yang kita miliki dapat berlipat ganda, karena semua itu kepercayaan yang Tuhan berikan kepada kita. Sehingga pelayanan kita menjadi lebih berkembang, dan sampai Tuhan berkata “Baik sekali perbuatan hai engkau Pos Pelayanan Brahrang, engkau telah setia terhadap perkara-perkara kecil, maka sekarang masuklah ke kebahagiaan tuanmu”.
Atau untuk hal yang ekstern, Tuhan berkata “Berapa jumlah jemaat yang kamu punyai hai Pos Pelayanan Methodist Brahrang?” ketika engkau menjawab sekian, Tuhan sudah mempercayakan yang sekian itu pada kita, pertanyaannya mampukah kita melipatgandakannya menjadi berkalikali lipat, sehingga kita menjadi hamba yang setia??.
Jadi renungkanlah, dan camkanlah,dan akhir kata bangkitlah, bersama-sama, dengan apa yang telah Tuhan percayakan, dan kembangkanlah itu bersama-sama, karena Tuhan sudah mempercayakan bukan kepada satu atau dua individu saja, tetapi kepada semua yang merasa terbeban untuk pengembangan Pos Pelayanan Methodist di Brahrang. (I Korintus 15:58)
Tuhan Yesus memberkati!!
Oleh: Ev. David Kandar, S.Th
(Penghujung September 2008, Pk. 22.40 Wib)
Tema : Prajurit Kristus dengan Senjata Rohani

KHOTBAH GMI GETSEMANI
Minggu, 21 September 2008
Tema : Prajurit Kristus dengan Senjata Rohani
Oleh: Ev. David Kandar, S.Th
(diterjemahkan dalam penyampaian melalui Bahasa Mandari oleh : Sdr. Kurniawan Leo)
2 Korintus 10:1-6
1.Aku, Paulus, seorang yang tidak berani bila berhadapan muka dengan kamu, tetapi berani terhadap kamu bila berjauhan, aku memperingatkan kamu demi Kristus yang lemah lembut dan ramah.
2.Aku meminta kepada kamu: jangan kamu memaksa aku untuk menunjukkan keberanianku dari dekat, sebagaimana aku berniat bertindak keras terhadap orang-orang tertentu yang menyangka, bahwa kami hidup secara duniawi.
3.Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi,
4. karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa
Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng.
5. Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus,
6.dan kami siap sedia juga untuk menghukum setiap kedurhakaan, bila ketaatan kamu telah menjadi sempurna.
Saudara/I yang Tuhan Yesus kasihi,
Panggilan sebagai hamba Tuhan atau pelayan Kristus adalah panggilan yang mulia, karena Allah sendiri yang memanggil, memilih dan mengutus seseorang untuk menjadi hambaNya untuk melakukan tugas pelayanan di dunia ini dan segala tanggung jawab seorang hamba adalah kepada Allah Sang pengutus.
Ketika pertama kali seseorang mendapat panggilan menjadi hamba Tuhan, biasanya ada kebanggan tersendiri, karena berharap akan mengalami keindahan dalam pelayanan. Mungkin harapan keindahan ini terinspirasi dari syair lagu :
“Kerja buat Tuhan terlalu manise, biar pikul salib terlalu manise…” atau terinspirasi melalui lagu “tiada lebih indah ku melayani Yesus, walaupun sukar dan berat jalannya…”
Tetapi pada kenyataan dilapangan pelayanan yang riil, keindahan tersebut sulit dinikmati, karena kenyataanya pelayanan akan diperhadapkan kepada berbagai tantangan, kesulitan, godaan dan cobaan. Pertanyaannya, masihkah seorang hamba Tuhan atau pelayan Kristus sanggup berharap akan keindahan pelayanan?.
Saudara/I yang Tuhan Yesus kasihi, dalam pelayanan akan ada banyak di temui dan dihadapi tantangan dan masalah. Mungkin jemaat tidak banyak memahami, seringkali sebagai hamba Tuhan menghadapi tantangan-tantangan diantaranya hamba Tuhan seringkali dalam tindakannya disalah mengerti karena jemaat seringkali menilai dengan sudut pandang duniawi, sedangkan hamba Tuhan harus kembali kepada prinsip Firman Tuhan, atau seringkali hamba Tuhan di tuduh, dicurigai, difitnah, bahkan diremehkan
(tentang diremehkan, ada contoh, di salah satu gereja, hamba Tuhannya hanya bergelar S.Th, sedangkan ketua majelisnya bergelar Doktor dalam bidang politik, dalam rapat, dalam pelayanan seringkali hamba Tuhan ini tidak dianggap, malah majelis yang bergelar Doktor ini yang sering mengambil langkah dalam pelayanan, bahkan sering melangkahi hamba Tuhan sendiri dan akhirnya mungkin menganggap dia sendiri yang ingin jadi pendetanya, mungkin karena merasa gelarnya Doktor padahal prinsip yang dia gunakan tidak sesuai digunakan di gereja, seharusnya gereja kembali kepada prinsip Firman Tuhan, dan yang dapat mengembalikan prinsip itu adalah hamba Tuhan yang mendalami manajemen dan organisasi gereja yang Alkitabiah). Belum lagi hamba Tuhan yang pelayanan dipedesaan tantangan ditambah lagi dengan masalah finansial, kebutuhan hidup, pendidikan anak-anak
(contohnya hamba Tuhan dipedalaman Kalimantan Barat..........).
Tetapi ternyata bukan hamba Tuhan saat ini yang hanya mengalami tantangan demikian, rasul Paulus juga mengalami tantangan dalam pelayanannya. Karena dalam ayat yang kita baca tadi merupakan pembelaan Paulus atas tantangan pelayanannya, yaitu tuduhan terhadap dirinya yang merebak dikalangan jemaat Korintus.
Beberapa tuduhannya yaitu : Paulus diragukan kerasulannya, dianggap penakut, tidak berani bila berhadapan muka, Paulus dituduh mementingkan diri sendiri, Paulus dituduh mencari keuntungan untuk dirinya sendiri. Dan semua tuduhan itu terangkum dalam ayat 2 yaitu Paulus dituduh masih”Hidup secara duniawi”.
Tetapi menghadapi tantangan demikian, Paulus tidak kebingungan, tetapi dengan tenang ia menjelaskan pembelaannya dalam ayat-ayat yang kita baca tadi.
Dari pembelaan Paulus, kita mendapatkan satu kebenaran yang sangat penting yaitu “PELAYANAN ADALAH PEPERANGAN ROHANI” oleh karena itu setiap hamba Tuhan harus menyadari bahwa dirinya adalah prajurit Kristus yang harus berperang dalam kerohanian dengan mengambil sikap sebagai seorang Prajurit Kristus yang baik.
Bagaimana sikap seorang prajurit Kristus yang baik?
CIRI SEORANG PRAJURIT KRISTUS YANG BAIK BERJUANG TOTAL KEPADA SANG PANGLIMA
Setiap Prajurit pasti memiliki komandan atau panglima tertinggi, begitu juga prajurit Kristus, panglima
atau komandannya adalah Kristus. Perhatikan
Efesus 6:12
“karena perjuangan kita bukanlah melawan
darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan
penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.”
2 Timotius 2:3-4
“Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus.
Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya,
supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.”
Inilah fokus hidup seorang hamba Tuhan sebagai prajurit Kristus, berkenan kepada komandannya atau
panglimanya yaitu Kristus.
Dalam pelayanannya Paulus menghadapi tantangan dari orang-orang yang ingin merusak pelayanannya dengan menuduh Paulus. Ini merupakan musuh rohani, tetapi menghadapi tantangan demikian Paulus tidak memakai cara-cara dunia untuk menghadapinya, karena jika demikian Paulus menyadari bahwa iblis akan mengambil keuntungan. Coba perhatikan yang Paulus katakan “aku memperingatkan kamu demi Kristus yang lemah lembut dan ramah”. Ini sikap Paulus menghadapi tantangan, meneladani Kristus sebagai panglimanya yang lemah lembut dan ramah. Paulus tidak bertindak keras dan kasar, tetapi Paulus menasehati mereka dengan hati Kristus yang penuh kasih, kesabaran dan kelemah lembutan. Paulus tidak mengandalkan emosinya tetapi meneladani karakter Kristus.
Bagaimana tantangan pelayanan saat ini:
Tantangannya seringkali hamba Tuhan, pelayan Tuhan, aktivis gereja tidak meneladani karakter/ ciri Kristus dalam menghadapi tantangan dalam pelayanan, banyak hamba Tuhan lebih taat kepada manusia dari pada kepada Kristus,
Karena karakter Kristus sebagai panglima digeser dengan panglima-panglima lain dalam gereja yang lebih banyak berperan, apa itu panglima dalam gereja atau komandan dalam gereja yang melebihi Kristus, yaitu orang-orang yang berkuasa karena jabatan, uang, posisi, kekayaan, dan keluarga, akhirnya yang dikuatirkan banyak hamba Tuhan yang lebih taat kepada yang demikian. Banyak hamba Tuhan saat ini karena ketua majelisnya adalah kakeknya, maka hamba Tuhan tersebut seenaknya sendiri dalam pelayanan, banyak hamba Tuhan saat ini yang karena uang akhirnya menghianati Kristus sebagai komandannya, dengan lebih taat kepada manusia. Ini jelas salah... karena pelayanan bukan mencari keuntungan duniawi.
CIRI SEORANG PRAJURIT KRISTUS BERJUANG DENGAN SENJATA ROHANI. (AYAT 3-4)
Walaupun tuduhan terhadap Paulus adalah dari manusia yaitu segelintir orang dari jemaat Korintus. Tetapi Paulus sadar bahwa perjuangannya adalah perjuangan rohani. Karena iblislah yang ada dibalik semua tuduhan itu. Sehingga menghadapi hal tersebut Paulus tidak memakai siasat duniawi. Tetapi Paulus memakai senjata rohani yang diperlengkapi dengan kuasa Kristus sebagai panglima.
(apa itu senjata rohani baca Efesus 6:13-17).
Senjata rohani tersebut lebih hebat dari dari senjata dunia, dalam ayat 3 dikatakan “senjata tersebut sanggup mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah.
Zaman Paulus Dalam budaya Yunani dan Romawi yang selalu mengagungkan hikmat, pada masa itu setiap permasalahan atau tuduhan dalam bidang politik dll akan diselesaikan dengan cara berdebat, karena budaya tersebut sangat mengagungkan retorika/ kefasihan berdebat, bisa saja Paulus dalam menghadapi tuduhan tersebut ia mendebat setiap tuduhan tersebut.Tetapi tidak demikian yang Paulus lakukan walaupun saya yakin Paulus mampu (karena Paulus murid Gamaliel...), ia tetap sabar karena ia tidak mau mengandalkan cara duniawi.
Bagaimana saat ini, ketika hamba Tuhan, pelayan Tuhan, aktivis gereja menghadapi tantangan zaman ini?
Saya ingin katakan hamba Tuhan juga mampu dan bisa saja menggunakan trik atau cara duniawi untuk menghadapi langsung setiap tantangan tersebut, tetapi ketika hamba Tuhan diam tidak melawan bukan berarti penakut, tidak berani mendobrak, tetapi kembali karakter Kristus yang diutamakan.
( kembali contoh cerita diatas tadi tentang salah satu gereja yang hamba Tuhannya hanya S.Th sedangkan ketua majelisnya Doktor politik, Bukan berarti hamba Tuhan yang hanya bergelar S.Th. tidak berani menghadapi Ketua Majelis yang “semau gue” itu, tetapi hamba Tuhan tersebut sadar cara duniawi akan dikalahkan dengan senjata Rohani, karena cara duniawi tidak kekal, dan tidak berkenan kepada Kristus sebagai sang komandan atau panglima.)
Ciri seorang prajurit Kristus yang baik adalah berjuang untuk kemuliaan Kristus sang panglima (ayat 5)
Inilah inti atau tujuan dari perjuangan menghadapi tantangan pelayanan sebagai hamba Tuhan, sebagai pelayan Tuhan sebagai aktivis gereja, yaitu untuk kemuliaan sang Panglima yaitu Kristus bukan untuk memegahkan diri sendiri. Hal ini semakin jelas jika kita membaca dari ps. 1, perhatikan kalimat “untuk kemuliaan Allah” demikian banyak tertulis. (pasal. 1:20, 4:6&15, 8:19, dsb.) Paulus memfokuskan pelayanannya untuk kemuliaan Allah yang dilayaninya. Motivasinya murni. Ia tidak bermaksud mencari keuntungan apapun dari pelayanannya (Pasal. 2:17). Semua semata-mata untuk kemuliaan Allah.
Jika yang Paulus kejar adalah harta, maka
ia tidak perlu melepaskan haknya untuk menerima tunjangan hidup dari gereja Korintus selama ia melayani di sana (2 Kor 11:7). Ia juga tidak perlu bersusah payah bekerja sebagai tukang kemah untuk mencukupi kebutuhannya dalam pelayanan (kis 18:4). Ia juga tidak perlu pergi memberitakan Injil kepada orang-orang Makedonia yang secara ekonomi mereka lemah. Itu hanya merupakan pemborosan uang.
Jika ia mengejar popularitas, maka lebih baik baginya untuk menjual kesaksian-kesaksiannya yang sangat penuh dengan pengalaman yang luar biasa, dari pada memberitakan Kristus yang justru membuatnya mengalami banyak kesengsaraan.
Jika yang dicarinya adalah kenikmatan hidup, ia tidak perlu menyusahkan diri dengan mengabarkan Injil Kristus yang membuatnya menjadi pencatat rekor sebagai yang paling sering dipenjarakan, mengalami hukuman dera di luar batas, sering berhadapan dengan ancaman maut, menerima 195 kali pukulan dari orang Yahudi, dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal dan terkatung-katung di laut sehari semalam. Kehidupannya sebelum berjumpa dengan Kristus lebih menjanjikan kenikmatan hidup. Ia juga tidak perlu menegur jemaat Korintus dalam kesalahan mereka dengan suratnya yang tajam, sehingga membuatnya disalah mengerti dan bahkan dituduh yang tidak-tidak.
Tetapi kita melihat bahwa pilihan Paulus adalah menjadi pelayan Kristus, prajurit Kristus, dan ia berjuang untuk kemuliaan tuannya. Urusan-urusan pribadinya, kepentingan-kepentingan pribadinya, kesenangan-kesenangan pribadinya, ambisi-ambisinya diabaikannya demi melayani Kristus, demi kemuliaan Allah. Ia telah menunjukkan kesetiaanya sebagai prajurit Kristus dalam perjuangan pelayanannya, sehingga menjelang akhir hidupnya ia dengan bangga dapat berkata, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan”. (2 Tim 4:7-8a) .
Saudara mungkin dalam sudut pandang atau kacamata dunia prinsip hamba Tuhan atau pelayan Tuhan ini adalah ciri prinsip yang bodoh, seperti tidak ada perlawanan, tetapi kalau kita kembali meneladani Kristus, bukankah perjuangan Kristus diatas kayu salib bagi dunia adalah suatu kebodohan, bahkan dinilai gagal oleh dunia. Menurut manusia juga kematian Yesus diatas kayu salib adalah hina, tetapi bagi Allah mulia, menurut manusia kematian Yesus memalukan, tetapi bagi Allah adalah kebanggaan, menurut manusia ketika Yesus mati diatas kayu salib Ia kalah total, tetapi bagi Allah itulah kemenangan Yesus. Oleh karena itu dalam pelayanan menghadapi tantangan apapun, menghadapi “panglima-panglima dunia” yang menggunakan cara duniawi, jangan gentar, sebagai prajurit Kristus yang baik, teladanilah Kristus, berjuang total untuk Kristus, pakailah senjata rohani, dan berjuang untuk kemuliaan Kristus, agar kita berkenan kepada Allah. Karena akhirnya upah kita nanti kita akan mendapat kemuliaan bersama dengan Kristus Sang panglima kita. Karena jerih payah dan perjuangan kita tidak akan sia-sia. AMIN (I Korintus 15 :58).
Minggu, 21 September 2008
Tema : Prajurit Kristus dengan Senjata Rohani
Oleh: Ev. David Kandar, S.Th
(diterjemahkan dalam penyampaian melalui Bahasa Mandari oleh : Sdr. Kurniawan Leo)
2 Korintus 10:1-6
1.Aku, Paulus, seorang yang tidak berani bila berhadapan muka dengan kamu, tetapi berani terhadap kamu bila berjauhan, aku memperingatkan kamu demi Kristus yang lemah lembut dan ramah.
2.Aku meminta kepada kamu: jangan kamu memaksa aku untuk menunjukkan keberanianku dari dekat, sebagaimana aku berniat bertindak keras terhadap orang-orang tertentu yang menyangka, bahwa kami hidup secara duniawi.
3.Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi,
4. karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa
Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng.
5. Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus,
6.dan kami siap sedia juga untuk menghukum setiap kedurhakaan, bila ketaatan kamu telah menjadi sempurna.
Saudara/I yang Tuhan Yesus kasihi,
Panggilan sebagai hamba Tuhan atau pelayan Kristus adalah panggilan yang mulia, karena Allah sendiri yang memanggil, memilih dan mengutus seseorang untuk menjadi hambaNya untuk melakukan tugas pelayanan di dunia ini dan segala tanggung jawab seorang hamba adalah kepada Allah Sang pengutus.
Ketika pertama kali seseorang mendapat panggilan menjadi hamba Tuhan, biasanya ada kebanggan tersendiri, karena berharap akan mengalami keindahan dalam pelayanan. Mungkin harapan keindahan ini terinspirasi dari syair lagu :
“Kerja buat Tuhan terlalu manise, biar pikul salib terlalu manise…” atau terinspirasi melalui lagu “tiada lebih indah ku melayani Yesus, walaupun sukar dan berat jalannya…”
Tetapi pada kenyataan dilapangan pelayanan yang riil, keindahan tersebut sulit dinikmati, karena kenyataanya pelayanan akan diperhadapkan kepada berbagai tantangan, kesulitan, godaan dan cobaan. Pertanyaannya, masihkah seorang hamba Tuhan atau pelayan Kristus sanggup berharap akan keindahan pelayanan?.
Saudara/I yang Tuhan Yesus kasihi, dalam pelayanan akan ada banyak di temui dan dihadapi tantangan dan masalah. Mungkin jemaat tidak banyak memahami, seringkali sebagai hamba Tuhan menghadapi tantangan-tantangan diantaranya hamba Tuhan seringkali dalam tindakannya disalah mengerti karena jemaat seringkali menilai dengan sudut pandang duniawi, sedangkan hamba Tuhan harus kembali kepada prinsip Firman Tuhan, atau seringkali hamba Tuhan di tuduh, dicurigai, difitnah, bahkan diremehkan
(tentang diremehkan, ada contoh, di salah satu gereja, hamba Tuhannya hanya bergelar S.Th, sedangkan ketua majelisnya bergelar Doktor dalam bidang politik, dalam rapat, dalam pelayanan seringkali hamba Tuhan ini tidak dianggap, malah majelis yang bergelar Doktor ini yang sering mengambil langkah dalam pelayanan, bahkan sering melangkahi hamba Tuhan sendiri dan akhirnya mungkin menganggap dia sendiri yang ingin jadi pendetanya, mungkin karena merasa gelarnya Doktor padahal prinsip yang dia gunakan tidak sesuai digunakan di gereja, seharusnya gereja kembali kepada prinsip Firman Tuhan, dan yang dapat mengembalikan prinsip itu adalah hamba Tuhan yang mendalami manajemen dan organisasi gereja yang Alkitabiah). Belum lagi hamba Tuhan yang pelayanan dipedesaan tantangan ditambah lagi dengan masalah finansial, kebutuhan hidup, pendidikan anak-anak
(contohnya hamba Tuhan dipedalaman Kalimantan Barat..........).
Tetapi ternyata bukan hamba Tuhan saat ini yang hanya mengalami tantangan demikian, rasul Paulus juga mengalami tantangan dalam pelayanannya. Karena dalam ayat yang kita baca tadi merupakan pembelaan Paulus atas tantangan pelayanannya, yaitu tuduhan terhadap dirinya yang merebak dikalangan jemaat Korintus.
Beberapa tuduhannya yaitu : Paulus diragukan kerasulannya, dianggap penakut, tidak berani bila berhadapan muka, Paulus dituduh mementingkan diri sendiri, Paulus dituduh mencari keuntungan untuk dirinya sendiri. Dan semua tuduhan itu terangkum dalam ayat 2 yaitu Paulus dituduh masih”Hidup secara duniawi”.
Tetapi menghadapi tantangan demikian, Paulus tidak kebingungan, tetapi dengan tenang ia menjelaskan pembelaannya dalam ayat-ayat yang kita baca tadi.
Dari pembelaan Paulus, kita mendapatkan satu kebenaran yang sangat penting yaitu “PELAYANAN ADALAH PEPERANGAN ROHANI” oleh karena itu setiap hamba Tuhan harus menyadari bahwa dirinya adalah prajurit Kristus yang harus berperang dalam kerohanian dengan mengambil sikap sebagai seorang Prajurit Kristus yang baik.
Bagaimana sikap seorang prajurit Kristus yang baik?
CIRI SEORANG PRAJURIT KRISTUS YANG BAIK BERJUANG TOTAL KEPADA SANG PANGLIMA
Setiap Prajurit pasti memiliki komandan atau panglima tertinggi, begitu juga prajurit Kristus, panglima
atau komandannya adalah Kristus. Perhatikan
Efesus 6:12
“karena perjuangan kita bukanlah melawan
darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan
penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.”
2 Timotius 2:3-4
“Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus.
Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya,
supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.”
Inilah fokus hidup seorang hamba Tuhan sebagai prajurit Kristus, berkenan kepada komandannya atau
panglimanya yaitu Kristus.
Dalam pelayanannya Paulus menghadapi tantangan dari orang-orang yang ingin merusak pelayanannya dengan menuduh Paulus. Ini merupakan musuh rohani, tetapi menghadapi tantangan demikian Paulus tidak memakai cara-cara dunia untuk menghadapinya, karena jika demikian Paulus menyadari bahwa iblis akan mengambil keuntungan. Coba perhatikan yang Paulus katakan “aku memperingatkan kamu demi Kristus yang lemah lembut dan ramah”. Ini sikap Paulus menghadapi tantangan, meneladani Kristus sebagai panglimanya yang lemah lembut dan ramah. Paulus tidak bertindak keras dan kasar, tetapi Paulus menasehati mereka dengan hati Kristus yang penuh kasih, kesabaran dan kelemah lembutan. Paulus tidak mengandalkan emosinya tetapi meneladani karakter Kristus.
Bagaimana tantangan pelayanan saat ini:
Tantangannya seringkali hamba Tuhan, pelayan Tuhan, aktivis gereja tidak meneladani karakter/ ciri Kristus dalam menghadapi tantangan dalam pelayanan, banyak hamba Tuhan lebih taat kepada manusia dari pada kepada Kristus,
Karena karakter Kristus sebagai panglima digeser dengan panglima-panglima lain dalam gereja yang lebih banyak berperan, apa itu panglima dalam gereja atau komandan dalam gereja yang melebihi Kristus, yaitu orang-orang yang berkuasa karena jabatan, uang, posisi, kekayaan, dan keluarga, akhirnya yang dikuatirkan banyak hamba Tuhan yang lebih taat kepada yang demikian. Banyak hamba Tuhan saat ini karena ketua majelisnya adalah kakeknya, maka hamba Tuhan tersebut seenaknya sendiri dalam pelayanan, banyak hamba Tuhan saat ini yang karena uang akhirnya menghianati Kristus sebagai komandannya, dengan lebih taat kepada manusia. Ini jelas salah... karena pelayanan bukan mencari keuntungan duniawi.
CIRI SEORANG PRAJURIT KRISTUS BERJUANG DENGAN SENJATA ROHANI. (AYAT 3-4)
Walaupun tuduhan terhadap Paulus adalah dari manusia yaitu segelintir orang dari jemaat Korintus. Tetapi Paulus sadar bahwa perjuangannya adalah perjuangan rohani. Karena iblislah yang ada dibalik semua tuduhan itu. Sehingga menghadapi hal tersebut Paulus tidak memakai siasat duniawi. Tetapi Paulus memakai senjata rohani yang diperlengkapi dengan kuasa Kristus sebagai panglima.
(apa itu senjata rohani baca Efesus 6:13-17).
Senjata rohani tersebut lebih hebat dari dari senjata dunia, dalam ayat 3 dikatakan “senjata tersebut sanggup mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah.
Zaman Paulus Dalam budaya Yunani dan Romawi yang selalu mengagungkan hikmat, pada masa itu setiap permasalahan atau tuduhan dalam bidang politik dll akan diselesaikan dengan cara berdebat, karena budaya tersebut sangat mengagungkan retorika/ kefasihan berdebat, bisa saja Paulus dalam menghadapi tuduhan tersebut ia mendebat setiap tuduhan tersebut.Tetapi tidak demikian yang Paulus lakukan walaupun saya yakin Paulus mampu (karena Paulus murid Gamaliel...), ia tetap sabar karena ia tidak mau mengandalkan cara duniawi.
Bagaimana saat ini, ketika hamba Tuhan, pelayan Tuhan, aktivis gereja menghadapi tantangan zaman ini?
Saya ingin katakan hamba Tuhan juga mampu dan bisa saja menggunakan trik atau cara duniawi untuk menghadapi langsung setiap tantangan tersebut, tetapi ketika hamba Tuhan diam tidak melawan bukan berarti penakut, tidak berani mendobrak, tetapi kembali karakter Kristus yang diutamakan.
( kembali contoh cerita diatas tadi tentang salah satu gereja yang hamba Tuhannya hanya S.Th sedangkan ketua majelisnya Doktor politik, Bukan berarti hamba Tuhan yang hanya bergelar S.Th. tidak berani menghadapi Ketua Majelis yang “semau gue” itu, tetapi hamba Tuhan tersebut sadar cara duniawi akan dikalahkan dengan senjata Rohani, karena cara duniawi tidak kekal, dan tidak berkenan kepada Kristus sebagai sang komandan atau panglima.)
Ciri seorang prajurit Kristus yang baik adalah berjuang untuk kemuliaan Kristus sang panglima (ayat 5)
Inilah inti atau tujuan dari perjuangan menghadapi tantangan pelayanan sebagai hamba Tuhan, sebagai pelayan Tuhan sebagai aktivis gereja, yaitu untuk kemuliaan sang Panglima yaitu Kristus bukan untuk memegahkan diri sendiri. Hal ini semakin jelas jika kita membaca dari ps. 1, perhatikan kalimat “untuk kemuliaan Allah” demikian banyak tertulis. (pasal. 1:20, 4:6&15, 8:19, dsb.) Paulus memfokuskan pelayanannya untuk kemuliaan Allah yang dilayaninya. Motivasinya murni. Ia tidak bermaksud mencari keuntungan apapun dari pelayanannya (Pasal. 2:17). Semua semata-mata untuk kemuliaan Allah.
Jika yang Paulus kejar adalah harta, maka
ia tidak perlu melepaskan haknya untuk menerima tunjangan hidup dari gereja Korintus selama ia melayani di sana (2 Kor 11:7). Ia juga tidak perlu bersusah payah bekerja sebagai tukang kemah untuk mencukupi kebutuhannya dalam pelayanan (kis 18:4). Ia juga tidak perlu pergi memberitakan Injil kepada orang-orang Makedonia yang secara ekonomi mereka lemah. Itu hanya merupakan pemborosan uang.
Jika ia mengejar popularitas, maka lebih baik baginya untuk menjual kesaksian-kesaksiannya yang sangat penuh dengan pengalaman yang luar biasa, dari pada memberitakan Kristus yang justru membuatnya mengalami banyak kesengsaraan.
Jika yang dicarinya adalah kenikmatan hidup, ia tidak perlu menyusahkan diri dengan mengabarkan Injil Kristus yang membuatnya menjadi pencatat rekor sebagai yang paling sering dipenjarakan, mengalami hukuman dera di luar batas, sering berhadapan dengan ancaman maut, menerima 195 kali pukulan dari orang Yahudi, dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal dan terkatung-katung di laut sehari semalam. Kehidupannya sebelum berjumpa dengan Kristus lebih menjanjikan kenikmatan hidup. Ia juga tidak perlu menegur jemaat Korintus dalam kesalahan mereka dengan suratnya yang tajam, sehingga membuatnya disalah mengerti dan bahkan dituduh yang tidak-tidak.
Tetapi kita melihat bahwa pilihan Paulus adalah menjadi pelayan Kristus, prajurit Kristus, dan ia berjuang untuk kemuliaan tuannya. Urusan-urusan pribadinya, kepentingan-kepentingan pribadinya, kesenangan-kesenangan pribadinya, ambisi-ambisinya diabaikannya demi melayani Kristus, demi kemuliaan Allah. Ia telah menunjukkan kesetiaanya sebagai prajurit Kristus dalam perjuangan pelayanannya, sehingga menjelang akhir hidupnya ia dengan bangga dapat berkata, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan”. (2 Tim 4:7-8a) .
Saudara mungkin dalam sudut pandang atau kacamata dunia prinsip hamba Tuhan atau pelayan Tuhan ini adalah ciri prinsip yang bodoh, seperti tidak ada perlawanan, tetapi kalau kita kembali meneladani Kristus, bukankah perjuangan Kristus diatas kayu salib bagi dunia adalah suatu kebodohan, bahkan dinilai gagal oleh dunia. Menurut manusia juga kematian Yesus diatas kayu salib adalah hina, tetapi bagi Allah mulia, menurut manusia kematian Yesus memalukan, tetapi bagi Allah adalah kebanggaan, menurut manusia ketika Yesus mati diatas kayu salib Ia kalah total, tetapi bagi Allah itulah kemenangan Yesus. Oleh karena itu dalam pelayanan menghadapi tantangan apapun, menghadapi “panglima-panglima dunia” yang menggunakan cara duniawi, jangan gentar, sebagai prajurit Kristus yang baik, teladanilah Kristus, berjuang total untuk Kristus, pakailah senjata rohani, dan berjuang untuk kemuliaan Kristus, agar kita berkenan kepada Allah. Karena akhirnya upah kita nanti kita akan mendapat kemuliaan bersama dengan Kristus Sang panglima kita. Karena jerih payah dan perjuangan kita tidak akan sia-sia. AMIN (I Korintus 15 :58).
Friday, July 11, 2008
“SEGALA SESUATU INDAH PADA WAKTUNYA”

Pengkhotbah 3:11aAda seorang pemuda meminta kepada Tuhan sekuntum bunga dan seekor kupu-kupu yang cantik, tetapi Tuhan memberikan lain daripada yang pemuda ini pinta. Tuhan hanya memberikan dia sebuah tanaman kaktus yang berduri dan seekor ulat yang menjijikkan. Pemuda tersebut terheran mengapa Tuhan memberikan jauh daripada apa yang ia pinta. Tetapi pemuda ini berusaha untuk memahami, bahwa mungkin Tuhan sibuk mengurusi umatNya yang begitu banyak, sehingga Tuhan salah memberikan. Akhirnya pemuda tersebut melupakan permintaannya itu. Beberapa waktu kemudian si pemuda tersebut ingat kembali apa yang pernah dipintanya dulu kepada Tuhan. Dan dia melihat dari kaktus yang berduri itu tumbuh sekuntum bunga yang cantik, dan dari ulat berbulu yang menjijikkan itu berubah menjadi seekor kupu-kupu yang cantik.
Saudara/ I, mungkinkah kita pernah mengalami seperti pemuda diatas, ketika kita meminta kepada Tuhan, dan Tuhan bukan menjawab apa yang kita pinta, melainkan memberikan jauh berbeda dari apa yang kita pinta.
Ada juga sebuah kisah yang hampir mirip dengan kisah pemuda diatas, ada seorang ibu yang mempunyai seorang anak laki-laki yang sangat nakal. Ibu ini selalu berdoa agar Tuhan mengubahkan anaknya menjadi anak yang baik. Ibu ini terus berdoa dengan rajin. Semakin rajin ibu ini berdoa, si anak bukan semakin baik, malah bertambah nakal. Sampai si ibu merasa putus asa dalam doanya. Suatu hari ketika si anaknya sudah tamat dari sekolah, anak itu meminta ijin kepada ibunya untuk merantau. Ibunya merasa berat untuk mengijinkan, karena berpikir bahwa pasti di tempat jauh nanti anaknya semakin nakal. Tetapi si anak tetap memaksa, akhirnya ibunya mengijinkan anak tersebut untuk merantau. Dengan berat hati ibu tersebut melepaskan kepergian anaknya itu. Tetapi ibu ini mengiringi kepergian anaknya dengan doa yang tak henti-henti agar Tuhan mengubahkan anaknya menjadi anak yang baik. Ibu ini dengan rajinnya terus berdoa, walaupun anaknya jauh daripadanya. Tahun berganti tahun tidak ada kabar dari anaknya, suatu hari pada hari minggu, anaknya pulang dan ibunya yang sedang dalam perjalanan pulang dari gereja mendengar anaknya pulang dan dengan tergesa-gesa ibu ini segera pulang kerumah, ditengah perjalanan ibu ini terus berpikir bagaimana keadaan anaknya yang nakal itu, dalam hatinya terbersit perasaan bahwa anaknya pasti bertambah nakal dan rusak. Tetapi lain dari dugaannya ketika dia melihat anaknya betapa kaget ibu ini, bahwa anaknya sudah membawa serta keluarganya, dan yang lebih kaget dilihatnya oleh ibunya bahwa si anak memakai baju hitam dan dileher anak nya dilihatnya sebuah tanda putih melingkar, saudara tahu apa artinya? Anak yang dahulunya nakal tersebut ternyata dia sudah menjadi hamba Tuhan, sudah menjadi pendeta. Dan anaknya tersebut mengunjungi ibunya langsung sepulang dia pelayanan di kota tersebut.
Saudara/I, apa yang dipinta oleh pemuda tadi dan apa yang didoakan oleh ibu tadi tentang anaknya yang nakal. Seolah-olah Tuhan sangat lambat menjawabnya bukan? Pemuda tadi perlu waktu yang sangat lama dan sabar menunggu kaktus berduri dan ulat itu berubah menjadi apa yang dipintanya. Si ibu tadi perlu dengan sabar berdoa dan menunggu selama bertahun-tahun untuk mendapatkan jawaban dari doanya yaitu Tuhan mengubahkan anaknya menjadi anak yang baik.
Saudara/I Tuhan bukannya lambat menjawab doa kita, tetapi Tuhan memberikan tepat pada waktunya dan tepat dengan apa yang kita butuhkan. Apa yang kita pinta dan doakan kepada Tuhan, jikalau kita menunggu jawaban doa tersebut dengan sabar, maka jawaban tersebut akan Tuhan berikan tepat pada waktunya. Jikalau kita meyakini bahwa Tuhan yang menciptakan kita, maka kita juga meyakini bahwa Tuhan jugalah yang mengerti segala jalan-jalan hidup kita, maka apa yang kita pinta dalam doa kita, Tuhan sudah mengetahuinya.
Maka tepatlah apa seperti kitab Pengkhotbah tuliskan : bahwa “Segala sesuatu indah pada waktunya”
Amin!!
By: Dave
4 TIPE HATI ORANG KRISTEN
Saudara/I yang Tuhan Yesus kasihi, Amsal 4 : 23 menuliskan “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan”.
Kita harus menjaga hati kita dengan hati-hati. karena sangat penting dalam kehidupan kita. Bahkan Alkitab berkata dari hati timbul yang jahat dan baik. Hati juga sangat berpengaruh pada segala keputusan. Masa depan juga tergantung dari hati bukan apa yang kita miliki. Salomo adalah raja paling kaya dan berhikmat. Sehingga secara manusia ia tidak mempunyai kekurangan. Tetapi masa depannya tidak terletak dari kekayaan / jabatan yang dimilikinya. Jangan kita bermegah karena kekayaan / kepintaran tetapi karena pengenalan akan Allah.
Rancangan Tuhan bukan kecelakaan tapi masa depan yang baik bagi kita. Kehidupan / masa depan yang baik tergantung pada hati kita. Oleh karena itu jagalah hati kita. Jabatan atau kepandaian tidak menjamin kehidupan yang baik. Sulaiman mendapatkan kesimpulan untuk kehidupan yang baik yaitu dengan menjaga hati. Yesus berkata berbahagialah orang yang hatinya dimurnikan karena mereka akan melihat Allah. Karena itu jaga hati kita dengan segala kewaspadaan. Mengapa hati perlu dijaga?
Dalam Matius 13 : 1-9, Yesus mengajar diatas perahu, karena datang orang banyak berbondong-bondong kepadaNya. Yang membuat orang orang datang berbondong-bondong kepada Tuhan karena ada firman Tuhan yang disampaikan Yesus.dan dijelaskan oleh Yesus tentang perumpamaan benih yang ditaburkan oleh penabur:
1 Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau. 2 Maka datanglah orang banyak berbondong bonding lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai. 3 Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. KataNya ;Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. 4 Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. 5 Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. 6 Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. 7 Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. 8 Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. 9 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!
Maksud Yesus akan perumpamaan itu adalah :
Matius 13 : 18-23
18 Karena itu, dengarlah arti perumpamaan penabur itu. 19 Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan. 20 Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. 21 Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad. 22 Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. 23 Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali Lipat.
Penabur = penyampai firman Tuhan; benih = firman Tuhan; tanah = hati manusia.
Tidak selalu benih yang ditabur berada ditanah yang subur, sehingga yang salah bukanlah penabur atau benih yang ditabur. Karena firman Allah selalu baik sebab memberikan kehidupan bagi yang menerima. Kesalahan adalah pada karakter tanah. Siapapun membutuhkan firman Tuhan. Banyak orang datang kepada Yesus karena membutuhkan firman. Tetapi semua orang mempunyai hati yang berbeda-beda. Tidak semua orang yang datang mempunyai hati yang murni. Ada yang datang karena hanya butuh makanan, dll. Itu terbukti ketika Yesus mati, banyak yang pulang kampong atau kembali kepada profesinya semula. Tetapi kita mempunyai kebutuhan yang sama yaitu firman Tuhan.
Ada 4 bentuk hati orang Kristen dalam hidupnya yang Tuhan Yesus ingin gambarkan dari perumpamaan ini:
1. Tanah yang dipinggir jalan.
Hati yang mendengar tetapi tidak mengerti sehingga firman itu bisa dicuri oleh iblis. Iblis bisa mencuri firman Tuhan karena :
Hal itu adalah pekerjaan iblis yang bertujuan untuk membinasakan kita.
Hati jenis ini tidak mengerti bahwa firman Tuhan itu mahal sehingga tidak menyimpannya dengan baik.
Iblis tahu firman Tuhan itu sangat berharga karena firman Tuhan itu berkuasa.
Orang benar hidup dari pendengaran akan firman Tuhan dan akan diuji. Sekarang banyak orang lapar akan firman
Tuhan. Jangan cari firman Tuhan bila pintu telah tertutup. Jadi bila ada kesempatan mari kita dengar firman Tuhan.
Daud mengatakan ia menyimpan firman Tuhan dalam hati. Karena itu kita harus menjaga hati kita untuk dapat mengerti firman Tuhan supaya firman itu tidak dicuri iblis.
2. Tanah yang berbatu-batu.
Hati yang mengerti firman Tuhan dan cepat untuk menyambut firman Tuhan tapi tidak tahan ketika ada pergumulan berat / persoalan. Bahkan ada yang menjadi murtad.
Tetapi kita meneladani teladan Janda di Sarfat adalah contoh orang yang mempunyai hati yang tahan terhadap persoalan. Saat orang lain tinggalkan Sarfat karena terjadi kekeringan sehinggga tidak ada makanan, janda ini tetap bertahan tinggal di Sarfat. Sehingga Tuhan menyuruh Elia ke Sarfat dan menemuinya. Walaupun Elia tahu disana tidak ada makanan namun Elia tetap taat.
Dan ketika janda ini taat pada perintah Elia, janda ini dipelihara oleh Tuhan ( I Raja-raja 17 : 7-16 ).
Kadang kita diberkati seperti janda ini, hanya cukup untuk hidup. Tetapi kadang Tuhan memberkati kita melimpah seperti Petrus saat menangkap ikan hingga perahunya hampir tenggelam oleh banyaknya ikan. Dan Petrus membagi berkat ini dengan temannya dengan memanggil temannya. Petrus ketika diberkati melimpah datang minta ampun kepada Tuhan, bukan menjadi bangga pada diri sendiri dan tidak pelit. Jadilah seperti Petrus ketika diberkati, bukan menjadi lupa diri.Kalau kita diberkati, panggil orang lain untuk berbagi berkat.
Ayub jujur dihadapan Tuhan, sehingga walau iblis mengambil semua yang dimilikinya, ia tetap kuat di dalam Tuhan. Kalau Tuhan berkati kita, mari kita bertobat dan melayani Tuhan. Kita ucapkan syukur dan bertahan dengan yang ada.
Jangan cepat layu karena persoalan. Segala yang membuat firman Tuhan tidak bisa hidup di hati kita, kita minta Tuhan cabut dari hidup kita.
3. Tanah yang penuh semak duri.
Walau ada firman Tuhan di hatinya, tetapi ia mudah terpengaruh / disesatkan dengan harta dunia / keadaan. Kita jangan main-main soal waktu dengan Tuhan. Karena kita tidak tahu waktu Tuhan datang / panggil kita. Kita harus tetap arif sehingga bila waktu Tuhan tiba, kita sudah siap.
4. Tanah yang baik.
Dimana benih firman itu dapat tumbuh bahkan berbuah berlipat ganda. Orang ini menyimpan firman dihatinya dan
melakukannya sehingga ia dapat menjadi berkat bagi orang lain. Dan melaluinya banyak orang datang kepada Tuhan.
Ada empat bentuk hati. Seperti apa hati kita? Hanya kita yang tahu. Dan mari kita berjaga-jaga dengan hati kita dengan
segala kewaspadaan. Bawa hati kita kepada Tuhan. Tuhan akan berkati kita sesuai dengan rencana Allah.
Kita harus menjaga hati kita dengan hati-hati. karena sangat penting dalam kehidupan kita. Bahkan Alkitab berkata dari hati timbul yang jahat dan baik. Hati juga sangat berpengaruh pada segala keputusan. Masa depan juga tergantung dari hati bukan apa yang kita miliki. Salomo adalah raja paling kaya dan berhikmat. Sehingga secara manusia ia tidak mempunyai kekurangan. Tetapi masa depannya tidak terletak dari kekayaan / jabatan yang dimilikinya. Jangan kita bermegah karena kekayaan / kepintaran tetapi karena pengenalan akan Allah.
Rancangan Tuhan bukan kecelakaan tapi masa depan yang baik bagi kita. Kehidupan / masa depan yang baik tergantung pada hati kita. Oleh karena itu jagalah hati kita. Jabatan atau kepandaian tidak menjamin kehidupan yang baik. Sulaiman mendapatkan kesimpulan untuk kehidupan yang baik yaitu dengan menjaga hati. Yesus berkata berbahagialah orang yang hatinya dimurnikan karena mereka akan melihat Allah. Karena itu jaga hati kita dengan segala kewaspadaan. Mengapa hati perlu dijaga?
Dalam Matius 13 : 1-9, Yesus mengajar diatas perahu, karena datang orang banyak berbondong-bondong kepadaNya. Yang membuat orang orang datang berbondong-bondong kepada Tuhan karena ada firman Tuhan yang disampaikan Yesus.dan dijelaskan oleh Yesus tentang perumpamaan benih yang ditaburkan oleh penabur:
1 Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau. 2 Maka datanglah orang banyak berbondong bonding lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai. 3 Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. KataNya ;Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. 4 Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. 5 Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. 6 Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. 7 Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. 8 Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. 9 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!
Maksud Yesus akan perumpamaan itu adalah :
Matius 13 : 18-23
18 Karena itu, dengarlah arti perumpamaan penabur itu. 19 Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan. 20 Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. 21 Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad. 22 Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. 23 Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali Lipat.
Penabur = penyampai firman Tuhan; benih = firman Tuhan; tanah = hati manusia.
Tidak selalu benih yang ditabur berada ditanah yang subur, sehingga yang salah bukanlah penabur atau benih yang ditabur. Karena firman Allah selalu baik sebab memberikan kehidupan bagi yang menerima. Kesalahan adalah pada karakter tanah. Siapapun membutuhkan firman Tuhan. Banyak orang datang kepada Yesus karena membutuhkan firman. Tetapi semua orang mempunyai hati yang berbeda-beda. Tidak semua orang yang datang mempunyai hati yang murni. Ada yang datang karena hanya butuh makanan, dll. Itu terbukti ketika Yesus mati, banyak yang pulang kampong atau kembali kepada profesinya semula. Tetapi kita mempunyai kebutuhan yang sama yaitu firman Tuhan.
Ada 4 bentuk hati orang Kristen dalam hidupnya yang Tuhan Yesus ingin gambarkan dari perumpamaan ini:
1. Tanah yang dipinggir jalan.
Hati yang mendengar tetapi tidak mengerti sehingga firman itu bisa dicuri oleh iblis. Iblis bisa mencuri firman Tuhan karena :
Hal itu adalah pekerjaan iblis yang bertujuan untuk membinasakan kita.
Hati jenis ini tidak mengerti bahwa firman Tuhan itu mahal sehingga tidak menyimpannya dengan baik.
Iblis tahu firman Tuhan itu sangat berharga karena firman Tuhan itu berkuasa.
Orang benar hidup dari pendengaran akan firman Tuhan dan akan diuji. Sekarang banyak orang lapar akan firman
Tuhan. Jangan cari firman Tuhan bila pintu telah tertutup. Jadi bila ada kesempatan mari kita dengar firman Tuhan.
Daud mengatakan ia menyimpan firman Tuhan dalam hati. Karena itu kita harus menjaga hati kita untuk dapat mengerti firman Tuhan supaya firman itu tidak dicuri iblis.
2. Tanah yang berbatu-batu.
Hati yang mengerti firman Tuhan dan cepat untuk menyambut firman Tuhan tapi tidak tahan ketika ada pergumulan berat / persoalan. Bahkan ada yang menjadi murtad.
Tetapi kita meneladani teladan Janda di Sarfat adalah contoh orang yang mempunyai hati yang tahan terhadap persoalan. Saat orang lain tinggalkan Sarfat karena terjadi kekeringan sehinggga tidak ada makanan, janda ini tetap bertahan tinggal di Sarfat. Sehingga Tuhan menyuruh Elia ke Sarfat dan menemuinya. Walaupun Elia tahu disana tidak ada makanan namun Elia tetap taat.
Dan ketika janda ini taat pada perintah Elia, janda ini dipelihara oleh Tuhan ( I Raja-raja 17 : 7-16 ).
Kadang kita diberkati seperti janda ini, hanya cukup untuk hidup. Tetapi kadang Tuhan memberkati kita melimpah seperti Petrus saat menangkap ikan hingga perahunya hampir tenggelam oleh banyaknya ikan. Dan Petrus membagi berkat ini dengan temannya dengan memanggil temannya. Petrus ketika diberkati melimpah datang minta ampun kepada Tuhan, bukan menjadi bangga pada diri sendiri dan tidak pelit. Jadilah seperti Petrus ketika diberkati, bukan menjadi lupa diri.Kalau kita diberkati, panggil orang lain untuk berbagi berkat.
Ayub jujur dihadapan Tuhan, sehingga walau iblis mengambil semua yang dimilikinya, ia tetap kuat di dalam Tuhan. Kalau Tuhan berkati kita, mari kita bertobat dan melayani Tuhan. Kita ucapkan syukur dan bertahan dengan yang ada.
Jangan cepat layu karena persoalan. Segala yang membuat firman Tuhan tidak bisa hidup di hati kita, kita minta Tuhan cabut dari hidup kita.
3. Tanah yang penuh semak duri.
Walau ada firman Tuhan di hatinya, tetapi ia mudah terpengaruh / disesatkan dengan harta dunia / keadaan. Kita jangan main-main soal waktu dengan Tuhan. Karena kita tidak tahu waktu Tuhan datang / panggil kita. Kita harus tetap arif sehingga bila waktu Tuhan tiba, kita sudah siap.
4. Tanah yang baik.
Dimana benih firman itu dapat tumbuh bahkan berbuah berlipat ganda. Orang ini menyimpan firman dihatinya dan
melakukannya sehingga ia dapat menjadi berkat bagi orang lain. Dan melaluinya banyak orang datang kepada Tuhan.
Ada empat bentuk hati. Seperti apa hati kita? Hanya kita yang tahu. Dan mari kita berjaga-jaga dengan hati kita dengan
segala kewaspadaan. Bawa hati kita kepada Tuhan. Tuhan akan berkati kita sesuai dengan rencana Allah.
Subscribe to:
Posts (Atom)

