SELAMAT DATANG

Selamat datang di blog saya, semoga anda diberkati, Tuhan Yesus mengasihi anda.
Jika membutuhkan pelayanan saya silahkan menghubungi email dave_kandar@yahoo.com; atau Hp. 0813-6409-5029.

Tentang saya

My photo
Pelayanan di Gereja Methodist Indonesia (GMI) Getsemani Binjai Sumatera Utara sebagai asistan gembala sidang dan gembala Pos Pelayanan di Brahrang (2004-2011). Gembala Sidang GMI Damai Sejahtera Jakarta Barat (2011-2013). Asistan gembala sidang di GMI Anugerah Batam (2013-2014). Gembala Sidang GMI Kana Marelan (2014-2015). Pimpinan Perguruan PKMI Methodist-10 TK-SD-SMP Belawan (2015-2018). Asistan Pimpinan Jemaat GMI Kanaan Medan (2018-2019). Pimpinan Perguruan PKMI 2 Kisaran Asahan (2019-2021). Gembala Sidang GMI Kanaan Medan (2021-2022). Pimpinan Perguruan PKMI Pangkalan Brandan dan Gembala Sidang GMI Pangkalan Brandan (2022- sekarang) Tinggal di Pangkalan Brandan Langkat dan melayani bersama istri Pdt. Delima Li En dan dikaruniai seorang anak Daud Kharis Delvidson Kandar.

Blog Archive

Saturday, September 27, 2008

Tema : Prajurit Kristus dengan Senjata Rohani


KHOTBAH GMI GETSEMANI
Minggu, 21 September 2008
Tema : Prajurit Kristus dengan Senjata Rohani
Oleh: Ev. David Kandar, S.Th
(diterjemahkan dalam penyampaian melalui Bahasa Mandari oleh : Sdr. Kurniawan Leo)

2 Korintus 10:1-6
1.Aku, Paulus, seorang yang tidak berani bila berhadapan muka dengan kamu, tetapi berani terhadap kamu bila berjauhan, aku memperingatkan kamu demi Kristus yang lemah lembut dan ramah.
2.Aku meminta kepada kamu: jangan kamu memaksa aku untuk menunjukkan keberanianku dari dekat, sebagaimana aku berniat bertindak keras terhadap orang-orang tertentu yang menyangka, bahwa kami hidup secara duniawi.
3.Memang kami masih hidup di dunia, tetapi kami tidak berjuang secara duniawi,
4. karena senjata kami dalam perjuangan bukanlah senjata duniawi, melainkan senjata yang diperlengkapi dengan kuasa
Allah, yang sanggup untuk meruntuhkan benteng-benteng.
5. Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Kristus,
6.dan kami siap sedia juga untuk menghukum setiap kedurhakaan, bila ketaatan kamu telah menjadi sempurna.

Saudara/I yang Tuhan Yesus kasihi,
Panggilan sebagai hamba Tuhan atau pelayan Kristus adalah panggilan yang mulia, karena Allah sendiri yang memanggil, memilih dan mengutus seseorang untuk menjadi hambaNya untuk melakukan tugas pelayanan di dunia ini dan segala tanggung jawab seorang hamba adalah kepada Allah Sang pengutus.

Ketika pertama kali seseorang mendapat panggilan menjadi hamba Tuhan, biasanya ada kebanggan tersendiri, karena berharap akan mengalami keindahan dalam pelayanan. Mungkin harapan keindahan ini terinspirasi dari syair lagu :
“Kerja buat Tuhan terlalu manise, biar pikul salib terlalu manise…” atau terinspirasi melalui lagu “tiada lebih indah ku melayani Yesus, walaupun sukar dan berat jalannya…”
Tetapi pada kenyataan dilapangan pelayanan yang riil, keindahan tersebut sulit dinikmati, karena kenyataanya pelayanan akan diperhadapkan kepada berbagai tantangan, kesulitan, godaan dan cobaan. Pertanyaannya, masihkah seorang hamba Tuhan atau pelayan Kristus sanggup berharap akan keindahan pelayanan?.
Saudara/I yang Tuhan Yesus kasihi, dalam pelayanan akan ada banyak di temui dan dihadapi tantangan dan masalah. Mungkin jemaat tidak banyak memahami, seringkali sebagai hamba Tuhan menghadapi tantangan-tantangan diantaranya hamba Tuhan seringkali dalam tindakannya disalah mengerti karena jemaat seringkali menilai dengan sudut pandang duniawi, sedangkan hamba Tuhan harus kembali kepada prinsip Firman Tuhan, atau seringkali hamba Tuhan di tuduh, dicurigai, difitnah, bahkan diremehkan
(tentang diremehkan, ada contoh, di salah satu gereja, hamba Tuhannya hanya bergelar S.Th, sedangkan ketua majelisnya bergelar Doktor dalam bidang politik, dalam rapat, dalam pelayanan seringkali hamba Tuhan ini tidak dianggap, malah majelis yang bergelar Doktor ini yang sering mengambil langkah dalam pelayanan, bahkan sering melangkahi hamba Tuhan sendiri dan akhirnya mungkin menganggap dia sendiri yang ingin jadi pendetanya, mungkin karena merasa gelarnya Doktor padahal prinsip yang dia gunakan tidak sesuai digunakan di gereja, seharusnya gereja kembali kepada prinsip Firman Tuhan, dan yang dapat mengembalikan prinsip itu adalah hamba Tuhan yang mendalami manajemen dan organisasi gereja yang Alkitabiah). Belum lagi hamba Tuhan yang pelayanan dipedesaan tantangan ditambah lagi dengan masalah finansial, kebutuhan hidup, pendidikan anak-anak
(contohnya hamba Tuhan dipedalaman Kalimantan Barat..........).
Tetapi ternyata bukan hamba Tuhan saat ini yang hanya mengalami tantangan demikian, rasul Paulus juga mengalami tantangan dalam pelayanannya. Karena dalam ayat yang kita baca tadi merupakan pembelaan Paulus atas tantangan pelayanannya, yaitu tuduhan terhadap dirinya yang merebak dikalangan jemaat Korintus.
Beberapa tuduhannya yaitu : Paulus diragukan kerasulannya, dianggap penakut, tidak berani bila berhadapan muka, Paulus dituduh mementingkan diri sendiri, Paulus dituduh mencari keuntungan untuk dirinya sendiri. Dan semua tuduhan itu terangkum dalam ayat 2 yaitu Paulus dituduh masih”Hidup secara duniawi”.
Tetapi menghadapi tantangan demikian, Paulus tidak kebingungan, tetapi dengan tenang ia menjelaskan pembelaannya dalam ayat-ayat yang kita baca tadi.
Dari pembelaan Paulus, kita mendapatkan satu kebenaran yang sangat penting yaitu “PELAYANAN ADALAH PEPERANGAN ROHANI” oleh karena itu setiap hamba Tuhan harus menyadari bahwa dirinya adalah prajurit Kristus yang harus berperang dalam kerohanian dengan mengambil sikap sebagai seorang Prajurit Kristus yang baik.
Bagaimana sikap seorang prajurit Kristus yang baik?

CIRI SEORANG PRAJURIT KRISTUS YANG BAIK BERJUANG TOTAL KEPADA SANG PANGLIMA
Setiap Prajurit pasti memiliki komandan atau panglima tertinggi, begitu juga prajurit Kristus, panglima
atau komandannya adalah Kristus. Perhatikan
Efesus 6:12
“karena perjuangan kita bukanlah melawan
darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan
penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.”
2 Timotius 2:3-4
“Ikutlah menderita sebagai seorang prajurit yang baik dari Kristus Yesus.
Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal-soal penghidupannya,
supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.”

Inilah fokus hidup seorang hamba Tuhan sebagai prajurit Kristus, berkenan kepada komandannya atau
panglimanya yaitu Kristus.
Dalam pelayanannya Paulus menghadapi tantangan dari orang-orang yang ingin merusak pelayanannya dengan menuduh Paulus. Ini merupakan musuh rohani, tetapi menghadapi tantangan demikian Paulus tidak memakai cara-cara dunia untuk menghadapinya, karena jika demikian Paulus menyadari bahwa iblis akan mengambil keuntungan. Coba perhatikan yang Paulus katakan “aku memperingatkan kamu demi Kristus yang lemah lembut dan ramah”. Ini sikap Paulus menghadapi tantangan, meneladani Kristus sebagai panglimanya yang lemah lembut dan ramah. Paulus tidak bertindak keras dan kasar, tetapi Paulus menasehati mereka dengan hati Kristus yang penuh kasih, kesabaran dan kelemah lembutan. Paulus tidak mengandalkan emosinya tetapi meneladani karakter Kristus.
Bagaimana tantangan pelayanan saat ini:
Tantangannya seringkali hamba Tuhan, pelayan Tuhan, aktivis gereja tidak meneladani karakter/ ciri Kristus dalam menghadapi tantangan dalam pelayanan, banyak hamba Tuhan lebih taat kepada manusia dari pada kepada Kristus,
Karena karakter Kristus sebagai panglima digeser dengan panglima-panglima lain dalam gereja yang lebih banyak berperan, apa itu panglima dalam gereja atau komandan dalam gereja yang melebihi Kristus, yaitu orang-orang yang berkuasa karena jabatan, uang, posisi, kekayaan, dan keluarga, akhirnya yang dikuatirkan banyak hamba Tuhan yang lebih taat kepada yang demikian. Banyak hamba Tuhan saat ini karena ketua majelisnya adalah kakeknya, maka hamba Tuhan tersebut seenaknya sendiri dalam pelayanan, banyak hamba Tuhan saat ini yang karena uang akhirnya menghianati Kristus sebagai komandannya, dengan lebih taat kepada manusia. Ini jelas salah... karena pelayanan bukan mencari keuntungan duniawi.

CIRI SEORANG PRAJURIT KRISTUS BERJUANG DENGAN SENJATA ROHANI. (AYAT 3-4)
Walaupun tuduhan terhadap Paulus adalah dari manusia yaitu segelintir orang dari jemaat Korintus. Tetapi Paulus sadar bahwa perjuangannya adalah perjuangan rohani. Karena iblislah yang ada dibalik semua tuduhan itu. Sehingga menghadapi hal tersebut Paulus tidak memakai siasat duniawi. Tetapi Paulus memakai senjata rohani yang diperlengkapi dengan kuasa Kristus sebagai panglima.
(apa itu senjata rohani baca Efesus 6:13-17).
Senjata rohani tersebut lebih hebat dari dari senjata dunia, dalam ayat 3 dikatakan “senjata tersebut sanggup mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah.
Zaman Paulus Dalam budaya Yunani dan Romawi yang selalu mengagungkan hikmat, pada masa itu setiap permasalahan atau tuduhan dalam bidang politik dll akan diselesaikan dengan cara berdebat, karena budaya tersebut sangat mengagungkan retorika/ kefasihan berdebat, bisa saja Paulus dalam menghadapi tuduhan tersebut ia mendebat setiap tuduhan tersebut.Tetapi tidak demikian yang Paulus lakukan walaupun saya yakin Paulus mampu (karena Paulus murid Gamaliel...), ia tetap sabar karena ia tidak mau mengandalkan cara duniawi.
Bagaimana saat ini, ketika hamba Tuhan, pelayan Tuhan, aktivis gereja menghadapi tantangan zaman ini?
Saya ingin katakan hamba Tuhan juga mampu dan bisa saja menggunakan trik atau cara duniawi untuk menghadapi langsung setiap tantangan tersebut, tetapi ketika hamba Tuhan diam tidak melawan bukan berarti penakut, tidak berani mendobrak, tetapi kembali karakter Kristus yang diutamakan.
( kembali contoh cerita diatas tadi tentang salah satu gereja yang hamba Tuhannya hanya S.Th sedangkan ketua majelisnya Doktor politik, Bukan berarti hamba Tuhan yang hanya bergelar S.Th. tidak berani menghadapi Ketua Majelis yang “semau gue” itu, tetapi hamba Tuhan tersebut sadar cara duniawi akan dikalahkan dengan senjata Rohani, karena cara duniawi tidak kekal, dan tidak berkenan kepada Kristus sebagai sang komandan atau panglima.)

Ciri seorang prajurit Kristus yang baik adalah berjuang untuk kemuliaan Kristus sang panglima (ayat 5)
Inilah inti atau tujuan dari perjuangan menghadapi tantangan pelayanan sebagai hamba Tuhan, sebagai pelayan Tuhan sebagai aktivis gereja, yaitu untuk kemuliaan sang Panglima yaitu Kristus bukan untuk memegahkan diri sendiri. Hal ini semakin jelas jika kita membaca dari ps. 1, perhatikan kalimat “untuk kemuliaan Allah” demikian banyak tertulis. (pasal. 1:20, 4:6&15, 8:19, dsb.) Paulus memfokuskan pelayanannya untuk kemuliaan Allah yang dilayaninya. Motivasinya murni. Ia tidak bermaksud mencari keuntungan apapun dari pelayanannya (Pasal. 2:17). Semua semata-mata untuk kemuliaan Allah.
Jika yang Paulus kejar adalah harta, maka
ia tidak perlu melepaskan haknya untuk menerima tunjangan hidup dari gereja Korintus selama ia melayani di sana (2 Kor 11:7). Ia juga tidak perlu bersusah payah bekerja sebagai tukang kemah untuk mencukupi kebutuhannya dalam pelayanan (kis 18:4). Ia juga tidak perlu pergi memberitakan Injil kepada orang-orang Makedonia yang secara ekonomi mereka lemah. Itu hanya merupakan pemborosan uang.
Jika ia mengejar popularitas, maka lebih baik baginya untuk menjual kesaksian-kesaksiannya yang sangat penuh dengan pengalaman yang luar biasa, dari pada memberitakan Kristus yang justru membuatnya mengalami banyak kesengsaraan.
Jika yang dicarinya adalah kenikmatan hidup, ia tidak perlu menyusahkan diri dengan mengabarkan Injil Kristus yang membuatnya menjadi pencatat rekor sebagai yang paling sering dipenjarakan, mengalami hukuman dera di luar batas, sering berhadapan dengan ancaman maut, menerima 195 kali pukulan dari orang Yahudi, dilempari dengan batu, tiga kali mengalami karam kapal dan terkatung-katung di laut sehari semalam. Kehidupannya sebelum berjumpa dengan Kristus lebih menjanjikan kenikmatan hidup. Ia juga tidak perlu menegur jemaat Korintus dalam kesalahan mereka dengan suratnya yang tajam, sehingga membuatnya disalah mengerti dan bahkan dituduh yang tidak-tidak.
Tetapi kita melihat bahwa pilihan Paulus adalah menjadi pelayan Kristus, prajurit Kristus, dan ia berjuang untuk kemuliaan tuannya. Urusan-urusan pribadinya, kepentingan-kepentingan pribadinya, kesenangan-kesenangan pribadinya, ambisi-ambisinya diabaikannya demi melayani Kristus, demi kemuliaan Allah. Ia telah menunjukkan kesetiaanya sebagai prajurit Kristus dalam perjuangan pelayanannya, sehingga menjelang akhir hidupnya ia dengan bangga dapat berkata, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan”. (2 Tim 4:7-8a) .
Saudara mungkin dalam sudut pandang atau kacamata dunia prinsip hamba Tuhan atau pelayan Tuhan ini adalah ciri prinsip yang bodoh, seperti tidak ada perlawanan, tetapi kalau kita kembali meneladani Kristus, bukankah perjuangan Kristus diatas kayu salib bagi dunia adalah suatu kebodohan, bahkan dinilai gagal oleh dunia. Menurut manusia juga kematian Yesus diatas kayu salib adalah hina, tetapi bagi Allah mulia, menurut manusia kematian Yesus memalukan, tetapi bagi Allah adalah kebanggaan, menurut manusia ketika Yesus mati diatas kayu salib Ia kalah total, tetapi bagi Allah itulah kemenangan Yesus. Oleh karena itu dalam pelayanan menghadapi tantangan apapun, menghadapi “panglima-panglima dunia” yang menggunakan cara duniawi, jangan gentar, sebagai prajurit Kristus yang baik, teladanilah Kristus, berjuang total untuk Kristus, pakailah senjata rohani, dan berjuang untuk kemuliaan Kristus, agar kita berkenan kepada Allah. Karena akhirnya upah kita nanti kita akan mendapat kemuliaan bersama dengan Kristus Sang panglima kita. Karena jerih payah dan perjuangan kita tidak akan sia-sia. AMIN (I Korintus 15 :58).





Friday, July 11, 2008

“SEGALA SESUATU INDAH PADA WAKTUNYA”


Pengkhotbah 3:11a
Ada seorang pemuda meminta kepada Tuhan sekuntum bunga dan seekor kupu-kupu yang cantik, tetapi Tuhan memberikan lain daripada yang pemuda ini pinta. Tuhan hanya memberikan dia sebuah tanaman kaktus yang berduri dan seekor ulat yang menjijikkan. Pemuda tersebut terheran mengapa Tuhan memberikan jauh daripada apa yang ia pinta. Tetapi pemuda ini berusaha untuk memahami, bahwa mungkin Tuhan sibuk mengurusi umatNya yang begitu banyak, sehingga Tuhan salah memberikan. Akhirnya pemuda tersebut melupakan permintaannya itu. Beberapa waktu kemudian si pemuda tersebut ingat kembali apa yang pernah dipintanya dulu kepada Tuhan. Dan dia melihat dari kaktus yang berduri itu tumbuh sekuntum bunga yang cantik, dan dari ulat berbulu yang menjijikkan itu berubah menjadi seekor kupu-kupu yang cantik.
Saudara/ I, mungkinkah kita pernah mengalami seperti pemuda diatas, ketika kita meminta kepada Tuhan, dan Tuhan bukan menjawab apa yang kita pinta, melainkan memberikan jauh berbeda dari apa yang kita pinta.
Ada juga sebuah kisah yang hampir mirip dengan kisah pemuda diatas, ada seorang ibu yang mempunyai seorang anak laki-laki yang sangat nakal. Ibu ini selalu berdoa agar Tuhan mengubahkan anaknya menjadi anak yang baik. Ibu ini terus berdoa dengan rajin. Semakin rajin ibu ini berdoa, si anak bukan semakin baik, malah bertambah nakal. Sampai si ibu merasa putus asa dalam doanya. Suatu hari ketika si anaknya sudah tamat dari sekolah, anak itu meminta ijin kepada ibunya untuk merantau. Ibunya merasa berat untuk mengijinkan, karena berpikir bahwa pasti di tempat jauh nanti anaknya semakin nakal. Tetapi si anak tetap memaksa, akhirnya ibunya mengijinkan anak tersebut untuk merantau. Dengan berat hati ibu tersebut melepaskan kepergian anaknya itu. Tetapi ibu ini mengiringi kepergian anaknya dengan doa yang tak henti-henti agar Tuhan mengubahkan anaknya menjadi anak yang baik. Ibu ini dengan rajinnya terus berdoa, walaupun anaknya jauh daripadanya. Tahun berganti tahun tidak ada kabar dari anaknya, suatu hari pada hari minggu, anaknya pulang dan ibunya yang sedang dalam perjalanan pulang dari gereja mendengar anaknya pulang dan dengan tergesa-gesa ibu ini segera pulang kerumah, ditengah perjalanan ibu ini terus berpikir bagaimana keadaan anaknya yang nakal itu, dalam hatinya terbersit perasaan bahwa anaknya pasti bertambah nakal dan rusak. Tetapi lain dari dugaannya ketika dia melihat anaknya betapa kaget ibu ini, bahwa anaknya sudah membawa serta keluarganya, dan yang lebih kaget dilihatnya oleh ibunya bahwa si anak memakai baju hitam dan dileher anak nya dilihatnya sebuah tanda putih melingkar, saudara tahu apa artinya? Anak yang dahulunya nakal tersebut ternyata dia sudah menjadi hamba Tuhan, sudah menjadi pendeta. Dan anaknya tersebut mengunjungi ibunya langsung sepulang dia pelayanan di kota tersebut.
Saudara/I, apa yang dipinta oleh pemuda tadi dan apa yang didoakan oleh ibu tadi tentang anaknya yang nakal. Seolah-olah Tuhan sangat lambat menjawabnya bukan? Pemuda tadi perlu waktu yang sangat lama dan sabar menunggu kaktus berduri dan ulat itu berubah menjadi apa yang dipintanya. Si ibu tadi perlu dengan sabar berdoa dan menunggu selama bertahun-tahun untuk mendapatkan jawaban dari doanya yaitu Tuhan mengubahkan anaknya menjadi anak yang baik.
Saudara/I Tuhan bukannya lambat menjawab doa kita, tetapi Tuhan memberikan tepat pada waktunya dan tepat dengan apa yang kita butuhkan. Apa yang kita pinta dan doakan kepada Tuhan, jikalau kita menunggu jawaban doa tersebut dengan sabar, maka jawaban tersebut akan Tuhan berikan tepat pada waktunya. Jikalau kita meyakini bahwa Tuhan yang menciptakan kita, maka kita juga meyakini bahwa Tuhan jugalah yang mengerti segala jalan-jalan hidup kita, maka apa yang kita pinta dalam doa kita, Tuhan sudah mengetahuinya.
Maka tepatlah apa seperti kitab Pengkhotbah tuliskan : bahwa “Segala sesuatu indah pada waktunya”
Amin!!
By: Dave

4 TIPE HATI ORANG KRISTEN

Saudara/I yang Tuhan Yesus kasihi, Amsal 4 : 23 menuliskan “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan”.
Kita harus menjaga hati kita dengan hati-hati. karena sangat penting dalam kehidupan kita. Bahkan Alkitab berkata dari hati timbul yang jahat dan baik. Hati juga sangat berpengaruh pada segala keputusan. Masa depan juga tergantung dari hati bukan apa yang kita miliki. Salomo adalah raja paling kaya dan berhikmat. Sehingga secara manusia ia tidak mempunyai kekurangan. Tetapi masa depannya tidak terletak dari kekayaan / jabatan yang dimilikinya. Jangan kita bermegah karena kekayaan / kepintaran tetapi karena pengenalan akan Allah.
Rancangan Tuhan bukan kecelakaan tapi masa depan yang baik bagi kita. Kehidupan / masa depan yang baik tergantung pada hati kita. Oleh karena itu jagalah hati kita. Jabatan atau kepandaian tidak menjamin kehidupan yang baik. Sulaiman mendapatkan kesimpulan untuk kehidupan yang baik yaitu dengan menjaga hati. Yesus berkata berbahagialah orang yang hatinya dimurnikan karena mereka akan melihat Allah. Karena itu jaga hati kita dengan segala kewaspadaan. Mengapa hati perlu dijaga?

Dalam Matius 13 : 1-9, Yesus mengajar diatas perahu, karena datang orang banyak berbondong-bondong kepadaNya. Yang membuat orang orang datang berbondong-bondong kepada Tuhan karena ada firman Tuhan yang disampaikan Yesus.dan dijelaskan oleh Yesus tentang perumpamaan benih yang ditaburkan oleh penabur:
1 Pada hari itu keluarlah Yesus dari rumah itu dan duduk di tepi danau. 2 Maka datanglah orang banyak berbondong bonding lalu mengerumuni Dia, sehingga Ia naik ke perahu dan duduk di situ, sedangkan orang banyak semuanya berdiri di pantai. 3 Dan Ia mengucapkan banyak hal dalam perumpamaan kepada mereka. KataNya ;Adalah seorang penabur keluar untuk menabur. 4 Pada waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. 5 Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. 6 Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. 7 Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. 8 Dan sebagian jatuh di tanah yang baik lalu berbuah: ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali lipat. 9 Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!
Maksud Yesus akan perumpamaan itu adalah :


Matius 13 : 18-23
18 Karena itu, dengarlah arti perumpamaan penabur itu. 19 Kepada setiap orang yang mendengar firman tentang Kerajaan Sorga, tetapi tidak mengertinya, datanglah si jahat dan merampas yang ditaburkan dalam hati orang itu; itulah benih yang ditaburkan di pinggir jalan. 20 Benih yang ditaburkan di tanah yang berbatu-batu ialah orang yang mendengar firman itu dan segera menerimanya dengan gembira. 21 Tetapi ia tidak berakar dan tahan sebentar saja. Apabila datang penindasan atau penganiayaan karena firman itu, orang itupun segera murtad. 22 Yang ditaburkan di tengah semak duri ialah orang yang mendengar firman itu, lalu kekuatiran dunia ini dan tipu daya kekayaan menghimpit firman itu sehingga tidak berbuah. 23 Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh kali Lipat.
Penabur = penyampai firman Tuhan; benih = firman Tuhan; tanah = hati manusia.
Tidak selalu benih yang ditabur berada ditanah yang subur, sehingga yang salah bukanlah penabur atau benih yang ditabur. Karena firman Allah selalu baik sebab memberikan kehidupan bagi yang menerima. Kesalahan adalah pada karakter tanah. Siapapun membutuhkan firman Tuhan. Banyak orang datang kepada Yesus karena membutuhkan firman. Tetapi semua orang mempunyai hati yang berbeda-beda. Tidak semua orang yang datang mempunyai hati yang murni. Ada yang datang karena hanya butuh makanan, dll. Itu terbukti ketika Yesus mati, banyak yang pulang kampong atau kembali kepada profesinya semula. Tetapi kita mempunyai kebutuhan yang sama yaitu firman Tuhan.
Ada 4 bentuk hati orang Kristen dalam hidupnya yang Tuhan Yesus ingin gambarkan dari perumpamaan ini:
1. Tanah yang dipinggir jalan.
Hati yang mendengar tetapi tidak mengerti sehingga firman itu bisa dicuri oleh iblis. Iblis bisa mencuri firman Tuhan karena :
Hal itu adalah pekerjaan iblis yang bertujuan untuk membinasakan kita.
Hati jenis ini tidak mengerti bahwa firman Tuhan itu mahal sehingga tidak menyimpannya dengan baik.
Iblis tahu firman Tuhan itu sangat berharga karena firman Tuhan itu berkuasa.
Orang benar hidup dari pendengaran akan firman Tuhan dan akan diuji. Sekarang banyak orang lapar akan firman
Tuhan. Jangan cari firman Tuhan bila pintu telah tertutup. Jadi bila ada kesempatan mari kita dengar firman Tuhan.
Daud mengatakan ia menyimpan firman Tuhan dalam hati. Karena itu kita harus menjaga hati kita untuk dapat mengerti firman Tuhan supaya firman itu tidak dicuri iblis.

2. Tanah yang berbatu-batu.
Hati yang mengerti firman Tuhan dan cepat untuk menyambut firman Tuhan tapi tidak tahan ketika ada pergumulan berat / persoalan. Bahkan ada yang menjadi murtad.
Tetapi kita meneladani teladan Janda di Sarfat adalah contoh orang yang mempunyai hati yang tahan terhadap persoalan. Saat orang lain tinggalkan Sarfat karena terjadi kekeringan sehinggga tidak ada makanan, janda ini tetap bertahan tinggal di Sarfat. Sehingga Tuhan menyuruh Elia ke Sarfat dan menemuinya. Walaupun Elia tahu disana tidak ada makanan namun Elia tetap taat.
Dan ketika janda ini taat pada perintah Elia, janda ini dipelihara oleh Tuhan ( I Raja-raja 17 : 7-16 ).
Kadang kita diberkati seperti janda ini, hanya cukup untuk hidup. Tetapi kadang Tuhan memberkati kita melimpah seperti Petrus saat menangkap ikan hingga perahunya hampir tenggelam oleh banyaknya ikan. Dan Petrus membagi berkat ini dengan temannya dengan memanggil temannya. Petrus ketika diberkati melimpah datang minta ampun kepada Tuhan, bukan menjadi bangga pada diri sendiri dan tidak pelit. Jadilah seperti Petrus ketika diberkati, bukan menjadi lupa diri.Kalau kita diberkati, panggil orang lain untuk berbagi berkat.
Ayub jujur dihadapan Tuhan, sehingga walau iblis mengambil semua yang dimilikinya, ia tetap kuat di dalam Tuhan. Kalau Tuhan berkati kita, mari kita bertobat dan melayani Tuhan. Kita ucapkan syukur dan bertahan dengan yang ada.
Jangan cepat layu karena persoalan. Segala yang membuat firman Tuhan tidak bisa hidup di hati kita, kita minta Tuhan cabut dari hidup kita.
3. Tanah yang penuh semak duri.
Walau ada firman Tuhan di hatinya, tetapi ia mudah terpengaruh / disesatkan dengan harta dunia / keadaan. Kita jangan main-main soal waktu dengan Tuhan. Karena kita tidak tahu waktu Tuhan datang / panggil kita. Kita harus tetap arif sehingga bila waktu Tuhan tiba, kita sudah siap.
4. Tanah yang baik.
Dimana benih firman itu dapat tumbuh bahkan berbuah berlipat ganda. Orang ini menyimpan firman dihatinya dan
melakukannya sehingga ia dapat menjadi berkat bagi orang lain. Dan melaluinya banyak orang datang kepada Tuhan.
Ada empat bentuk hati. Seperti apa hati kita? Hanya kita yang tahu. Dan mari kita berjaga-jaga dengan hati kita dengan
segala kewaspadaan. Bawa hati kita kepada Tuhan. Tuhan akan berkati kita sesuai dengan rencana Allah.

"TELAH LUNAS DENGAN SEGELAS SUSU"


Suatu hari, seorang anak lelaki miskin yang hidup dari menjual asongan dari pintu ke pintu,
menemukan bahwa dikantongnya hanya tersisa beberapa sen uangnya, dan dia sangat lapar.
Anak lelaki tersebut memutuskan untuk meminta makanan dari rumah berikutnya.
Akan tetapi anak itu kehilangan keberanian saat seorang wanita muda membuka pintu rumah.
Anak itu tidak jadi meminta makanan, ia hanya berani meminta segelas air.
Wanita muda tersebut melihat, dan berpikir bahwa anak lelaki tersebut pastilah lapar, oleh karena
itu ia membawakan segelas besar susu, Anak lelaki itu meminumnya dengan lambat, dan kemudian bertanya
" berapa saya harus membayar untuk segelas besar susu ini ?"
Wanita itu menjawab : "Kamu tidak perlu membayar apapun".
"Ibu kami mengajarkan untuk tidak menerima bayaran untuk kebaikan"
kata wanita itu menambahkan.
Anak lelaki itu kemudian menghabiskan susunya dan berkata :
" Dari dalam hatiku aku berterima kasih pada anda."

Sekian tahun kemudian, wanita muda itu tersebut, mengalami sakit yang sangat kritis.
Para dokter dikota itu sudah tidak sanggup menanganinya. Mereka akhirnya mengirimnya ke kota besar,
di mana terdapat dokter spesialis yang mampu menangani penyakit Langkah tersebut.

Dr. Howard Kelly di panggil untuk melakukan pemeriksaan. Pada saat ia mendengar nama kota asal si wanita tersebut,
terbesit seberkas pancaran aneh pada mata dokter Kelly. Segera ia bangkit dan bergegas turun melalui hall rumah sakit,
menuju kamar si wanita tersebut.
Dengan berpakaian jubah kedokteran ia menemui si wanita itu. Ia langsung mengenali si wanita itu pada sekali pandang.
Ia kemudian kembali ke ruang konsultasi dan memutuskan untuk melakukan upaya terbaik untuk menyelamatkan nyawa wanita itu.
Mulai hari itu, Ia selalu memberikan perhatian khusus pada kasus wanita itu.
Setelah melalui perjuangan yang panjang, akhirnya diperoleh kemenangan...... Wanita itu sembuh !!.
Dr, Kelly meminta bagian keuangan rumah sakit untuk mengirimkan seluruh tagihan biaya pengobatan kepadanya untuk persetujuan.
Dr. Kelly melihatnya, dan menuliskan sesuatu pada pojok atas lembar tagihan, dan mengirimkannya ke kamar pasien.
Wanita itu takut untuk membuka tagihan tersebut, Ia sangat yakin bahwa Ia tak akan mampu membayar tagihan tersebut walaupun harus dicicil seumur hidupnya.
Akhirnya Ia memberanikan diri untuk membaca tagihan tersebut,
Dan ada sesuatu yang menarik perhatiannya pada pojok atas lembar tagihan tersebut, Ia membaca tulisan yang berbunyi:

" Telah dibayar lunas dengan segelas besar susu. . ." tertanda, DR Howard Kelly.

Air mata kebahagian membanjiri matanya. Ia berdoa :

" TUHAN, terima kasih, bahwa cintamu telah memenuhi seleuruh bumi melalui hati dan tangan manusia. "

Tuesday, July 1, 2008

SOSIALISASI POLITIK YANG MENYESATKAN

Dimuat pada Harian Seputar Indonesia, 21 Juni 2008 Sosialisasi Politik yang MenyesatkanOleh Victor Silaen Di bidang politik, tak dapat disangkal bahwa Indonesia pasca-Soeharto telah mengalami banyak perubahan. Proses reformasi dan demokratisasi yang tahun ini genap memasuki usia sepuluh tahun kian menjadikan Indonesia sebentuk negara modern, yang di dalamnya setiap warga negara dapat menikmati kebebasannya untuk berpartisipasi politik. Hal ini tentu patut disyukuri, karena partisipasi politik rakyat yang tinggi niscaya mereduksi kesewenang-wenangan para penyelenggara negara dalam membuat maupun melaksanakan kebijakan publik. Namun, tingginya partisipasi politik di satu sisi idealnya diikuti dengan sosialisasi politik yang intensif, benar dan baik di sisi yang lain. Agar dengan demikian, terjadi perimbangan sinergis yang niscaya membuat politik Indonesia kian modern sekaligus tetap berada di jalurnya.Sosialisasi politik itu sendiri dapat diartikan sebagai proses penanaman nilai, pengetahuan, dan orientasi politik kepada seluruh warga negara. Ia harus dilakukan secara intensif, dalam arti setiap saat dan berkesinambungan. Di sinilah pers berperan penting sebagai "penyambung lidah" para agen sosialisasi politik. Tak terbayang bagaimana rasanya jika sehari terlewat tanpa pers. Kita bisa terlambat mendapatkan pengetahuan tentang apa yang terjadi, isu apa yang mencuat ke publik, kebijakan apa yang disahkan, dan pelbagai hal lain dalam kaitannya dengan proses politik yang terus-menerus bergulir.Sosialisasi politik juga harus berjalan secara benar, dalam arti semua nilai, pengetahuan, dan orientasi politik yang diinternalisasikan kepada seluruh warga negara jangan sampai menyesatkan atau menyimpang dari hakikat keindonesiaan sesuai dasar negara dan konstitusi. Sedangkan sosialisasi politik yang baik, itu berarti upaya-upaya yang dilakukan dalam rangka itu haruslah bersifat dialogis dan bukan indoktriner seperti yang terjadi di era Orde Baru.Lalu, siapakah yang menjadi agen-agen sosialisasi politik itu? Siapa saja bisa, entah para penyelenggara negara, lembaga-lembaga kuasi-negara, partai politik, maupun orang-orang biasa.
Namun, dikarenakan budaya masyarakat Indonesia yang masih bercorak bapakisme, maka umumnya rakyat lebih mendengar apa kata para pemimpin, elit politik, dan mereka yang dianggap sebagai tokoh masyarakat.Dalam kaitan itulah saya ingin mengingatkan siapa pun, yang oleh pers dijadikan "news maker" karena seringnya dimintai komentar maupun pendapat, agar bijak dan berhati-hati. Sebab, apa pun yang mereka katakan bukan tak mungkin dijadikan acuan kebenaran oleh masyarakat luas. Dengan kata lain, apa yang bersumber dari mereka secara langsung maupun tidak langsung bisa saja menjadi sosialisasi politik. Kalau benar, itu bagus. Tapi kalau tidak, bukankah itu bisa berdampak negatif bagi masyarakat?Ada dua contoh kasus yang ingin saya kemukakan dalam kaitan itu. Pertama, apa yang dikatakan Dr Eggi Sudjana SH, M.Si, dalam talkshow di salah satu stasiun teve swasta pasca-SKB Ahmadiyah. Saat itu Eggi mengatakan, dasar negara Indonesia bukanlah Pancasila. Ia mengacu pada Pasal 29 UUD 45 ayat 1 yang menyebutkan: "Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa". Menurut Eggi, Tuhan yang dimaksud itu Allah SWT, yang karena itu merujuk pada Islam. Benarkah demikian?Jelas tidak. Karena, ayat 1 tersebut harus disandingkan dengan ayat 2 yang menyebutkan: "Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu." Jadi, jelas tidak boleh ada monopoli tafsir tentang "ketuhanan" dalam konteks ini.Memang, rumusan Pancasila versi Piagam Jakarta (yang menyebut-nyebut syariat Islam) pernah diusulkan menjadi dasar negara sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945. Namun, bukankah jelas bahwa akhirnya Pancasila yang disahkan sebagai dasar negara Indonesia pada 18 Agustus 1945 dan berlaku sampai sekarang adalah Pancasila yang netral-agama? Dan Pancasila itu sendiri tidaklah terdiri atas satu sila saja, melainkan lima. Jadi, bukan hanya soal ketuhanan yang penting, tetapi juga kemanusiaan, persatuan, keadilan, dan kerakyatan. Semua konsep penting itu saling terkait dan tak terpisahkan, menjadi dasar negara Indonesia. Jadi, mengapa harus dibelokkan dengan mengatakan bahwa negara Indonesia berdasar ketuhanan?Adalah sebuah kesalahan fatal jika menganggap Indonesia adalah negara agama atau negara berdasarkan agama. Sebagai bangsa pun, keanekaragaman sudah menjadi ciri Indonesia sejak dulu. Inilah anugerah yang bukan saja harus disadari, tetapi juga disyukuri dan dirawat terus-menerus oleh seluruh warga negara Indonesia.Contoh kedua adalah apa yang dikatakan oleh Menteri Agama Maftuh Basyuni di saat rapat kerja tentang SKB Ahmadiyah di Komisi VIII DPR, 12 Juni lalu. Saat itu, menanggapi anggota dewan dari Fraksi PDS Tiurlan Hutagaol yang berbicara sebelumnya, Maftuh meminta kelompok nonmuslim untuk tidak mencampuri masalah Ahmadiyah. Sebab, menurut Maftuh, orang di luar Islam tidak memahami masalah sebenarnya.Inilah yang patut kita sesalkan. Pertama, karena persoalan Ahmadiyah seharusnya dipandang sebagai persoalan bersama dalam kaitannya dengan kebebasan beragama dan berkeyakinan yang dijamin konstitusi. Atas dasar itulah kita mengkritik pihak-pihak yang berupaya mempersempit ruang-lingkup persoalan ini sehingga menjadi eksklusif.Kedua, apakah Maftuh berbicara dalam kapasitasnya sebagai seorang pejabat tinggi negara atau sebagai seorang muslim? Dengan siapakah Maftuh mengadakan raker saat itu, dengan kelompok muslim atau dengan anggota dewan yang mewakili rakyat Indonesia yang bermacam-macam agamanya? Sungguh mengherankan mengapa seorang menteri, yang mestinya mampu bersikap dan berpikir sebagaimana layaknya seorang negarawan, sampai mengeluarkan pernyataan yang parsialistik seperti itu. Tidak sadarkah Maftuh bahwa ia berada di kabinet, dan memimpin sebuah departemen, dalam kapasitasnya sebagai salah satu pemimpin pemerintahan dan bukan sebagai pemimpin umat?Apa boleh buat, kita harus mengingatkan para pemimpin agar tak henti-hentinya belajar sehingga tidak berparadigma naif dan berpolapikir parsialistik. Para pemimpin seharusnya mampu memerankan diri sebagai negarawan sejati dengan etika kenegarawanan (the ethic of statemanship) yang benar. Setidaknya hal itu niscaya terpancar di dalam dua hal ini: selalu merasa diri sebagai pemimpin bagi semua warga negara Indonesia dan pelayan bagi semua warga negara Indonesia. Dengan demikianlah mereka niscaya dapat menjadi panutan yang baik bagi rakyat. Sehingga, rakyat pun niscaya memiliki kemampuan bertoleransi di tengah masyarakat yang majemuk. Rakyat niscaya juga memiliki etika sebagai warga negara (the ethic of citizenship) yang benar, yang di tengah kehidupan bermasyarakat mampu memandang sesama warga negara Indonesia sebagai saudara sebangsa dan setanahair, dan bukan sebagai sesama seagama.Kembali pada sosialisasi politik, ihwal Pancasila agaknya memang masih harus disosialisasikan secara intensif. Agar kita semua betul-betul menyadari bahwa Pancasila adalah dasar negara kita, yang berarti harus dijadikan acuan dan pedoman utama di dalam kehidupan bernegara. Pancasila adalah juga ideologi kita, yang karena itu harus mewarnai seluruh falsafah hidup kita sebagai warga negara Indonesia. Memang, ideologi-ideologi lain boleh saja ada, namun dalam konteks kehidupan bernegara dan sebagai warga negara,
Pancasila haruslah mengatasi ideologi-ideologi yang lain itu.

MAMPUKAH KITA MENCINTAI SUAMI/ ISTRI KITA TANPA SYARAT

Sebuah renungan, Semoga bermanfaat. MAMPUKAH KITA MENCINTAI ISTRI / SUAMI KITA TANPA SYARAT???
Ini cerita Nyata, beliau adalah Bp. Eko Pratomo, Direktur Fortis Asset Management yg sangat terkenal di kalangan Pasar Modal dan Investment, beliau juga sangat sukses dlm memajukan industri Reksadana di Indonesia . Apa yg diutarakan beliau adalah Sangat Benar sekali. Silahkan baca dan dihayati.
*MAMPUKAH KITA MENCINTAI TANPA SYARAT* (sebuah perenungan) Buat para suami/ calon suami baca ya..... istri & calon istri juga boleh..
Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam,Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Mereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi. Setiap hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah. Pada suatu hari ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil. Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata " Pak kami ingin sekali merawat ibu semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak....... ..bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu" . dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya "sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian". Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka." Anak2ku ......... Jikalau perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah..... .tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian.. sejenak kerongkongannya tersekat,... kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat menghargai dengan apapun. coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti Ini. Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yg masih sakit." Sejenak meledaklah tangis anak2 pak suyatno merekapun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata ibu Suyatno.. dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu.. Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa2.. disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru disitulah Pak Suyatno bercerita. "Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi ( memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian ) adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2.. Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama..dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit,,,"
BILA ANDA MERASA BAHAN RENUNGAN INI SANGAT BERMANFAAT BAGI ANDA DAN BAGI ORANG LAIN, MOHON KIRIM EMAIL INI KE TEMAN, FAMILY DAN KERABAT ANDA LAINNYA, SEMOGA BERMANFAAT .
TUHAN YESUS MEMBERKATI

SETIAP LANGKAH ADALAH ANUGERAH

Seorang professor diundang untuk berbicara di sebuah basis militer. Di sana , ia berjumpa dengan seorang prajurit yang tak mungkin dilupakannya, Ralph, penjemputnya di bandara. Setelah saling memperkenalkan diri, mereka menuju tempat pengambi lan bagasi.Ketika berjalan keluar, Ralph sering menghilang. Banyak hal dilakukannya. Ia membantu seorang wanita tua yang kopornya jatuh dan terbuka, kemudian mengangkat dua anak kecil agar mereka dapat melihat sinterklas.Ia juga menolong orang yang tersesat dengan menunjukkan arah yang benar. Setiap kali, ia kembali ke sisi sang professor dengan senyum lebar menghiasi wajahnya. Dari mana Anda belajar melakukan semua hal itu ? tanya sang professor.Melakukan apa ? tanya Ralph.Dari mana Anda belajar untuk hidup seperti itu ? desak sang professor.Oh, kata Ralph, selama perang ..... Saya kira, perang telah mengajari saya banyak hal.Lalu ia menuturkan kisah perjalanan tugasnya di Vietnam. Juga tentang tugasnya saat membersihkan ladang ranjau, dan bagaimana ia harus menyaksikan satu persatu temannya tewas terkena ledakan ranjau di depan matanya.Saya belajar untuk hidup di antara pijakan setiap langkah. katanya ......Saya tidak pernah tahu, apakah langkah berikutnya adalah pijakan terakhir, sehingga saya belajar untuk melakukan segala sesuatu yang sanggup saya lakukan tatkala mengangkat dan memijakkan kaki serta mensyukuri langkah sebelumnya.Setiap langkah yang saya ayunkan merupakan sebuah dunia baru, dan saya kira sejak saat itulah saya menjalani kehidupan seperti ini. Kelimpahan hidup tidak ditentukan oleh berapa lama kita hidup, tetapi sejauh mana kita menjalani kehidupan yang bermakna bagi orang lain.Nilai manusia ......tidak ditentukan dengan bagaimana ia mati, melainkan bagaimana ia hidup.Kekayaan manusia bukan apa yang ia peroleh, melainkan apa yang telah ia berikan.Selamat menikmati setiap langkah hidup Anda dan BERSYUKURLAH SETIAP SAAT .......Banyak orang berpikir bagaimana mengubah dunia ini.Hanya sedikit yang memikirkan bagaimana mengubah dirinya sendiri..
(from: Centia)