SELAMAT DATANG

Selamat datang di blog saya, semoga anda diberkati, Tuhan Yesus mengasihi anda.
Jika membutuhkan pelayanan saya silahkan menghubungi email dave_kandar@yahoo.com; atau Hp. 0813-6409-5029.

Tentang saya

My photo
Pelayanan di Gereja Methodist Indonesia (GMI) Getsemani Binjai Sumatera Utara sebagai asistan gembala sidang dan gembala Pos Pelayanan di Brahrang (2004-2011). Gembala Sidang GMI Damai Sejahtera Jakarta Barat (2011-2013). Asistan gembala sidang di GMI Anugerah Batam (2013-2014). Gembala Sidang GMI Kana Marelan (2014-2015). Pimpinan Perguruan PKMI Methodist-10 TK-SD-SMP Belawan (2015-2018). Asistan Pimpinan Jemaat GMI Kanaan Medan (2018-2019). Pimpinan Perguruan PKMI 2 Kisaran Asahan (2019-2021). Gembala Sidang GMI Kanaan Medan (2021-2022). Pimpinan Perguruan PKMI Pangkalan Brandan dan Gembala Sidang GMI Pangkalan Brandan (2022- sekarang) Tinggal di Pangkalan Brandan Langkat dan melayani bersama istri Pdt. Delima Li En dan dikaruniai seorang anak Daud Kharis Delvidson Kandar.

Blog Archive

Tuesday, July 1, 2008

SOSIALISASI POLITIK YANG MENYESATKAN

Dimuat pada Harian Seputar Indonesia, 21 Juni 2008 Sosialisasi Politik yang MenyesatkanOleh Victor Silaen Di bidang politik, tak dapat disangkal bahwa Indonesia pasca-Soeharto telah mengalami banyak perubahan. Proses reformasi dan demokratisasi yang tahun ini genap memasuki usia sepuluh tahun kian menjadikan Indonesia sebentuk negara modern, yang di dalamnya setiap warga negara dapat menikmati kebebasannya untuk berpartisipasi politik. Hal ini tentu patut disyukuri, karena partisipasi politik rakyat yang tinggi niscaya mereduksi kesewenang-wenangan para penyelenggara negara dalam membuat maupun melaksanakan kebijakan publik. Namun, tingginya partisipasi politik di satu sisi idealnya diikuti dengan sosialisasi politik yang intensif, benar dan baik di sisi yang lain. Agar dengan demikian, terjadi perimbangan sinergis yang niscaya membuat politik Indonesia kian modern sekaligus tetap berada di jalurnya.Sosialisasi politik itu sendiri dapat diartikan sebagai proses penanaman nilai, pengetahuan, dan orientasi politik kepada seluruh warga negara. Ia harus dilakukan secara intensif, dalam arti setiap saat dan berkesinambungan. Di sinilah pers berperan penting sebagai "penyambung lidah" para agen sosialisasi politik. Tak terbayang bagaimana rasanya jika sehari terlewat tanpa pers. Kita bisa terlambat mendapatkan pengetahuan tentang apa yang terjadi, isu apa yang mencuat ke publik, kebijakan apa yang disahkan, dan pelbagai hal lain dalam kaitannya dengan proses politik yang terus-menerus bergulir.Sosialisasi politik juga harus berjalan secara benar, dalam arti semua nilai, pengetahuan, dan orientasi politik yang diinternalisasikan kepada seluruh warga negara jangan sampai menyesatkan atau menyimpang dari hakikat keindonesiaan sesuai dasar negara dan konstitusi. Sedangkan sosialisasi politik yang baik, itu berarti upaya-upaya yang dilakukan dalam rangka itu haruslah bersifat dialogis dan bukan indoktriner seperti yang terjadi di era Orde Baru.Lalu, siapakah yang menjadi agen-agen sosialisasi politik itu? Siapa saja bisa, entah para penyelenggara negara, lembaga-lembaga kuasi-negara, partai politik, maupun orang-orang biasa.
Namun, dikarenakan budaya masyarakat Indonesia yang masih bercorak bapakisme, maka umumnya rakyat lebih mendengar apa kata para pemimpin, elit politik, dan mereka yang dianggap sebagai tokoh masyarakat.Dalam kaitan itulah saya ingin mengingatkan siapa pun, yang oleh pers dijadikan "news maker" karena seringnya dimintai komentar maupun pendapat, agar bijak dan berhati-hati. Sebab, apa pun yang mereka katakan bukan tak mungkin dijadikan acuan kebenaran oleh masyarakat luas. Dengan kata lain, apa yang bersumber dari mereka secara langsung maupun tidak langsung bisa saja menjadi sosialisasi politik. Kalau benar, itu bagus. Tapi kalau tidak, bukankah itu bisa berdampak negatif bagi masyarakat?Ada dua contoh kasus yang ingin saya kemukakan dalam kaitan itu. Pertama, apa yang dikatakan Dr Eggi Sudjana SH, M.Si, dalam talkshow di salah satu stasiun teve swasta pasca-SKB Ahmadiyah. Saat itu Eggi mengatakan, dasar negara Indonesia bukanlah Pancasila. Ia mengacu pada Pasal 29 UUD 45 ayat 1 yang menyebutkan: "Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa". Menurut Eggi, Tuhan yang dimaksud itu Allah SWT, yang karena itu merujuk pada Islam. Benarkah demikian?Jelas tidak. Karena, ayat 1 tersebut harus disandingkan dengan ayat 2 yang menyebutkan: "Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya dan untuk beribadat menurut agama dan kepercayaannya itu." Jadi, jelas tidak boleh ada monopoli tafsir tentang "ketuhanan" dalam konteks ini.Memang, rumusan Pancasila versi Piagam Jakarta (yang menyebut-nyebut syariat Islam) pernah diusulkan menjadi dasar negara sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945. Namun, bukankah jelas bahwa akhirnya Pancasila yang disahkan sebagai dasar negara Indonesia pada 18 Agustus 1945 dan berlaku sampai sekarang adalah Pancasila yang netral-agama? Dan Pancasila itu sendiri tidaklah terdiri atas satu sila saja, melainkan lima. Jadi, bukan hanya soal ketuhanan yang penting, tetapi juga kemanusiaan, persatuan, keadilan, dan kerakyatan. Semua konsep penting itu saling terkait dan tak terpisahkan, menjadi dasar negara Indonesia. Jadi, mengapa harus dibelokkan dengan mengatakan bahwa negara Indonesia berdasar ketuhanan?Adalah sebuah kesalahan fatal jika menganggap Indonesia adalah negara agama atau negara berdasarkan agama. Sebagai bangsa pun, keanekaragaman sudah menjadi ciri Indonesia sejak dulu. Inilah anugerah yang bukan saja harus disadari, tetapi juga disyukuri dan dirawat terus-menerus oleh seluruh warga negara Indonesia.Contoh kedua adalah apa yang dikatakan oleh Menteri Agama Maftuh Basyuni di saat rapat kerja tentang SKB Ahmadiyah di Komisi VIII DPR, 12 Juni lalu. Saat itu, menanggapi anggota dewan dari Fraksi PDS Tiurlan Hutagaol yang berbicara sebelumnya, Maftuh meminta kelompok nonmuslim untuk tidak mencampuri masalah Ahmadiyah. Sebab, menurut Maftuh, orang di luar Islam tidak memahami masalah sebenarnya.Inilah yang patut kita sesalkan. Pertama, karena persoalan Ahmadiyah seharusnya dipandang sebagai persoalan bersama dalam kaitannya dengan kebebasan beragama dan berkeyakinan yang dijamin konstitusi. Atas dasar itulah kita mengkritik pihak-pihak yang berupaya mempersempit ruang-lingkup persoalan ini sehingga menjadi eksklusif.Kedua, apakah Maftuh berbicara dalam kapasitasnya sebagai seorang pejabat tinggi negara atau sebagai seorang muslim? Dengan siapakah Maftuh mengadakan raker saat itu, dengan kelompok muslim atau dengan anggota dewan yang mewakili rakyat Indonesia yang bermacam-macam agamanya? Sungguh mengherankan mengapa seorang menteri, yang mestinya mampu bersikap dan berpikir sebagaimana layaknya seorang negarawan, sampai mengeluarkan pernyataan yang parsialistik seperti itu. Tidak sadarkah Maftuh bahwa ia berada di kabinet, dan memimpin sebuah departemen, dalam kapasitasnya sebagai salah satu pemimpin pemerintahan dan bukan sebagai pemimpin umat?Apa boleh buat, kita harus mengingatkan para pemimpin agar tak henti-hentinya belajar sehingga tidak berparadigma naif dan berpolapikir parsialistik. Para pemimpin seharusnya mampu memerankan diri sebagai negarawan sejati dengan etika kenegarawanan (the ethic of statemanship) yang benar. Setidaknya hal itu niscaya terpancar di dalam dua hal ini: selalu merasa diri sebagai pemimpin bagi semua warga negara Indonesia dan pelayan bagi semua warga negara Indonesia. Dengan demikianlah mereka niscaya dapat menjadi panutan yang baik bagi rakyat. Sehingga, rakyat pun niscaya memiliki kemampuan bertoleransi di tengah masyarakat yang majemuk. Rakyat niscaya juga memiliki etika sebagai warga negara (the ethic of citizenship) yang benar, yang di tengah kehidupan bermasyarakat mampu memandang sesama warga negara Indonesia sebagai saudara sebangsa dan setanahair, dan bukan sebagai sesama seagama.Kembali pada sosialisasi politik, ihwal Pancasila agaknya memang masih harus disosialisasikan secara intensif. Agar kita semua betul-betul menyadari bahwa Pancasila adalah dasar negara kita, yang berarti harus dijadikan acuan dan pedoman utama di dalam kehidupan bernegara. Pancasila adalah juga ideologi kita, yang karena itu harus mewarnai seluruh falsafah hidup kita sebagai warga negara Indonesia. Memang, ideologi-ideologi lain boleh saja ada, namun dalam konteks kehidupan bernegara dan sebagai warga negara,
Pancasila haruslah mengatasi ideologi-ideologi yang lain itu.

MAMPUKAH KITA MENCINTAI SUAMI/ ISTRI KITA TANPA SYARAT

Sebuah renungan, Semoga bermanfaat. MAMPUKAH KITA MENCINTAI ISTRI / SUAMI KITA TANPA SYARAT???
Ini cerita Nyata, beliau adalah Bp. Eko Pratomo, Direktur Fortis Asset Management yg sangat terkenal di kalangan Pasar Modal dan Investment, beliau juga sangat sukses dlm memajukan industri Reksadana di Indonesia . Apa yg diutarakan beliau adalah Sangat Benar sekali. Silahkan baca dan dihayati.
*MAMPUKAH KITA MENCINTAI TANPA SYARAT* (sebuah perenungan) Buat para suami/ calon suami baca ya..... istri & calon istri juga boleh..
Dilihat dari usianya beliau sudah tidak muda lagi, usia yg sudah senja bahkan sudah mendekati malam,Pak Suyatno 58 tahun kesehariannya diisi dengan merawat istrinya yang sakit istrinya juga sudah tua. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Mereka dikarunia 4 orang anak disinilah awal cobaan menerpa, setelah istrinya melahirkan anak ke empat tiba2 kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi. Setiap hari pak suyatno memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi, dan mengangkat istrinya keatas tempat tidur. Sebelum berangkat kerja dia letakkan istrinya didepan TV supaya istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya tidak dapat bicara tapi dia selalu melihat istrinya tersenyum, untunglah tempat usaha pak suyatno tidak begitu jauh dari rumahnya sehingga siang hari dia pulang untuk menyuapi istrinya makan siang. sorenya dia pulang memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa2 saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa memandang tapi tidak bisa menanggapi, Pak Suyatno sudah cukup senang bahkan dia selalu menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun, dengan sabar dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke empat buah hati mereka, sekarang anak2 mereka sudah dewasa tinggal si bungsu yg masih kuliah. Pada suatu hari ke empat anak suyatno berkumpul dirumah orang tua mereka sambil menjenguk ibunya. Karena setelah anak mereka menikah sudah tinggal dengan keluarga masing2 dan Pak Suyatno memutuskan ibu mereka dia yg merawat, yang dia inginkan hanya satu semua anaknya berhasil. Dengan kalimat yg cukup hati2 anak yg sulung berkata " Pak kami ingin sekali merawat ibu semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak....... ..bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu" . dengan air mata berlinang anak itu melanjutkan kata2nya "sudah yg keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak dengan berkorban seperti ini kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji kami akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian". Pak Suyatno menjawab hal yg sama sekali tidak diduga anak2 mereka." Anak2ku ......... Jikalau perkawinan & hidup didunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah..... .tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian disampingku itu sudah lebih dari cukup, dia telah melahirkan kalian.. sejenak kerongkongannya tersekat,... kalian yg selalu kurindukan hadir didunia ini dengan penuh cinta yg tidak satupun dapat menghargai dengan apapun. coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti Ini. Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya sekarang, kalian menginginkan bapak yg masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yg masih sakit." Sejenak meledaklah tangis anak2 pak suyatno merekapun melihat butiran2 kecil jatuh dipelupuk mata ibu Suyatno.. dengan pilu ditatapnya mata suami yg sangat dicintainya itu.. Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa2.. disaat itulah meledak tangis beliau dengan tamu yg hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru disitulah Pak Suyatno bercerita. "Jika manusia didunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi ( memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian ) adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 orang anak yg lucu2.. Sekarang dia sakit karena berkorban untuk cinta kita bersama..dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit,,,"
BILA ANDA MERASA BAHAN RENUNGAN INI SANGAT BERMANFAAT BAGI ANDA DAN BAGI ORANG LAIN, MOHON KIRIM EMAIL INI KE TEMAN, FAMILY DAN KERABAT ANDA LAINNYA, SEMOGA BERMANFAAT .
TUHAN YESUS MEMBERKATI

SETIAP LANGKAH ADALAH ANUGERAH

Seorang professor diundang untuk berbicara di sebuah basis militer. Di sana , ia berjumpa dengan seorang prajurit yang tak mungkin dilupakannya, Ralph, penjemputnya di bandara. Setelah saling memperkenalkan diri, mereka menuju tempat pengambi lan bagasi.Ketika berjalan keluar, Ralph sering menghilang. Banyak hal dilakukannya. Ia membantu seorang wanita tua yang kopornya jatuh dan terbuka, kemudian mengangkat dua anak kecil agar mereka dapat melihat sinterklas.Ia juga menolong orang yang tersesat dengan menunjukkan arah yang benar. Setiap kali, ia kembali ke sisi sang professor dengan senyum lebar menghiasi wajahnya. Dari mana Anda belajar melakukan semua hal itu ? tanya sang professor.Melakukan apa ? tanya Ralph.Dari mana Anda belajar untuk hidup seperti itu ? desak sang professor.Oh, kata Ralph, selama perang ..... Saya kira, perang telah mengajari saya banyak hal.Lalu ia menuturkan kisah perjalanan tugasnya di Vietnam. Juga tentang tugasnya saat membersihkan ladang ranjau, dan bagaimana ia harus menyaksikan satu persatu temannya tewas terkena ledakan ranjau di depan matanya.Saya belajar untuk hidup di antara pijakan setiap langkah. katanya ......Saya tidak pernah tahu, apakah langkah berikutnya adalah pijakan terakhir, sehingga saya belajar untuk melakukan segala sesuatu yang sanggup saya lakukan tatkala mengangkat dan memijakkan kaki serta mensyukuri langkah sebelumnya.Setiap langkah yang saya ayunkan merupakan sebuah dunia baru, dan saya kira sejak saat itulah saya menjalani kehidupan seperti ini. Kelimpahan hidup tidak ditentukan oleh berapa lama kita hidup, tetapi sejauh mana kita menjalani kehidupan yang bermakna bagi orang lain.Nilai manusia ......tidak ditentukan dengan bagaimana ia mati, melainkan bagaimana ia hidup.Kekayaan manusia bukan apa yang ia peroleh, melainkan apa yang telah ia berikan.Selamat menikmati setiap langkah hidup Anda dan BERSYUKURLAH SETIAP SAAT .......Banyak orang berpikir bagaimana mengubah dunia ini.Hanya sedikit yang memikirkan bagaimana mengubah dirinya sendiri..
(from: Centia)

Friday, June 6, 2008

Tema : “Hati yang Terbuka”Nats : II Korintus 6:11-13

KHOTBAH GMI GETSEMANI BINJAI
Minggu, 08 Juni 2008
Tema : “Hati yang Terbuka”
Nats : II Korintus 6:11-13

Saudara/i yang Tuhan Yesus kasihi,
Surat Paulus yang kedua kepada jemaat di Korintus merupakan surat yang berisi ungkapan “curahan isi hati Paulus” kepada jemaat di kota Korintus.
Secara khusus II Korintus 6:11-13 yang telah kita baca bersama tadi, merupakan bagian dari kelanjutan II Korintus 6:1-10 yaitu tentang ungkapan curahan isi hati Paulus mengenai pelayanannya yang minggu lalu telah dikhotbahkan oleh Pdt. Sudiharto.
Dalam II Korintus 6:1-10 telah dijelaskan minggu lalu, bahwa Paulus mengungkapkan kepada jemaat di Korintus bahwa Paulus sangat mengasihi jemaat di Korintus, dan kasih itu Paulus wujudkan dalam pelayanannya,
seperti yang Paulus katakan dalam ayat ke 11:
“Hai orang-orang Korintus, kami telah berbicara terus terang kepadamu”
Tentang apa Paulus berterus terang kepada jemaat di Korintus ? tentang keterbukaan nya dalam Paulus menjalani pelayanannya, seperti yang telah dikhotbahkan minggu lalu, yaitu tentang kegagalan dalam pelayanan, tentang tantangan dalam pelayanan, bahkan tentang perasaannya, perjuangannya dan penderitaan serta tekanan-tekanan yang dialaminya dalam pelayanan.
Ungkapan-ungkapan Paulus kepada jemaat di Korintus adalah bukti bahwa Paulus menginginkan adanya keterbukaan, adanya komunikasi yang baik, adanya saling memperhatikan antara dirinya dan jemaat di Korintus.
Saudara/I yang sangat dikuatirkan saat ini, bahwa gereja-gereja, bahkan secara khusus anak-anak Tuhan tidak menyadari tentang keterbukaan hati ini, baik antara jemaat dengan jemaat, bahkan antara jemaat dan hamba Tuhan. Mengapa demikian? Karena banyak anak-anak Tuhan berpikiran bahwa yang benar adalah bagaimana bisa menjadi diri sendiri tanpa peduli orang lain, menjadi pribadi yang tertutup (Private person), apakah ini benar???memang jika menurut pandangan dunia ada benarnya, tetapi dalam suatu persekutuan anak-anak Tuhan hal itu adalah pemikiran yang salah, ini namanya ke egoisan.
Saudara/i pemahaman ke Kristenan berbeda dengan pandangan dunia, ke Kristenan mengajarkan bagaimana bahwa kita harus bisa membuka hati satu dengan yang lain, harus bisa belajar simpati satu dengan yang lain, belajar untuk saling memperhatikan satu dengan yang lain,
belajar menyadari bahwa sukacitaku adalah sukacitamu, penderitaanmu adalah penderitaanku, masalahmu adalah masalahku dll.
Dan keterbukaan hati ini menjadi modal yang sangat penting untuk gereja bertumbuh, persekutuan menjadi erat, dan penuh damai sejahtera, modal dasar untuk persekutuan menjadi lebih sehati. Coba perhatikan jemaat mula-mula dalam KPR 2:46-47, mereka bersehati, terbuka satu dengan yang lain dan perhatikan ayat 47 mereka berkembang pesat.
Yang selanjutnya, seperti Paulus mengatakan :
‘ Bagi kamu ada tempat yang luas dalam hati kami’
Apa maksudnya, maksudnya adalah Paulus di setiap pelayanannya tidak pernah mempunyai orang atau jemaat terfavourite, termasuk dalam jemaat di Korintus. Karena Paulus memahami bahwa setiap individu ada dalam satu persekutuan, tidak pernah ada yang Paulus specialkan dalam jemaatnya.


Paulus mengasihi semuanya, tidak ada perbedaan satu dengan yang lain,
karena dalam persekutuan harusnya saling bisa merasakan tantangan yang sama, karena persekutuan adalah tubuh Kristus, yang Yesus Kristus adalah kepalanya, jika tangan sakit, maka seluruh badan terasa sakit, jika bagian tubuh salah sautnya sakit, maka seluruh tubuh bisa merasakannya. Inilah persekutuan.
Sebagaimana Paulus mengungkapkan isi hatinya tentang pelayanannya, maka seharusnya sebagai jemaat, jemaat Korintus terbuka juga hatinya untuk medengar, merasakan dan bersikap simpatik terhadap Paulus, tetapi pada kenyataannya tidak, mengapa demikian ??
Karena jemaat Korintus hatinya masih terbatas untuk menerima keterbukaan hati Paulus. Keterbukaan Paulus tidak mendapatkan respon dari jemaat Korintus.
Paulus sebenarnya menginginkan adanya keterbukaan hati juga dari jemaat Korintus, adanya ‘Kasih yang bersambut’ (Reciprocity of love) antara Paulus dan jemaat di Korintus.
Dan saudara/i masalah yang dihadapi Paulus, adalah masalah gereja-gereja saat ini juga, bahkan bukan saja masalah-masalah gereja, masalah pribadi, masalah rumah tangga, masalah keluarga, masalah pernikahan sering terjadi kegagalan karena tidak saling membuka hati satu dengan yang lain. Sehingga tidak tercipta persekutuan dalam kasih.
Saudara/i, kasih itu, keterbukaan itu , persekutuan itu harus dua arah (love is two way street). Inilah dasar persekutuan secara khusus dalam konteks Paulus sebagai hamba Tuhan dengan jemaat Korintus sebagai jemaatnya.
Sangat disesalkan seperti ungkapan Paulus bahwa kasihnya dan keterbukaan hatinya tidak mendapat respon dan tempat di hati jemaat Korintus dalam ayat 12b ‘Bagi kami hanya tersedia tempat yang sempit di hati kamu’ artinya apa: jemaat Korintus mebatasi diri, tidak mau tau, menutup dirinya terhadap Paulus.
Impilkasi saat ini: banyak gereja, banyak persekutuan juga demikian, tidak ada komunikasi antara jemaat dengan jemaat, bahkan keterbukaan dengan hamba Tuhan pun tidak ada, sehingga dampaknya tidak bisa saling memahami, ketika ada masalah dalam jemaat, tidak mau terbuka langsung, makanya akhirnya munculah gosip-gosip, mungkin karena jemaat tidak tau tujuan dan arah pelayanan pendetanya, atau hamba Tuhannya. Ini karena tidak ada komunikasi, karena akibat dari tidak ada keterbukaan hati.

Saudara/ i coba bayangkan apa yang terjadi jika dalam persekutuan, dalam jemaat, ada ‘keterbukaan hati’, adanya komunikasi, bisa bayangkan??? Buka dan baca Mazmur 133:1-3 “Indahnya Persekutuan” benar???

Maka kalau ingin persekutuan menjadi indah, ikutilah apa yang Paulus katakana dalam ayat 13 “Bukalah hati kamu selebar-lebarnya”

INDAH PADA WAKTUNYA

Ada waktu tuk berduka, ada waktu tuk bersuka
Ada waktu tuk berdiam, ada waktu tuk berkata
Namun di atas segalanya. Ku tau Allahku bekerja
Mendatangkan kebaikan Bagi yang mengasihiNya

Di saat yang kualami tak seperti yang ku ingini
Di saat tiada jawaban, Mengapa harus terjadi?
Namun di atas segalanya
Ku tahu Allahku bekerja
Mendatangkan kebaikan
Bagi yang mengasihiNya

Reff:
Mungkin tak kupahami
Apa yang kini aku alami
Namun ku tahu pasti
Kasih Allahku tak akan berhenti

Kan ku serahkan semua
Pergumulanku padaMu Yesus
Karna ku tahu pasti
Semuanya kan jadi indah pada waktu

Monday, May 19, 2008

"Tugas Seorang Utusan Allah" Yesaya 6:8

Dalam Yesaya 6:8 Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata : Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang akan pergi untuk Aku ? Maka sahutku : Ini aku, utuslah aku"
Kalimat : Ini aku, utuslah aku kedengarannya sangat indah dan manis di telinga kita, tetapi untuk mewujudkannya dalam realitas kehidupan Kristen tidaklah mudah. Allah dalam Yesus Kristus yang adalah motivator misi merindukan setiap suku bangsa mendengar Injil dan diselamatkan.
Tetapi bagaimana mereka, bisa diselamatkan jika mereka tidak percaya kenapa Dia ? Dan bagaimana mereka bisa percaya kepada Dia jika mereka tidak mendengar tentang Dia ? Dan bagaimana mereka mendengar, tentang Dia jika tidak ada yang memberitakannya ? Dan bagaimana mereka memberitakannya jika mereka tidak diutus ? Seperti ada tertulis : Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik (Roma 10:14-15)
Seorang utusan adalah perpanjangan tangan dari si pengutus dan membawa misi dari yang mengutus. Bagian firman Tuhan ini berbicara tentang panggilan Nabi Yesaya menjadi utusan Allah (Presbeou-Band. II Kor.5:10 dan Epesus 6:20) untuk menyampaikan maksud hati Allah kepada umat-Nya . Tidaklah mudah bagi Yesaya untuk langsung menjawab panggilan tersebut. Karena ia tahu bahwa panggilan tersebut berkaitan dengan tugas yang akan diembannya dari Allah yang maha kudus. Ia menyadari keberadaan pribadinya di hadapan Tuhan (band. Ay. 4,5). Melalui firman Tuhan ini kita dapat belajar 3 hal yang berkaitan dengan panggilan untuk menjadi seorang hamba Tuhan (utusan Allah):
1. Ada panggilan dari Tuhan (ay. 8) Allah mengasihi umat-Nya tapi Ia juga dalah Allah yang adil. Ia melihat kebobrokan umatnya (band, Yesaya 3-5) Yesaya mendapat kesempatan yang istimewa, ia melihat Tuhan (band,6:1-2) dan menyadari keberadaan bangsa saya. Allah mengetuk hatinya untuk menjadi penyambung lidah Allah dalam menyampaikan kasih dan keadilan Tuhan bagi umatNya. Ia menjadi utusan Allah. Menjadi seorang utusan bukan karena dorongan yang lain, kemauan diri sendiri atau terpaksa (band. Galatia 1;1-3) melainkan karena Tuhan yang memanggil. 2. Pengusan (ayat 5-6). Yesaya menyadari siapa dirinya di hadapan Tuhan, ia bukanlah seorang yang saleh dan suci, ia merasa tidak layak dengan apa yang sedang ia lihat dan dengar. Ia seorang yang tinggal di antara orang-orang yang najis bibir.
Ia tahu siapa Allah Israel. Yesaya sadar, bahwa menjadi utusan Allah itu merupakan hak istimewa, tetapi dituntut darinya kekudusan hidup. Dikuduskan (Ibrani : Qados, Yunani, Hagios) artinya : dipisahkan, di potong, dikhususkan untuk melakukan pekerjaan dari Allah yang maha kudus. Tiap hari mati terhadap manusia lama (dosa keinginan nafsu duniawi), karena tanpa kekudusan kita tidak layak melayani Alalh dan tidak dapat melihat Dia. Kita harus mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup (Roma 12:1). Dengan hati yang tulus dan siap dipakai Tuhan setelah mengalami pengudusan Yesaya dengan rela mengatakan : Ini aku, utuslah aku. Jawaban Nabi Yesaya ini menyatakan kesiapan Yesaya menerima panggilan tersebut dengan segala konsekwensinya dan tanggung jawabnya dalam melaksanakan tugas dan menyampaikan pesan pengutus.
3. Melakukan perintah Tuhan (ayat 9) pergilah ... katakan kepada bangsa ini. Dalam tugas pelayanan seorang yang mengatakan : Ini aku, utuslah aku, harus menyampaikan kehendak dan isi hati Allah sebagai pribadi yang mengutus, bukan pikiran dan kemauan pribadinya. Ia harus taat pada pengutusnya, sebagaimana Paulus mengaku dan mengambil keputusan bahwa ia sebagai tawanan Roh, ia harus selalu taat (band. Kisah Rasul 16:4-6).
Melalui renungan firman Tuhan ini kita belajar bahwa seorang utusan haruslah mempunyai panggilan dari Allah, mengalami pengudusan dan melakukan kehendak Tuhan. Bahwa yang mengatakan Ini aku, utuslah aku adalah kita semua sebagai orang-orang percaya yang telah diselamatkan dengan komitmen kita masing-masing untuk misi dan penginjilan sedunia. Komitmen untuk berdoa ? Sehingga kita berkata : Ini aku, utuslah aku untuk menjadi pendoa yang setia bagi misi dan penginjilan dunia. Komitmen untuk mensuport dengan dana ? Sehingga kita berkata : Ini aku, utuslah aku untuk mensuport misi dan penginjilan dunia dengan dana. Komitmen untuk menyerahkan diri menjadi hamba Tuhan ? Sehingga kita berkata : Ini aku, utuslah aku untuk menjadi komunikator Injil, atau komitmen yang lain ? Tuhan Yesus menanti komitmen kita ! Amin.

Tuesday, May 6, 2008

Beach Kong Khow di Pantai Namu Nan Indah

01 Mei selesai Kebaktian Kenaikan Tuhan Yesus. Para Aktivis dan Pelayan Tuhan GMI Get's dan Pos Pelayanan Methodist Brahrang mengadakan acara "Beach Kong Khow" dengan tujuan untuk mempererat persahabatan antara para aktivis dan memberikan "semangat juang" (memangnya mau perang) dalam pelayanan ke depan nantinya, serta untuk mempererat persatuan dan kesatuan (TVRI kali ye) antara aktivis dan hamba Tuhan, sekaligus juga mendengarkan usul dan saran dari aktivis untuk kemajuan Get's ke depannya.
Hadir pula selain aktivis ada juga hamba-hamba Tuhan, dan para Majelis

Acara berlangsung dari jam 11.00 - 17.00 dengan diisi acara bebas, mmandi dan berenang di sungai. Lalu dilanjutkan dengan makan siang dan berenang kembali, baru jam 16.00-17.00 acara ibadah serta ngobrol-ngobrol..

ini beberapa foto-foto: