SELAMAT DATANG

Selamat datang di blog saya, semoga anda diberkati, Tuhan Yesus mengasihi anda.
Jika membutuhkan pelayanan saya silahkan menghubungi email dave_kandar@yahoo.com; atau Hp. 0813-6409-5029.

Tentang saya

My photo
Pelayanan di Gereja Methodist Indonesia (GMI) Getsemani Binjai Sumatera Utara sebagai asistan gembala sidang dan gembala Pos Pelayanan di Brahrang (2004-2011). Gembala Sidang GMI Damai Sejahtera Jakarta Barat (2011-2013). Asistan gembala sidang di GMI Anugerah Batam (2013-2014). Gembala Sidang GMI Kana Marelan (2014-2015). Pimpinan Perguruan PKMI Methodist-10 TK-SD-SMP Belawan (2015-2018). Asistan Pimpinan Jemaat GMI Kanaan Medan (2018-2019). Pimpinan Perguruan PKMI 2 Kisaran Asahan (2019-2021). Gembala Sidang GMI Kanaan Medan (2021-2022). Pimpinan Perguruan PKMI Pangkalan Brandan dan Gembala Sidang GMI Pangkalan Brandan (2022- sekarang) Tinggal di Pangkalan Brandan Langkat dan melayani bersama istri Pdt. Delima Li En dan dikaruniai seorang anak Daud Kharis Delvidson Kandar.

Blog Archive

Wednesday, May 6, 2015

ALKITAB DI TANGAN KANAN DISIPLIN DI TANGAN KIRI



Pembinaan di GMI Jemaat Elim-P Brayan; GI. David Kandar (Kamis, 5 Mei 2015)
(Pemahaman akan pelayanan dan organisasi)

I.                   PENDAHULUAN
            Secara umum dapat dipahami bahwa gereja ada di dunia ini untuk melaksanakan amanat agung dari Tuhan Yesus Kristus.[1] Gereja ada untuk melayani Tuhan dengan cara melayani sesama, baik di dalam maupun di luar gereja.[2] Dalam menjalankan fungsinya gereja memerlukan alat atau sarana untuk mengatur dan mendukung kelancaran suatu pelayanan. Sarana atau alat yang mengatur dan mendukung pelayanan yang utama di dasari pada Alkitab sebagai Firman Allah dan yang kedua adalah sistem organisasi sebagai tata pelaksanaan (juklak) dalam menjalankan pelayanan agar terarah, teratur  dan maksimal.
            Mengapa diperlukan sebuah sistem atau aturan dalam organisasi sebuah pelayanan (gereja). Dasar nya adalah 1) Karena Allah menyukai keteraturan, Allah sendiripun melakukan segala sesuatu secara teratur, mulai dari penciptaan, bahkan dalam perjanjian lama, pengaturan ke dua belas suku dan contoh contoh lain yang dapat memahami bahwa Allah menyukai keteraturan.  2) Yesus pun memulai pelayanannya dengan sistem, seperti memilih dan menetapkan dua belas murid, menetapkan murid murid dalam bagian masing masing (Petrus, Yudas dll). 3) dan dasar secara umum bagi saya dalam hal sistem adalah mengingat akan istilah “A Bad system can destroy good people”  atau jika di terapkan ke dalam pelayanan adalah “sistem yang tidak baik, merusakkan pelayanan yang baik sekalipun”.
            Berkenaan mengenai sistem, GMI secara khusus memahami pentingnya keseimbangan antara pelayanan (di dasari utama Alkitab), dan sistem yang mengatur pelayanan (diibaratkan seperti rel). Maka munculah istilah yang popular dalam GMI “Alkitab di tangan kanan, disiplin di tangan kiri”. Yang dapat dipahami bahwa : “orang methodist pertama-tama mencintai Alkitab, kemudian memahami disiplin”.[3]
           
Siapa yang memegang peranan penting dalam GMI untuk pelaksanaan penerapan akan pentingnya disiplin dalam mengatur pelayanan di GMI.  
1)                  Pendeta/ Guru Injil sebagai hamba Tuhan yang ditempatkan[4] sebagai episkopos / pengawas. Yang bertugas sebagai penilik (pengawas), penjaga (pemelihara/ pengayom). Dalam dua jalur tugas yaitu tugas Ke Imam-an (KPR 20:28), dan tugas organisasi (Titus 1:5-9).[5]
2)                  Majelis jemaat, majelis adalah orang-orang percaya yang sudah menjadi warga gereja, dipilih, diteguhkan  untuk memangku tugas dan jabatan gerejawi . Dan tidak ada seorang pun warga gereja yang dapat menjadi majelis gereja tanpa dikehendaki oleh Allah dengan perantaraan dipilih, dipanggil, dan diteguhkan.  Dan tentunya dengan fungsi untuk mewujudkan kebijaksanaan dan pelayanan gereja dengan ketentuan yang diatur dalam aturan atau tata gereja yang berlaku[6] (dalam hal ini GMI adalah Disiplin GMI yang berlaku). 
Dalam GMI tugas dan tanggung jawab majelis jemaat termakhtub dalam Disiplin GMI. Yang salah satu persyaratan untuk menjadi majelis jemaat adalah anggota jemaat yang memahami disiplin GMI.[7]
Tujuan dari pengawasan, pelaksanaan sistem ini berjalan dengan baik adalah agar identitas GMI dapat
terjaga dengan baik baik dari segi pengajaran (Wesleyan),[8] dan dari segi sistem organisasi. Apalagi saat ini GMI masih ada dalam bayang-bayang krisis (krisis Theologia, krisis organisasi, krisis pelayanan).[9]
           
II.                MEMAHAMI ALKITAB DI TANGAN KANAN DISIPLIN DI TANGAN KIRI
II.1. Mengapa Alkitab di tangan kanan?
            Bagi John Wesley (Methodist), Alkitab merupakan hal yang paling utama dalam mendasari pelayanan dan pergerakan. Dari awal pergerakannya Methodist lahir dari pergerakan khotbah, pergerakan Alkitab, dan pergerakan kebangunan rohani.[10]  Bukan lahir dari perbedaan dogma/ ajaran (seperti Calvinis, dan Lutheran).  John Wesley sendiri sebagai bapak Methodist adalah seorang yang memegang Alkitab sebagai bacaan utama, yang dikenal dengan istilah homo unius libri ( a man of one book).[11]
Oleh karena itu dapat dipahami bahwa Alkitab ditangan kanan adalah hal yang utama yang harus dipegang oleh warga gereja methodist. Istilah Alkitab di tangan kanan lahir dari istilah motto John Wesley  bahwa dia berdoa untuk menjadi homo unius libri.

II.2. Mengapa Disiplin di tangan kiri?
            Mengacu kepada awal pergerakan Methodist yang dipelopori John Wesley, factor kemajuan Methodist awal adalah bukan hanya pada pergerakan khotbah, perrgerakan Alkitab, pergerakan kebangunan rohani, tetapi juga peranan utama dalam peng-organisasi-an yang tersusun rapi dan kuat.
John Wesley mengembangkan sistem pelayanannya yang terorganisir mulai dari : Class metting (Kelompok Sel/ Cell Group), Soceity (Cikal bakal jemaat lokal), Circuit (Cikal bakal konferensi resort), Conference (cikal bakal konferensi tahunan).  Dan dalam hal jabatan jabatan John Wesley mengatur demikian: Class Leader (pemimpin cell group), Travelling preacher (pendeta berpindah pindah), Districsuperintendet (pimpinan distrik), Bishop.
Mengapa disiplin di tangan kiri? Karena disiplin adalah rel/ rambu rambu bagi pelayanan di GMI. Disiplin disusun berdasarkan proses atas kesepakatan bersama dalam konferensi agung yang melahirkan disiplin, disiplin berasal dari petisi-petisi yang di susun oleh panitia disiplin dan petisi tersebut di rumuskan, di bahas, di sah kan di konferensi agung. Jadi disiplin bukan otoritasi dari hamba Tuhan, maupun dari jemaat, tetapi berasal dari suara bersama warga GMI dan hamba Tuhan. 

III.             AKIBAT DAN DAMPAK JIKA WARGA GMI (hamba Tuhan, majelis khususnya) TIDAK MEMAHAMI AJARAN  DAN TRADISI SERTA SISTEM GMI.

  1. Pemahaman yang ter-ombang-ambingkan (pendeta pun ada yang terombang-ambingkan).
  2. Jemaat yang tidak kuat dalam pondasi dan menghasilkan jemaat yang tidak setia terhadap gereja lokal (atau bahasa lazim nya tidak tertanam), dan akhirnya menghasilkan jemaat yang brsstatus anggota jemaat “GJJ”, jemaat mudah beralih gereja dll. (bahasa saya: nikmatilah makanan dirumah sendiri, baru setelah tau enak dan rasanya, silahkan menikmati dirumah orang lain, bahayanya kalau belum tau nikmatnya makanan sendiri, akhirnya betah di rumah orang lain)
  3. Gereja yang mengalami “krisis identitas” menghasilkan gereja yang hanya biasa biasa saja ‘stagnan”, atau gereja yang hanya meng copy paste ajaran luar tanpa diseleksi.
  4. Pelayanan akan biasa biasa saja. Tidak ada ciri khas dan warna yang patut dibanggakan. [12]

IV.              PENUTUP
Pembinaan tentang tema diatas ini dengan waktu yang singkat sulit untuk mengupas keunikan, ke dalaman dan identitas ajaran serta sistem Methodist. Tetapi diharapkan pembinaan awal ini men stimulan  kita untuk semakin belajar, bangga dan semakin mendalami “rumah” kita, sehingga kita semakin tertanam dalam gereja kita Gereja Methodist Indonesia. Tuhan Yesus memberkati.

Mei 2015,
GMI Jemaat Elim-P. Brayan
Oleh: GI. David Kandar
Email: dave_kandar@yahoo.com
08136-409-5029
PIN BB : 7691D74B
www.daudkharisministry.blogspot.com




[1]  Matius 28:19-20
[2]  Ke dalam pembinaan jemaat, keluar penginjilan kepada orang terhilang unreach people
[3]  Richard Daulay, Alkitab di tangan kanan, disiplin di tangan kiri , https://hatadame.wordpress.com/2013/07/26/alkitab-di-tangan-kanan/.
[4] Maka seharusnya tidak ada hamba Tuhan yang tidak ditempatkan, dan tidak ada GMI manapun yang tidak ada penempatan hamba Tuhan Methodist. Dan tidak diijinkan hamba Tuhan non-GMI yang menjadi Pendeta Methodist ditahbiskan secara langsung tanpa proses (lulus dalam Theologia Wesley, Disiplin GMI, dan Sejarah Methodist), karena berfungsi sebagai tugas ke-episkopos-an.
[5] Band. Disipiln GMI  2013 Bab IV, hal. 53
[6]  Djimanto Setiadji, Majelis gereja yang melayani, (Yogyakarta; Taman pustaka Kristen, 2011), 7
[7]  Disiplin GMI 2013, pasal 18, poin 4, hal. 41)
[8]  Di usulkan sebaiknya diadakan juga pembinaan tentang ajaran Wesleyan, karena ajaran ini memiliki keunikan tersendiri, seperti ajaran lain. (Band. Modul pengajaran “Wesleyan dan Calvisme, bahan ajar katekisasi GMI JP Kana, 2014)
[9]  Krisis identitas, inilah yang dikatakan Richard Daulay, Mengenal Gereja Methodist Indonesia, (Jakarta, BPK Gunung Mulia, 2004), 49. Jemaat GMI yang berlatar belakang suku Batak lebih mudah untuk di berikan pemahaman akan episkopal karena lebih condong mereka berlatar belakang dari Lutheran sedangkan jemaat GMI yang berlatar belakang suku Tionghoa lebih condong kepada Persbiterian disebabkan pengaruh dari gereja- gereja Calvinis. Dan bahkan akan lebih sulit menjelaskan pemahaman akan ke-episkopal-an dalam GMI yang berlatar belakang suku Tionghoa, ditambah lagi dengan sumber daya hamba Tuhan yang lebih banyak bersumber dari STT yang berlatar belakang Calvinis. (Penulis sendiri dari awal melayani di GMI, berasal dari GMI berlatar belakang suku Tionghoa-Post note).
[10][10] Pelajari awal mula gerakan Methodist yang dipelopori John Wesley. Buku yang mudah untuk di dapat dan dibaca saya sarankan  : Robert L Tobing, John Wesley dan pokok-pokok pengajarannya, (Medan: Cipta Sarana Mandiri, 2005).
[11] I receive the written word as the whole and sole rule of my faith….. From the very beginning, from the time that four young men united together, each of them was homo unius libri… They had one, and only one, rule of judgement with which to regard all their tempers, words and actions; namely, the oracles of God.”
(Saya mengaminkan  Firman yang tertulis sebagai satu-satunya petunjuk bagi iman saya …. Dari sejak awal, sejak empat orang muda bersekutu bersama, masing-masing adalah “manusia satu buku”… Mereka punya satu, dan hanya satu, aturan dan patokan di atas mana segala tingkah-laku, perkataan dan perbuatan mereka didasarkan, yaitu Firman Tuhan”.) (John Wesley).

[12]  Saya miris jika mengamati jemaat gereja lain (aktivis, majelis, pengurus), mereka bangga akan “warna” gereja nya, dan mereka  “tertanam” dalam gerejanya.  Ketika di amati ternyata mereka memiliki figure yang berpengaruh dalam pengajarannya dan mereka mau diajar. Bagaimana dengan warga gereja Methodist? (Kesaksian pribadi, ada pengurus gereja yang John Wesley saja tidak tahu, ada pendeta yang dalam katekisasinya malah mengajarkan warna lain, ada majelis yang distrik superintendent saja tidak tahu)

Thursday, September 25, 2014

KUALITAS ORANG PERCAYA

Matius 7:24-27



Ada teman saya yang anak Tuhan berkata : enak jadi anak Tuhan, ga susah banget, ke gereja hanya tiap hari minggu, doa ga diatur waktunya (kalau lupa pagi siang kalau siang lupa malam), kalau salah minta ampun sama Tuhan diampuni, buat salah lagi minta ampun dan diampuni lagi. Tidak datang ibadah, paling di tanyain sama pendeta nya kemana? Kalau ada acara TV bagus hari Minggu, ga usah ibadah ga ada yang larang, paling paling minta ampu sama Tuhan.
Apakah sebenarnya ini pemahaman sebagai anak Tuhan dalam kehidupan imannya?
Apakah memang benar semudah dan seenak ini hidup anak anak Tuhan?

Saudara yang Tuhan Yesus kasihi, sebenarnya dalam teks yang kita baca tadi Tuhan Yesus ingin memberikan gambaran bahwa menjadi anak Tuhan itu mudah (gampang tapi tidak gampangan). Tapi menjalankan kehidupan sebagai anak Tuhan itu yang tidak mudah. Tergantung darimana dan bagaimana kita memahami nya.
Ibarat Yesus itu komandan sebuat batalyon atau pasukan, dan kita anak buahnya, dan misalkan Yesus memberikan kita komando atau perintah “Siapkahkah kamu jadi terang dan garam?” siap Tuhan! Kita jawab demikian, karna mungkin saat itu kita sedang dalam kehidupan yang aman tentram, coba pas kehidupan lagi susah dan sulit. Jawabannya siap Tuhan……TAPI (ada tapinya…).

------Kualitas anak anak Tuhan bukan kepada pemahaman yang singkat dan sederhana demikian, itu ibarat Tuhan Yesus dalam ayat yang kita baca adalah seperti orang yang mendirikan rumah diatas pasir.
Coba apa yang terjadi dalam ayat ini bagi orang yang mendirikan rumah diatas pasir: (baca ayat 26-27).
-Turun hujan (pencobaan dll)
-Banjir (pencobaan yang lebih berat)
-Angin (bonus pencobaan lagi)
-RUBUH (kalah telak)

Hidup anak Tuhan seharusnya tidak demikian…..
------Kualitas hidup anak anak Tuhan harus seperti orang yang mendirikan rumahnya diatas Batu (Baca ayat 24-25).
-Turun hujan (pencobaan dll)
-Banjir (pencobaan yang lebih berat)
-Angin (bonus pencobaan lagi)
-TIDAK RUBUH.

JADI Anak Tuhan yang berkualitas harus punya pondasi yang kuat…yang tidak mudah goyah dan akhirnya rubuh.

Apa saja pondasi yang kuat sebagai anak Tuhan

A.      DEKAT PADA TUHAN DALAM DOA; IBADAH; DAN PERSEKUTUAN
-DOA penting karna merupakan komunikasi dengan Tuhan, mengetahui kehendak Tuhan
Kualitas doa itu, tetap bisa berdoa walau ada tantangan, walau malas berdoa:
ada suatu kalimat berkata : “Disaat aku tidak mau berdoa, justru disaat itulah aku harus berdoa”.
-IBADAH penting,  karna ibadah adalah sebagai suatu sarana bertemu denganNYA.
Seorang tokoh Kristen (saya lupa namanya) mengatakan : “Lebih mudah kita menyesuaiakn waktu kita untuk acara acara lainnya, (Misalkan arisan dll, akhirnya lupa ke gereja), daripada menyesuaikan waktu kita untuk ibadah kepada Tuhan.




  1. BACA ALKITAB dan MERENUNGKANNYA. (Iblis saja hafal firman Tuhan)
Dimanakah anda menyimpan Alkitab dirumah, bagaimana kondisi Alkitab anda, dan bagaimana anda ketika membuka Alkitab, itu adalah suatu cara mengetahui apakah anda benar benar sering membaca dan merenungkan Alkitab atau tidak.
-          Alkitab bersih bukan  berarti pembersih tetapi anda malas (baca Alkitab)
-          Alkitab berdebu, berarti bukan anda pengoleksi buku keramat, tetapi anda malas (baca Alkitab)
-          Apalagi Alkitab lupa ditaruh dimana (nah ini bisa dua kemungkinan pas sering dibaca lupa taruh bisa jadi ketinggalan diangkot karna saking rajin baca….atau karna sudah lama tidak dibaca jadi lupa simpan dimana…)
-          Alkitab kusut dan banyak coretan…..
-          Cari kitab susah menemukan (bisa jadi ketinggalan kacamata, atau  memang ga pernah baca jadi gak tau….cari wahyu di PL)
-          Sekarang nyaman dulu hanya ada HOLY BIBLE skrg sudah  ada HOLY PHONE; HOLY TAB;dll…
Dengan kemudahan ini, apakah kita semakin rajin membaca Alkitab?.....

  1. BERSERAH TOTAL PADA TUHAN.
“Ketika kita angkat tangan, Tuhan pasti turun tangan”
(Ilustrasi sirkus berjalan diatas tali, seorang naik sepeda berjalan diatas tali, lalu orang itu minta seorang penonton untuk ikut naik, tidak ada yang mau, tiba tiba ada seorang anak kecil bersedia….penonton kaget…siapa anak itu?.........................ternyata anak itu adalah anak si bapak yang pemain sirkus itu..
Inilah penyerahan total, karna kita tau dan mengenal Bapa yang kita percayai, yaitu Allah yang maha kuasa dalam Yesus Kristus, maka kita mampu untuk berserah total kepada Tuhan.

                Biarlah sebagai anak Tuhan kita hidup dalam 3 hal untuk kita memiliki pondasi yang kuat.AMIN. (DK)



                                                           

Sunday, September 21, 2014

"Keakraban dengan Allah"


KEJADIAN 5 : 18-24



1.Pendahuluan

Setiap manusia pasti memiliki yang namanya sahabat karib/atau teman dekat. Sahabat karib adalah tempat dimana kita bisa bercerita dalam duka, dan akan menjadi orang pertama yang ikut bahagia ketika kita berada dalam suka. Kepercayaan, pengertian, itu tentu menjadi sebuah harapan besar dari seorang sahabat karib. Sebagai mahluk sosial, kita tentu harus hidup berteman dengan orang lain. Apakah hanya manusia yang bisa dijadikan sahabat dekat? Tentu tidak. Kita juga bisa bersahabat karib dengan Tuhan. Tuhan sejak semula merindukan manusia bisa menjadi sahabat karibnya. Kita bisa melihat bagaimana Adam dan Hawa bisa bercakap-cakap dengan Tuhan di taman Eden secara langsung. Sayangnya manusia jatuh dalam dosa dengan sangat cepat. Meski demikian, Tuhan tidak henti-hentinya menunggu kerelaan dari manusia, yang begitu Dia kasihi, untuk datang kepadaNya dan bergaul akrab denganNya. Hidup yang bergaul dengan Allah adalah hidup yang sangat berarti.  Bergaul dengan manusia terbatas adanya, mungkin dalam segi derajat, kedudukan, usia, waktu dan lain sebagainya.  Akan tetapi hubungan dengan Allah tidak dapat dihambat oleh keadaan ruang dan waktu.
II. Isi
Kita bisa melihat beberapa nama yang disebutkan langsung di dalam Alkitab yang punya keistimewaan bisa bersahabat karib, hidup bergaul dengan Tuhan.

1. Henokh.
Dalam kitab Kejadian dijelaskan bahwa Henokh berusia 65 tahun ketika mendapatkan seorang anak laki-laki bernama Metusalah. (Kejadian 5:21).   Ayat selanjutnya tertulis sebagai berikut: "Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah selama tiga ratus tahun lagi.." (ay 22a). Perhatikan bahwa Henokh dikatakan hidup bergaul dengan Allah selama 300 tahun lagi. Itu artinya ia sudah hidup bergaul dengan Allah sebelumnya, dan masih melanjutkan kedekataan itu sampai 300 tahun selanjutnya. Betapa luar biasanya sebuah hubungan keakraban yang di jalin dengan Allah yang tidak akan habis di makan waktu. Dari ayat ini terlihat bagaimana seorang Henokh mampu menjaga hubungannya dengan Sang Pencipta, hidup selaras dengan kehendak Tuhan dengan setia sampai begitu lama. Kesetiaannya teruji dalam  waktu yang begitu panjang. Kita yakin pada masa itu Henokh bukannya tidak mendapat cobaan dari berbagai keinginan duniawi yang bisa menariknya menjauh dari Allah, namun jelas Henokh tidaklah terpengaruh dengan itu. Pada akhirnya kita tahu apa yang terjadi pada Henokh. Begitu akrabnya ia dengan Tuhan, sampai-sampai ia tidak perlu mengalami kematian. Henokh diangkat langsung dari dunia yang berlumur dosa ini menuju Surga untuk seterusnya bersama-sama dengan Allah. "Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah." (ay 24). Dan penulis Ibrani menuliskan lagi mengenai Henokh. "Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah." (Ibrani 11:5). Perhatikan bahwa perilaku dan kesetiaan Henokh membuatnya menjadi sahabat karib dengan Tuhan.
2. Nuh pun disebutkan demikian: "Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah." (Kejadian 6:9).
 3.Dan selanjutnya Ayub: "seperti ketika aku mengalami masa remajaku, ketika Allah bergaul karib dengan aku di dalam kemahku" (Ayub 29:4).
4. Daud
        Nama Daud merupakan salah satu tokoh yang menjadi symbol suatu kedekatan hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Apa rahasianya ?. Daud bergaul karib dengan Tuhan, berbagai gambaran Daud ungkapkan untuk menjelaskan kedekatannya dengan Tuhan, Daud menyebut Tuhan sebagai gembala yang memelihara hidupnya, yang menjaga hidup Daud. Dalam seluruh pengalaman perjalanan hidup Daud, dia sadar bahwa Allah yang tidak kompromi dengan dosa-dosanya. Tetapi Allah juga yang sedia mengampuni dosa-dosanya. Kekaribannya dengan Tuhan tidak hanya dia ungkapkan dalam puji-pujian dan mazmurnya dan mengingat seluruh perbuatan Tuhan. Tetapi bagaimana daud memahami dan mengenal Allah yang mau dan rela bergaul karib dengan manusia.
Dalam Mazmur 25:14 berfirman : Tuhan bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya di beritahukan kepada mereka. Bagaimana Daud memahami bahwa Allah mau bergaul karib dengan manusia yang terbatas? Yang bisa kapan saja jatuh dalam dosa. Tentulah kekariban Tuhan punya standard khusus, yakni hanya kepada mereka yang takut akan Dia, yang menghargai kekudusan-Nya, yang menghargai perjanjian antara dirinya dengan Tuhan.   
Dan Daud, yang kita tahu begitu mengenal Allah dan memiliki hubungan yang sangat dekat lewat berbagai tulisannya maupun seperti yang disebutkan dalam Kisah Para Rasul: "Tentang Daud Allah telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku." (Kisah Para Rasul 13:22b).
Bagaimana langkah-langkah kita untuk dapat menjalin hubungan dengan Allah yaitu :
  1. Lahir baru (Yohanes 3 : 3-7, Titus 3 : 5, II Korintus 5 : 17).
  2. Mendengar suara Tuhan.
    Yohanes 10 : 4-5.  Peka terhadap suara Tuhan yaitu Gembala kita serta merenungkan setiap apa yang difirmankanNya (Mazmur 1 : 2).  Dan mau untuk hidup senantiasa diperbaharui  oleh Firman Tuhan (II Korintus 4:16, Ratapan 5 : 21).
  3. Membangun persekutuan lewat doa.  (I Tesalonika 5 : 17)
  4. Hidup di dalam penyembahan (Yohanes 4 : 23)

Bapak/Ibu terkasih. marilah kita merenungkan kepada siapakah kita lebih cenderung bergaul atau menjalin hubungan keakraban apakah kepada manusia, terkadang menjalin hubungan dengan manusia banyak mendapatkan kecewa tetapi  bergaul karib kepada Tuhan, kita senantiasa diperhatikan dan diberkati. Tuhan Memberkati kita semuanya. Amin.

Dikhotbahkan oleh : GI. Delima
di Kebaktian Umum GMI jemaat Persiapan KANA
Minggu, 21 September 2014