SELAMAT DATANG

Selamat datang di blog saya, semoga anda diberkati, Tuhan Yesus mengasihi anda.
Jika membutuhkan pelayanan saya silahkan menghubungi email dave_kandar@yahoo.com; atau Hp. 0813-6409-5029.

Tentang saya

My photo
Pelayanan di Gereja Methodist Indonesia (GMI) Getsemani Binjai Sumatera Utara sebagai asistan gembala sidang dan gembala Pos Pelayanan di Brahrang (2004-2011). Gembala Sidang GMI Damai Sejahtera Jakarta Barat (2011-2013). Asistan gembala sidang di GMI Anugerah Batam (2013-2014). Gembala Sidang GMI Kana Marelan (2014-2015). Pimpinan Perguruan PKMI Methodist-10 TK-SD-SMP Belawan (2015-2018). Asistan Pimpinan Jemaat GMI Kanaan Medan (2018-2019). Pimpinan Perguruan PKMI 2 Kisaran Asahan (2019-2021). Gembala Sidang GMI Kanaan Medan (2021-2022). Pimpinan Perguruan PKMI Pangkalan Brandan dan Gembala Sidang GMI Pangkalan Brandan (2022- sekarang) Tinggal di Pangkalan Brandan Langkat dan melayani bersama istri Pdt. Delima Li En dan dikaruniai seorang anak Daud Kharis Delvidson Kandar.

Blog Archive

Monday, April 14, 2014

HOSANA BAGI SANG RAJA



Matius 21:1-11

Mat 21:1  Ketika Yesus dan murid-murid-Nya telah dekat Yerusalem dan tiba di Betfage yang terletak di Bukit Zaitun, Yesus menyuruh dua orang murid-Nya
Mat 21:2  dengan pesan: "Pergilah ke kampung yang di depanmu itu, dan di situ kamu akan segera menemukan seekor keledai betina tertambat dan anaknya ada dekatnya. Lepaskanlah keledai itu dan bawalah keduanya kepada-Ku.
Mat 21:3  Dan jikalau ada orang menegor kamu, katakanlah: Tuhan memerlukannya. Ia akan segera mengembalikannya."
Mat 21:4  Hal itu terjadi supaya genaplah firman yang disampaikan oleh nabi:
Mat 21:5  "Katakanlah kepada puteri Sion: Lihat, Rajamu datang kepadamu, Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda."
Mat 21:6  Maka pergilah murid-murid itu dan berbuat seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka.
Mat 21:7  Mereka membawa keledai betina itu bersama anaknya, lalu mengalasinya dengan pakaian mereka dan Yesuspun naik ke atasnya.
Mat 21:8  Orang banyak yang sangat besar jumlahnya menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon dan menyebarkannya di jalan.
Mat 21:9  Dan orang banyak yang berjalan di depan Yesus dan yang mengikuti-Nya dari belakang berseru, katanya: "Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!"
Mat 21:10  Dan ketika Ia masuk ke Yerusalem, gemparlah seluruh kota itu dan orang berkata: "Siapakah orang ini?"
Mat 21:11  Dan orang banyak itu menyahut: "Inilah nabi Yesus dari Nazaret di Galilea."

A.    PENDAHULUAN.
Sebagai orang percaya kita harus benar benar meneladani Tuhan Yesus baik dari perkataan dan perbuatan kita.  Karakter Yesus lah yang harus kita teladani, ketika banyak orang mencaci maki dan berusaha untuk menyalibkanNya, sedikitpun Ia tidak membalasNya, Yesus tidak membiarkan caci maki dan ancaman serta perbuata n orang jahat masuk ke dalam hatinya dan menguasai hatiNya, namun sebaliknya Ia mengasihi, mengampuni dan bahkan menyelamatkan manusia dari segala dosa dosanya.

Pelayanan dan kehidupan Yesus yang walaupun Ia adalah Anak Allah yang memiliki kuasa dan wewenang Illahi tidak serta merta Ia menggunakan kekuasanNya dan kedaulatanNya. Tetapi Ia tampil sederhana, kehadiranNya di dalam dunia membawa perubahan dan membawa damai sejahtera.
Bukan hanya itu, kesetiaan dan kepatuhanNya kepada Bapa yang mengutusNya itu juga yang patut kita teladani, mengapa ? karena kita hamba/ Anak Tuhan yang tentunya kita harus hidup dari buah pelayanan yang Yesus ajarkan. Menjadi hamba, merendahkan diri dan bersedia memberi diri secara total  dengan ketaatan dan mau diperbaharui senantiasa dalam Tuhan dan bersedia menghadapi tantangan  dalam bersaksi menyaksikan karya Kristus dalam hidup kita untuk semua orang.

B.     ISI
Dalam nats bacaan kita saat saat pra paskah dan saat saat passion memberikan kita pemahaman tentang beberapa hal yang saya bagi menjadi 3 hal (bagian):
  1. Persiapan kedatangan Yesus, (Ayat 1-3)
Mat 21:1  Ketika Yesus dan murid-murid-Nya telah dekat Yerusalem dan tiba di Betfage yang terletak di Bukit Zaitun, Yesus menyuruh dua orang murid-Nya
Mat 21:2  dengan pesan: "Pergilah ke kampung yang di depanmu itu, dan di situ kamu akan segera menemukan seekor keledai betina tertambat dan anaknya ada dekatnya. Lepaskanlah keledai itu dan bawalah keduanya kepada-Ku.
Mat 21:3  Dan jikalau ada orang menegor kamu, katakanlah: Tuhan memerlukannya. Ia akan segera mengembalikannya."

Sebelum Yesus memasuki kota Yerusalem, terlihat bahwa Yesus  denga sengaja singgah di Betfage. (Betfage : suatu tempat di Palestina), hal ini mengindentifikasikan kepada kita bahwa Yesus bukan hanya lewat tetapi Yesus mengetahui ada yang harus dilakukan di Betfage.
Dalam bacaan kita, Yesus menyuruh 2 muridNya  untuk pergi ke kampung yang ada di depannya dan mengambil seekor keledai betina.  Dan ini memberikan penjelasan bahwa Yesus mengetahui keberadaan ciptaanNya, dia tahu bahwa di depan kampung sana ada keledai.
Dan Yesus mengantisipasi murid-murid yang dikirimnya apabila ada yang menegur dan ditanya ketika mengambil keledai itu yang notabenenya bukan miliknya, maka murid muridnya harus mengatakan “Tuhan memerlukanNya dan akan mengembalikannya”. Ini mengajarkan kejujuran dan keterbukaan bahwa apa yang dipinjam akan dikembalikan.
(Ini pemahaman sederhana dari ayat 1-3)

  1. Nubuatan dan penggenapan (ayat 4-5)
Dalam kitab Zakharia 9:9-10;
Zec 9:9  Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.
Zec 9:10  Ia akan melenyapkan kereta-kereta dari Efraim dan kuda-kuda dari Yerusalem; busur perang akan dilenyapkan, dan ia akan memberitakan damai kepada bangsa-bangsa. Wilayah kekuasaannya akan terbentang dari laut sampai ke laut dan dari sungai Efrat sampai ke ujung-ujung bumi.

Nabi Zakharia sudah menubuatkan bahwa Mesias akan datang dengan lemah lembut dan dengan mengendarai keledai, bukan dengan kuda yang selalu dipakai untuk berperang. Keledai dikenal dengan stamina dan kemampuannya yang kuat  dalam mengangkat beban berat, merupakan binatang tunggangan pilihan bagi kaum bangsawan di dunia Alkitab.
Keledai adalah lambang dalam PL sebagai gambaran binatang yang mudah dijinakkan dan sebagai symbol kemanusiaan dan kedamaian, sedangkan ada penafsir lain mengatakan bahwa symbol keledai adalah simbol bangsa Israel dan keledai yang terikat adalah simbol Israel yang terikat hukum Taurat. (Harafiah)
Maka ketika Yesus mengendarai keledai ini merupakan simbol kedatanganNya sebagai raja Damai. Yesus tidak datang dengan murka dan dendam tetapi IA datang dengan lemah lembut dan belas kasihan dan datang sebagai pembebas.
Makna kedatanganNya yang sederhana ini memberikan pemahaman bahwa orang yang kecil dan miskin boleh berbesar hati datang kepadaNya tidak dengan ketakutan.

  1. Yesus memasuki Yerusalem dan respon banyak orang (ayat 6-11)
Mat 21:6  Maka pergilah murid-murid itu dan berbuat seperti yang ditugaskan Yesus kepada mereka.
Mat 21:7  Mereka membawa keledai betina itu bersama anaknya, lalu mengalasinya dengan pakaian mereka dan Yesuspun naik ke atasnya.
Mat 21:8  Orang banyak yang sangat besar jumlahnya menghamparkan pakaiannya di jalan, ada pula yang memotong ranting-ranting dari pohon-pohon dan menyebarkannya di jalan. Mat 21:9  Dan orang banyak yang berjalan di depan Yesus dan yang mengikuti-Nya dari belakang berseru, katanya: "Hosana bagi Anak Daud, diberkatilah Dia yang datang dalam nama Tuhan, hosana di tempat yang mahatinggi!"
Mat 21:10  Dan ketika Ia masuk ke Yerusalem, gemparlah seluruh kota itu dan orang berkata: "Siapakah orang ini?"
Mat 21:11  Dan orang banyak itu menyahut: "Inilah nabi Yesus dari Nazaret di Galilea."

Dalam ayat 6, murid murid Yesus pergi dan berbuat seperti yang ditugaskan kepada mereka, hal ini menunjukkan bahwa kedua murid tersebut pergi tanpa protes, mereka langsung mengerjakan tugasnya tanpa bersungut sungut dan tanpa kuatir karena Yesus menjamin perjalanan mereka. Ini penting sebagai teladan bagi kita dalam mengerjakan setiap tugas yang diperintahkan Yesus.

Respon orang banyak,( ayat 8-11)
  1. Mereka menghamparkan pakaiannya dijalan.
  2. Ada yang memotong ranting ranting dari pohon dan menyebarkan dijalan
  3. Mereka menyambut Yesus yang dianggap sebagai Mesias dan Raja yang akan menyelamatkan mereka dari penjajahan Romawi. Karena dalam diri mereka dengan pernyataan penghormatannya ini mengungkapkan harapan bahwa Yesus yang mereka sambut adalah Raja yang akan membebaskan dan memerintah Israel.
Dan ini adalah sebagai gambaran untuk penghormatan bagi Raja.
(Bandingkan 2 Raja Raja 9:13)
2Ki 9:13  Segeralah mereka masing-masing mengambil pakaiannya dan membentangkannya di hadapan kakinya begitu saja di atas tangga, kemudian mereka meniup sangkakala serta berseru: "Yehu raja!"

Bahkan dalam ayat 9, dikatakan oleh orang orang “Hosana bagi anak Daud, diberkatilah Dia yang  datang dalam nama Tuhan”.
Perkataan dan penyambutan ini memberikan berapa pemahaman.

  1. Penyambutan mereka terhadap kerajaanNya dengan mengatakan HOSANA, memberikan pemahaman bahwa : Kata Hosana dalam bahasa Ibrani berarti “Hosiana” Save now ; selamatkanlah sekarang.
Kata-kata dalam ay 9 itu diambil dari Maz 118:25-26. Maz 118:25 oleh NIV  diterjemahkan sebagai berikut: “O LORD, save us” (= Ya TUHAN, selamatkanlah kami).
Secara  hurufiah, terjemahannya  seharusnya adalah:  “O LORD save now” (= Ya TUHAN selamatkanlah sekarang).
Jadi dari artinya, terlihat bahwa kata ‘Hosanna’ ini sebe­tulnya merupakan suatu istilah dalam doa / permohonan. Tetapi akhirnya, kata ini menjadi suatu istilah yang menyatakan sukacita dan pujian kepada Tuhan, dan  karena itulah maka pada saat itu lalu diucapkan kepada Yesus.

HAL-HAL YANG PENTING DALAM CERITA INI:
a)   Apa yang Yesus lakukan di sini merupakan proklamasi besar-besaran bahwa Ia adalah Mesias / Raja (ay 4-5  bdk. Zakh 9:9 yang merupakan nubuat tentang Mesias / Raja).
Yesus berulangkali melarang murid-muridNya memberitakan bahwa Ia adalah  Mesias, karena saat itu belum waktunya. Tetapi sekarang, pada saat waktunya sudah tiba, Ia sendiri memberitakan hal itu secara besar-besaran. Dikatakan ‘secara besar-besaran’ karena Ia melakukan hal itu di Yerusalem, dan Ia melakukannya menjelang Paskah (Ini Paskah Perjanjian Lama, yaitu peringatan keluarnya Israel dari Mesir) dimana semua orang Yahudi pergi ke Yerusalem.
b)   Tindakan Yesus ini menyebabkan rakyat menyambut dengan antusias. Ini menyebabkan tokoh-tokoh Yahudi makin marah dan membenci Yesus dan merencanakan untuk membunuh Yesus. Hal ini pasti disadari oleh Yesus, tetapi Ia melakukannya dengan sengaja, supaya Rencana Allah ten­tang kematianNya di atas kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita bisa terlaksana. Jadi, sebetulnya bagian ini penting sekali, karena tanpa adanya hal ini, Rencana Allah tentang penebusan dosa manusia tidak akan terlaksana.
c)   Tindakan Yesus ini juga dimaksudkan untuk menunjukkan kesalahan konsep Yahudi tentang Mesias (Orang Yahudi beranggapan bahwa Mesias adalah seorang raja duniawi). Karena itulah maka Yesus masuk ke Yerusalem menggunakan seekor keledai, bukan seekor kuda atau jerapah (bandingkan dengan ajaran Theologia Kemakmuran yang mengharuskan orang kristen menjadi kaya sehingga bisa naik mobil mewah!).
Apa artinya naik keledai?
·     William Barclay mengatakan bahwa keledai bukanlah binatang tunggangan yang hina. Keledai juga dipakai oleh raja / pemimpin, tetapi dipakai dalam keadaan damai (Hak 5:10 & 10:4). Sedangkan kuda dipakai dalam keadaan perang. Jadi, Yesus menyatakan diri sebagai Mesias / Raja dengan menunggang keledai, menun­jukkan diriNya sebagai Raja damai.
·      Calvin: Yesus naik keledai, bukan kuda. Disamping itu keledainya keledai pinjaman. Lagi pula keledainya tidak punya pelana sehingga harus dialasi dengan pakaian. Ini semua menunjukkan kemiskinan dan kerendahan hati.
Saya lebih menyetujui penafsiran ini, karena lebih cocok dengan kontex (kata ‘lemah lembut’ dalam ay 5, dalam bahasa Yunaninya adalah PRAUS. Ini adalah kata yang sukar sekali diterjemahkan. Tetapi salah satu arti dari kata itu adalah ‘rendah hati’).
Dengan demikian, terlihat dengan jelas bahwa sekalipun Yesus di sini  menyatakan diri sebagai Mesias / Raja, tetapi Ia sekaligus menunjukkan bahwa diriNya bukanlah raja duniawi, dan kerajaanNya bukanlah kerajaan duniawi! Kita semua mempunyai seorang Raja yang bukan raja duniawi. Jadi, patutkah kalau kita hidup untuk dunia?

PERENUNGAN:
  1. KESETIAAN DALAM TUGAS BAPA.
-          Satu waktu Yesus dielu elukan sebagai Raja, kemudian hari orang yang sama meneriakkan “Salibkan dia, salibkan dia”. Ada dua pilihan dalam diri Yesus, melakukan kehendak Bapa mati diatas kayu salib? Ataukah berpaling dari kehendak Bapa?....
  1. SEBAGAI PRIBADI YANG RENDAH HATI.
-          Semua orang pada saat itu mendambakan Mesias yang datang adalah seorang raja yang mampu membebaskan mereka dari penjajahan Romawi.  Tetapi dalam teks yang kita baca jauh sekali berbeda dengan yang didambakan oleh orang orang, yang datang Yesus dalam kesederhanaan menunggang keledai.
  1. KEPATUHAN KEPADA ALLAH BAPA
-          Dalam menjalankan misiNya Yesus patuh kepada kehendak Allah Bapa.
Ilustrasi untuk menggambarkan kepatuhan:
Pada suatu hari ada seorang raja yang pulang tengah malam dari sebuah tugas penting. Cuaca pada saat itu sangat dingin, sehingga kota tersebut sangat dingin sekali. Ketika Raja itu melewati pintu gerbang kota, ada seorang penjaga yang sedang dalam posisi tertidur dan mukanya ditutup topi. Biasanya jika Raja lewat penjaga yang menjaga gerbang akan mengatakan “Hormat kepada paduka” sambil membuka topi, tetapi si penjaga ini tetap tertidur dan Raja menyuruh panglima menghukum penjaga tersebut. Ketika panglima membuka topinya ternyata penjaga itu sudah mati. Dia mati dalam tugasnya, walaupuan cuaca dingin dan dalam kondisi sakit, tapi ia patuh akan tugasnya. Dan akhirnya sang Raja mengambil topinya dan menggantikan dengan mahkota Raja.
Walaupun mahkota itu dipakai kan hanya sebentar, karena penjaga yang mati itu patuh akan tugas maka dia mendapat kehormatan dari kepatuhannya.
                     
Oleh karena itu mari kita meneladani Yesus dengan patuh dan tidak gentar menghadapi penolakan dan tekanan dunia ini, karena Allah menyertai kita dan akan menyiapkan mahkota kehidupan bagi kita. Amin.

“Menyenangkan hati Allah Bapa/ TUHAN”



KHOTBAH GMI Anugerah BATAM
TEMA  :  “Menyenangkan hati Allah Bapa/ TUHAN”
Teks     : Mazmur 147:11

“Tuhan senang kepada orang-orang yang takut akan DIA, kepada orang-orang yang berharap akan kasih setiaNYA”

Ada satu lagu pujian yang reff nya “MenyenangkanMu senangkanMu hanya itu kerinduanku…”.  Dengan mudahnya kita dapat menyanyikan lagu itu, dengan mudahnya kita dapat mempunyai keinginan untuk menyenangkan hati Tuhan. Tapi pertanyaannya dalam hidup saya dan anda saat ini, bagaimana kita dapat secara khusus/ spesifik untuk menyenangkan hati Tuhan?...

Menyenangkan hati Tuhan adalah tujuan dari kita manusia diciptakan oleh Allah. Tetapi seringkali ketika kita ingin menyenangkan hati Tuhan, karena lebih mudah kita menyenangkan hati manusia.

Alkitab memberikan teladan yang jelas dan yang baik untuk kita tiru, yaitu teladan kehidupan Nuh, pada jaman Nuh kita tahu bahwa semua orang “jahat dimana Tuhan”, karena mereka semua bejad dan rusak moralnya, bahkan salah satu penulis mengomentari bahwa keadaan manusia pada jaman Nuh “lebih bejad dan rusak moralnya bahkan lebih buruk dari binatang”.  Bahkan dicatat bahwa Tuhan menangis melihat semua kerusakan dan kebejadan tersebut, dan DIA tidak menemukan seorang pun yang  taat dan baik, kecuali dari keluarga NUH.
Tuhan sangat jijik dengan tingkah laku manusia pada jaman NUH yang cendrung bermain dengan dosa, oleh sebab itu bencana air bah di nyatakan oleh Tuhan untuk memusnahkan manusia di muka bumi..
Tetapi karena kasih Tuhan, DIA masih melihat satu keluarga yang bisa membuat DIA TUHAN bangga dan senang hatiNYA karena kehidupan dan ketaatannya ditengah tengah kehidupan tetangganya yang jauh dari pada Tuhan, dialah keluarga NUH. Sehingga kata TUHAN : :
 “Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Nuh: "Masuklah ke dalam bahtera itu, engkau dan seisi rumahmu, sebab engkaulah yang Kulihat benar di hadapan-Ku di antara orang zaman ini” (Kejadian 7:1)

Nuh menyenangkan hati Tuhan karena kehidupannya yang senantiasa BENAR dihadapan Allah.
Saat ini kita belajar ada beberapa factor untuk kita sebagai anak Tuhan dapat menyenangkan hati Tuhan:

  1. KITA DAPAT MENYENANGKAN HATI TUHAN DENGAN MENGASIHI TUHAN LEBIH DARI SEGALANYA.
Markus 12:30 “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.”

Inilah hukum yang terutama dalam Alkitab dan hukum yang utama. Di saat manusia bermoral busuk dan sangat menyakitkan hati Tuhan. Justru Nuh berbuat sebaliknya, Nuh tetap mengasihi Tuhan dan taat kepada Tuhan. Nuh senantiasa berkomunikasi kepada Tuhan. Sehingga ketika pada jaman Nuh seluruh manusia dimusnahkan melalui air bah, Nuh dan seluruh keluarganya selamat.

Tuhan sangat senang jika kita dapat mengasihiNya, tetapi mengasihi Tuhan bukan hanya keluar dimulut saja. Tetapi tetap terus menerus mengerjakan kasih itu dalam kehidupan sehari hari. Mengasihi Tuhan dengan menciptakan waktu yang sangat dekat dengan Tuhan. Seperti layaknya keluarga yang saling mengasihi, maka aka nada keakraban dan kemauan untuk yang dikasihinya.
Mengasihi Tuhan, melakukan setiap kasih itu dalam kenyataan yang ada, sebagai anak Tuhan melayani Tuhan, rajin persekutuan (apalagi yang Tuhan panggil secara khusus, pengurus, aktivis, majelis), kunjungan. Dll.
(Ilustrasi waktu pacaran, saking cintanya, hujan pun datang buat pacaran; apapun yang pacar mau di carikan……)
Bagaimana dengan kita sudahkah kita menyenangkan hati Tuhan dengan mengasihi Nya dan mengasihiNya dengan melakukan segala hal dalam melayaniNya? ………………………………………………………………………………..

  1. KITA DAPAT MENYENANGKAN HATI TUHAN DENGAN MEMATUHI SEGALA PERINTAHNYA DENGAN SEGENAP HATI DAN DENGAN PENUH SUKACITA.

Nuh ketika Tuhan perintahkan membuat bahtera dan mengumpulkan semua mahluk secara berpasang-pasangan, Nuh tidak membantah sedikit pun, dan Nuh dapat melakukannya dengan taat dan senang hati.

Kej. 6: 22: “lalu Nuh melakukan semuanya itu; tepat seperti apa yang diperintahkan Tuhan kepadanya demikianlah dilakukannya”.

Sekalipun tentunya  Nuh heran dan gundah atas perintah Tuhan (aneh-aneh aja nih Tuhan mungkin dalam hatinya Nuh berkata demikian), jauh dari laut suruh buat bahtera, diolok olok tetangga, dipikir gila, tetapi karena Nuh tahu ini perintah Tuhan dan tentunya Nuh meyakini Tuhan ada maksud dan rencana maka Nuh taat dan patuh.

Bagaimana dengan kita? ……………..Kita mungkin menyadari hal yang sama sperti Nuh, kenapa Tuhan?....kok saya Tuhan? …seringkali kita katakan yang lain saja Tuhan?......dll….tetapi ingat teladan Nuh….TAAT dan PATUH atas perintah Tuhan….itulah yang menyenangkan hati Tuhan.

  1. KITA DAPAT MENYENANGKAN HATI TUHAN DENGAN MEMPERCAYAI DIA DENGAN SEPENUH HATI TANPA RAGU.
(HIDUP DENGAN IMAN PERCAYA YANG BENAR DIHADAPAN TUHAN/ BUKAN IMAN YANG PALSU)

Percaya Tuhan dengan sepenuh hati tanpa ragu itu adalah iman. Iman dalam Ibrani 11:1 menuliskan bahwa iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.

(Ilustrasi : hadir dipesta makan rendang daging, malah dapat lengkuas)

Percaya bukan hanya sekedar dari mulut tapi dari tindakan kita. Kita tidak bisa menyerahkan persoalan hidup kita denga setengah hati kepada Tuhan. Tetapi harus dengan sepenuh hati dengan tanpa keraguan DAN TANPA KEPALSUAN.

Nuh untuk menyenangkan hati Tuhan Nuh tahu apa yang harus dilakukannya, yaitu percaya atas semua perintah Tuhan. Sekalipun dalam pemikirannya adalah sesuatu kemustahilan, apa dia mmapu melakukan perintah Tuhan, tetapi Nuh tetap melakukannya.
 Bagaimana dengan kita?................................

  1. KITA DAPAT MENYENANGKAN HATI TUHAN DENGAN HIDUP SETIA DI HADAPAN TUHAN.

Kejadian 6:9 “….Nuh adalah orang yang benar dan tidak tercela diantara orang se-jamannya dulu; Dan Nuh hidup bergaul dengan Tuhan”.

Zaman sekarang banyak orang ikut Tuhan tetapi tidak semua orang mau hidup di dalam Tuhan, banyak orang mau nya hidup mendua dalam hidup  beribadah kepada Tuhan.
(ilustrasi berdiri diatas dua perahu, kaki yang satu diperahu yang satu dan satu kaki diperahu yang lain).

Rajin beribadah apakah benar hatinya untuk Tuhan (setia) ; kelihatannya rajin melayani apakah untuk Tuhan (setia) untuk kemuliaan Tuhan, ataukah untuk menunjukkan kehebatan diri sendiri, sehingga bagian pelayanan orang lain pun diambilnya juga.
Mari kita koreksi bersama dihadapan Tuhan apakah semua itu sudah menyenangkan hati Tuhan? Tuhan mau semua yang kita lakukan disertai kesetiaan dihadapan Tuhan.

           

Wednesday, November 17, 2010

AKTIF KEMBALI

Syalom rekan-rekan, doakan blog saya ini akan mulai saya aktifkan kembali dengan artikel-artikel yang diharapkan memberkati anda semua. Tuhan Yesus memberkati.

Friday, June 5, 2009

Pelantikan Guru Injil Distrik I Wilayah I

CGI. David Aritonang, S.Th dan saya (CGI. David Kandar, S.Th)
Penumpangan tangan oleh Pimpinan Distrik I Wilayah I DS. Pdt. Yayasin Purba
Penumpangan Tangan oleh Pimpinan Distrik I Wilayah I DS Pdt. Yayasin Purba
Pengutusan Pemberitaan Injil oleh DS Pdt. Yayasin Purba
d dampingi oleh wakil dari Jemaat Pos Pelayanan Methodist Brahrang (Ibu Rebeka)

PELANTIKAN GURU INJIL (GI.)
DISTRIK I WILAYAH I
GEREJA METHODIST INDONESIA

CGI. David Kandar, S.Th
menjadi
GI. David Kandar, S.Th

Pada Hari Rabu, 03 Juni 2009, Pk. 16.00, bertempat di Gereja Methodist Indonesia Siloam Binjai, dalam Konperensi Distrik I Wilayah I Gereja Methodist Indonesia, di laksanakan acara pelantikan Guru Injil Distrik I Wilayah I diantaranya yang dilantik adalah mereka yang sudah memenuhi syarat yang tercantum dalam Disiplin Gereja Methodist.
Pelantikan dilaksanakan oleh Pimpinan Distrik I Wilayah I, DS. Pdt. Yayasin Purba S. dan disaksikan oleh konpresisten yang hadir pada saat itu, yaitu majelis dan utusan gereja-gereja Methodist se-distrik I, dan semua Pdt/ Guru Injil yang melayani di Distrik I.




Wednesday, May 27, 2009

"Malam Pemulihan III" Kenaikan Tuhan Yesus


Juliaty, Shely, dan Suryani eh yang sembunyi itu Desi lho...
Ini dia Remaja Cowok Pos Pelayanan Methodist Brahrang
Jemaat yang antusias mengikuti ibadah Malam Pemulihan
Jumlah kehadiran mencapai lebih dari 100 orang
Pdt. Torang Pasaribu, S.Th, MA. (Ketua Umum Yayasan Terang Hidup)
HambaNya yang sedang menantang jemaat dalam altar Call
Komitment dan kerendahan hati jemaat
Berkan hatimu untyuk Brahrang
Jason (Gitar), Riandy Yap (Keyboard), heni (singer)
(Ev. Sistiani sedag memimpin acara Malam Pemulihan III)
Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah mempercayakan pelayanan ini.
Pada hari Minggu, 24 Mei 2009, Pk 19.00 WIB. Pos Pelayanan Methodist Brahrang mengadakan acara "Malam Pemulihan III" Memperingati Hari Kenaikan Tuhan Yesus. Acara ini berlangsung dengan baik, dihadiri oleh + 100 orang, dengan membawa tema : "Tanda-Tanda orang Percaya" (Mazmur 25), Pdt. Torang Pasaribu, S.Th, MA. mengajak jemaat untuk kembali berkomitment sebagai orang Percaya yang sudah memiliki keselamatan dari Tuhan Yesus untuk tidak egois tetapi harus memberitakan keselamatan tersebut kepada orang-orang lain yang belum percaya.
Berikut personel acara yang telah diberikan kepercayaan oleh Tuhan Yesus melasanakan acara ini:
Koordinator Umum : CGI. David Kandar, S.Th
Koordinator Publikasi : Ev. Bertlan Sihombing M.Couns
Koordinator Acara : Gr. Sistiani
Personel :
Song leader : Gr. Sistiani
Singers : Sdri. Heni; Sdr. Albert
Pemusik : Sdr. Riandy (Keyboard); Sdr. Jason (Guitar)
Perlengkapan dan peralatan : Sdr. Sutono; Sdr. Steven; Sdr. Albert
Dan semua personel adalah hasil dari koordinasi seluruh anggota PRMI yang mempunyai beban pelayanan untuk kemajuan Pos Pelayanan Methodits Brahrang.
Demikian sediit ulasan acara "Malam Pemulihan III" ini. Doa dan harapan saya pribadi melalui acara ini memberikan semangat dan komitment yang baru untuk lebih lagi melayani demi pertumbuhan jemaat Pos Pelayaan Brahrang, secara khusus bagi pengurus, Ketua Kebaktian Umum. Untuk lebih mempunyai beban dalam pelayanan. Thanks. GBU

Berikut sekilas foto-foto Malam pemulihan Kenaikan Tuhan Yesus:

Thursday, February 5, 2009

Olive Sang Malaikat Kecil


























































































































































Sang Malaikat Kecil telah Menyelesaikan Tugasnya

Kisah nyata tentang kehidupan gadis kecil yang bernama Olivia
________________________________________________________________________
Pengantar Redaksi: Dalam terbitan Warta RC minggu lalu dimuat suatu ucapan belasungkawa atas berpulangnya Olivia Laurencia, 10 tahun, keponakan dari Jelly Lim, anggota Dewan Paroki Regina Caeli. Banyak Warga RC yang menyempatkan diri melayat di rumah duka ikut menitikkan air mata tapi sekaligus diteguhkan iman mereka mendengar kisah hidup Olivia yang berjuang melawan penyakitnya sejak usia satu setengah tahun. Berikut adalah kesaksian yang ditulis oleh salah seorang kerabatnya. Semoga kesaksian ini membawa kita pada permenungan yang mendalam tentang makna hidup kita masing-masing.
______________________________________________________________________________________
Tiga Juli 1999, tangis bayi memecah kesunyian. Sang bayi mungil lahir ke dunia membawa kebahagiaan bagi pasangan Jimmy dan Aiwan. Kulit putih kemerah-merahan, mata yang sungguh indah, bahkan ia memiliki bobot tubuh yang cukup besar dibandingkan ukuran normal bayi yang baru lahir. Semua orang yang melihat memuji sang bayi cantik yang kemudian diberi nama Olivia Laurencia dengan nama kecil Ping Ping ini. Yah, ini adalah mahakarya yang sungguh indah dari Tuhan bagi keluarga muda itu.
Sang bayi mungil tumbuh cepat dan makin cantik dari waktu ke waktu. Babak baru kehidupannya dimulai ketika umur satu setengah tahun. Saat anggota keluarga yang lain melihat adanya kelainan penglihatan pada Oliv kecil, segera mereka memeriksakannya ke dokter. Bagaikan disambar petir mereka harus menerima kenyataan bahwa Olivia divonis menderita kanker mata, atau istilah kedokterannya penyakit Retina Blastoma. “Biasanya untuk penyakit begini umurnya paling sekitar 2 tahun lagi,” demikian kata sang dokter yang terus terngiang-ngiang di ingatan orangtuanya.

Bergelut dengan Pengobatan

Berbagai pengobatan mulai dijalani, bahkan pengobatan sampai ke luar negeri. Dokter menyarankan agar bola mata kiri yang terkena kanker segera diangkat. Namun sang papa bersikeras untuk tidak mengambil jalan itu. “Dia seorang anak gadis, bagaimana dia menghadapi hidupnya kelak dengan mata palsunya. Jalan ini juga tidak bisa menjamin 100% sel kanker itu hilang begitu saja. Mata dia sungguh indah, semua orang juga mengakuinya,” berontak sang papa. Akhirnya dipakailah cara kemotherapy untuk mematikan sel-sel kanker yang telah tumbuh itu. Saat sang putri kesayangan teriak menahan sakit yang dideritanya, sang papa tidak kuat menerima kenyataan itu bahkan ia membenturkan kepalanya sendiri ke dinding.
Menurut pengakuannya meski sudah dibaptis dan menjadi pengikut Kristus, Jimmy dan Aiwan belum menjadi pengikut Kristus yang sesungguhnya. Untuk pergi ke gereja pun kadang masih agak ogah-ogahan. Tepatnya hanya menjadi umat yang biasa-biasa saja. Dalam mimpinya suatu malam Jimmy didatangi oleh malaikat yang membawa sebuah maklumat berisi hanya satu kata ‘BAPTIS’. Setelah menceritakan kepada saudaranya, saudaranya itu memberikan masukan “baptis berarti kamu mesti bertobat!”. Sambil tetap menjalani pengobatan, kondisi Olivia mengantar papa dan mamanya lebih rajin dalam berdoa dan mengikuti persekutuan. Mereka lebih berpasrah dan menyerahkan sepenuhnya kepada kehendak Bapa. Mereka bertumbuh dalam iman di tengah penyakit yang diderita Olivia.
Di sela-sela kesibukan mengurusi pengobatan Olivia, Allah mendatangkan penghibur di keluarga ini. Seorang anak pemberian Tuhan hadir di tengah mereka. Sang adik kecil itu kemudian diberi nama Yohanes Natanael. Setidaknya ini adalah suatu penghiburan di tengah kesedihan mereka.
Olivia sempat menjalani dua kali kemotherapy yang membuat kondisi fisiknya drop. Saat ia drop dan trombosit dalam tubuhnya turun, sang papa dan pamannya dengan kondisi was-was musti siap mengantri sepanjang hari untuk mendapatkan bantuan darah di PMI. Demikian sepanjang hidupnya Olivia menjalani pengobatan. Biasanya setelah therapy ia mengalami kerontokan rambut hingga botak sama sekali. Dengan fisik yang demikian Olivia tidak pernah merasa rendah diri. Ia tetap menjadi anak yang periang. Bahkan di sekolah ia termasuk salah satu murid yang memiliki prestasi yang cemerlang. Seluruh keluarga besar sangat menyayangi dan memberi perhatian penuh kepadanya. Saat ilmu kedokteran sudah angkat tangan dan hanya memberikan harapan kosong atas kesembuhannya, seluruh keluarga tidak berputus asa. Berbagai pengobatan alternatif dijalani. Pantangan-pantangan makanan selalu dituruti oleh gadis kecil ini. Obat-obatan dari berbagai bentuk dan rasa yang sungguh merusak indra pengecapan juga dilahap dengan pasrah.

Membawa kepada Kristus

Dalam kondisi demikian, Oliv kecil sungguh bergantung pada Tuhan Yesus. Setiap pagi saat jam dinding baru menunjukkan pukul 04.00, bagai jam weker Olivia membangunkan orangtuanya untuk mengajak doa pagi. Ketika melihat papanya bersedih hati, Olivia selalu berujar “Smile”. Dengan polosnya Olivia berujar dan mengajarkan papanya “Dalam masalah apa pun kita harus selalu smile.” Imannya kepada Yesus itu membuat ia boleh dibilang tak pernah mengeluh soal penyakit yang dideritanya. Ia bahkan tak pernah menangis karena penyakit itu.
Iman Olivia ini menghantarkan sang kakek, nenek, om, tante yang belum mengenal Kristus menjadi orang-orang percaya. Ketegaran Olivia membuat mereka semua merasakan bahwa Yesus sungguh ada bersama Olivia. Hal itu pula yang kemudian mendorong keluarga besarnya semakin berpasrah pada Yesus. Bahkan mereka kemudian terjun aktif dalam kegiatan rohani di lingkungannya. Sungguh inilah karya besar yang ditinggalkannya.
Bulan-bulan terakhir menjelang ajalnya ia menunjukkan kasihnya yang luar biasa kepada keluarganya, terutama kepada adik kecilnya. Ia berujar kepada sang mama “Kan Oliv mau jadi peri yang baik hati”. Natal dan malam Tahun Baru 31 Desember 2008, meskipun menahan sakit kepala yang belakangan selalu menyerangnya, ia berusaha tetap ceria. Saat acara tukar kado bersama jemaat Gereja, ia juga masih selalu bercanda dengan semua orang. Beberapa hari kemudian, 4 Januari 2009, saat sakit kepala yang semakin parah dan disertai dengan muntah-muntah, keluarga memutuskan untuk merawatnya di rumah sakit. Semakin lama kondisi fisiknya semakin parah. Tubuhnya bahkan sudah sulit untuk menerima asupan makanan. Hal yang ditakutkan pun terjadi. Hasil MRI menunjukkan sel kanker yang sudah membutakan mata kirinya telah menjalar sampai ke otak bahkan ke seluruh tubuhnya.

“Terimakasih Tuhan Yesus”
Setiap hari ia hanya bisa terbaring lemas dan tertidur. Saat ia terbangun, kesakitan yang sungguh luar biasa dialaminya. Ia hanya bisa berteriak, “Aduh sakit, sakit sekali Tuhan…”. Sang mama yang tidak kuat melihat penderitaan putrinya mengatakan, “Kalau sakit sekali, menangis saja Oliv,” tapi anak ini sungguh kuat. Dia tidak pernah mau menangisi kesakitannya. Orang tuanya kembali dikuatkan dan diajarkan untuk tetap tegar dalam segala masalah, walaupun itu tidak mengenakkan. Kesakitannya semakin memuncak, bahkan obat penahan sakit yang diberikan dokter sudah tidak bisa menghilangkan rasa sakit itu. Dua malam menjelang ajalnya, Oliv yang bulan Juli mendatang genap berumur 10 tahun berdoa penuh iman. “Terima kasih Tuhan atas kasih karuniaMu, Oliv percaya Oliv sudah sembuh, Oliv sudah dipulihkan. Tidak ada satu penyakit apa pun di badan Oliv, dari ujung rambut sampai ujung kaki Oliv, karena sudah Engkau tebus di kayu salib. Tuhan berkati Oliv, Tuhan ampuni semua dosa Oliv, terima kasih Tuhan, Haleluya, Amin...” Sebuah doa yang sungguh indah dan penuh makna. Doa seorang anak yang sungguh mencintai dan mengimani Yesus.
Saat malam terakhir ia bahkan sempat meminta sang papa yang memang sangat dekat dengannya untuk memeluk, menurunkannya dari ranjang pasien dan memangkunya. Dia meminta kepada semua orang dan keluarga yang mengunjunginya untuk senantiasa berdoa dan mendoakannya sepanjang malam itu. Detik-detik maut semakin mendekatinya. Dalam kesakitan yang sudah tidak tertahan, kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya “Sakit sekali ya Tuhan, Oliv sudah tidak tahan lagi…” kemudian kepalanya jatuh terkulai sambil berucap “Trima kasih Tuhan Yesus” . Kemudian ia sudah tidak sadarkan diri, tubuhnya mulai kejang-kejang. Saat sang papa membisikkan ke telinganya “Papa merelakan Oliv pergi, karena papa percaya di surga penuh damai sejahtera dari pada di dunia dengan menanggung penderitaan. Saat Oliv bertemu dengan Yesus dan Yesus ingin memegang tangan Oliv, segeralah sambut tangan-Nya. Selamat jalan Oliv kami semua merelakan Oliv.” Dalam kondisi yang sudah ‘koma’ Olivia meneteskan airmata.
Sesaat setelah itu, bergantian istri pendeta memegang tangan Oliv sambil membisikkan di telinganya, “Kalau Oliv sudah bertemu Tuhan Yesus, Oliv genggam kencang tangan tante yah.." Dalam keadaan ‘koma’ itu ia benar2 menggenggam tangan itu dan tak lama kemudian Oliv kecil pun pergi untuk selamanya dengan perlahan, tenang dan damai. Dua belas Januari 2009, pukul 15.45.

Tugasnya sudah selesai

Kedua orang tuanya tentu sedih dengan kepergiannya. Tapi mereka mengimani bahwa Olivia sudah bahagia di surga selamanya. Mereka berusaha menahan tetesan airmata dan merelakan kepergiannya. Mereka berusaha meneladani apa yang selalu dikatakan Olivia selama hidupnya, bahwa “Segala sesuatu ada waktunya; selalu tersenyumlah dalam segala hal; tetap kuat dan tegar dalam pergumulan; berserah dirilah kepada Tuhan Yesus, karena Dia akan memberikan jalan terbaik dan selalu mengasihi kita”.
Jasadnya sudah terbaring kaku, tapi ia terlihat seperti hanya tertidur. Semua pelayat yang melihat, memuji Olivia bagaikan peri kecil cantik yang tertidur pulas. Wajah dan kulitnya putih bersih. Bibir kecilnya menyunggingkan senyum kecil bahagia. Salah satu mata yang tadinya agak cekung karena sel kanker sudah menggerogoti dan membutakan mata kirinya bahkan terlihat normal kembali. Ia benar-benar seperti tertidur. Semua mengimani, saat ajal menjemputnya Tuhan terlebih dahulu memulihkan fisiknya. Keluarga besarnya juga mengimani bahwa Olivia adalah penolong yang diberikan Tuhan di tengah-tengah keluarga mereka. Melalui sakit yang dideritanya satu persatu anggota keluarga besarnya bertobat dan menerima Kristus. Tugas malaikat kecil ini sudah selesai, maka ia kembali dipanggil Bapa ke surga.
Bahkan saat pemakamannya, di tengah-tengah cuaca yang sepanjang hari dipenuhi hujan deras, ketika kebaktian pamakaman dimulai, dan ketika sang pemimpin Ibadat menyerukan “Semoga prosesi pemakaman ini diliputi dengan cuaca cerah… Tuhan, walaupun kami tidak dapat melihat dengan mata kami tapi kami yakin Tuhan hadir di tempat ini,” detik itu juga, gemuruh guntur berbunyi seakan langit menjawab. Dan hujan yang sepanjang hari menyelimuti bumi, seketika berhenti. Semua yang menghantar ke pemakaman ini dengan tertegun berujar dalam hati, “Sungguh ia benar-benar dikasihi Tuhan”.
Segalanya berjalan lancar, kepergian sang malaikat kecil bahkan didoakan dan dihantar oleh beratus-ratus pelayat. Walaupun Olivia sudah tidak ada di dunia, tapi karyanya dalam dunia sungguh selalu akan dikenang. Karena bukan diukur dari berapa lama kita tinggal di dunia, tetapi seberapa berartinya hidup yang kita jalani.
Selamat jalan Olivia, doa kami menyertaimu selalu. Dan kami percaya, engkau juga senantiasa mendoakan kami dari sana. (sanz)

Sunday, February 1, 2009

"Natal Pos Pelayanan Methodist Brahrang Desember 2009"

Puji Tuhan, segala nya karena anugerahNYA, pada tanggal 21 bulan Desember 2009 Panitia Natal Pos Pelayanan Methodist Brahrang telah berhasil menjalankan tugas pelayanannya, disebabkan acara Natal telah berjalan dengan baik.
Keberhasilan Ke panitia an Natal yang di mayoritasi oleh Remaja Methodist Pos Pelayanan Brahrang dapat terlaksanakan disebabkan karena adanya kesatuan hati dari semua panitia, dan kesatuan dalama persekutuan.
Kepanitiaan Natal ini dikomandoi oleh Ev. Bertlan S, S.Th, M.Couns, sebagai Ketua Panitia. Dan dengan mengusung Tema : "Bersatu dalam Kristus", dengan kerinduan Natal tahun ini membawa pemahaman bahwa dalam Persekutuan atau Ibadah dalam Kristus tidak pernah membeda-bedakan budaya, bahasa, adat istiadat, dan kelas sosial, karena ketika kita menjadi milik Kristus, kita adalah sama di hadapanNYA.
Renungan Natal di bawakan oleh Ev. Hana Shi, dengan tema diatas, Ev. Hana Shi menjelaskan lebih tegas lagi bahwa adanya suatu harapan bagi Gereja saat ini untuk tidak mengulang kembali peristiwa Mahatma Gandi yang ditolak oleh Gereja di India ketika Mahatma Gandi akan beribadah, disebabkan gereja di India pada saat itu terlalu sukuisme. Kerinduannya, gereja dapat menerima setiap orang yang percaya Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat dan yang mau beribadah tanpa membeda-bedakan. Lanjutnya beliau menegaskan bahwa, Yesus pun datang ke dunia dan sebelum naik Ke Surga pesannya adalah berita keselamatan untuk seluruh bangsa di dunia.
Berikut beberapa Foto Panitia, (Remaja) dan Ev. David Kandar, S.Th, seusai acara Natal: