SELAMAT DATANG

Selamat datang di blog saya, semoga anda diberkati, Tuhan Yesus mengasihi anda.
Jika membutuhkan pelayanan saya silahkan menghubungi email dave_kandar@yahoo.com; atau Hp. 0813-6409-5029.

Tentang saya

My photo
Pelayanan di Gereja Methodist Indonesia (GMI) Getsemani Binjai Sumatera Utara sebagai asistan gembala sidang dan gembala Pos Pelayanan di Brahrang (2004-2011). Gembala Sidang GMI Damai Sejahtera Jakarta Barat (2011-2013). Asistan gembala sidang di GMI Anugerah Batam (2013-2014). Gembala Sidang GMI Kana Marelan (2014-2015). Pimpinan Perguruan PKMI Methodist-10 TK-SD-SMP Belawan (2015-2018). Asistan Pimpinan Jemaat GMI Kanaan Medan (2018-2019). Pimpinan Perguruan PKMI 2 Kisaran Asahan (2019-2021). Gembala Sidang GMI Kanaan Medan (2021-2022). Pimpinan Perguruan PKMI Pangkalan Brandan dan Gembala Sidang GMI Pangkalan Brandan (2022- sekarang) Tinggal di Pangkalan Brandan Langkat dan melayani bersama istri Pdt. Delima Li En dan dikaruniai seorang anak Daud Kharis Delvidson Kandar.

Blog Archive

Friday, June 5, 2009

Pelantikan Guru Injil Distrik I Wilayah I

CGI. David Aritonang, S.Th dan saya (CGI. David Kandar, S.Th)
Penumpangan tangan oleh Pimpinan Distrik I Wilayah I DS. Pdt. Yayasin Purba
Penumpangan Tangan oleh Pimpinan Distrik I Wilayah I DS Pdt. Yayasin Purba
Pengutusan Pemberitaan Injil oleh DS Pdt. Yayasin Purba
d dampingi oleh wakil dari Jemaat Pos Pelayanan Methodist Brahrang (Ibu Rebeka)

PELANTIKAN GURU INJIL (GI.)
DISTRIK I WILAYAH I
GEREJA METHODIST INDONESIA

CGI. David Kandar, S.Th
menjadi
GI. David Kandar, S.Th

Pada Hari Rabu, 03 Juni 2009, Pk. 16.00, bertempat di Gereja Methodist Indonesia Siloam Binjai, dalam Konperensi Distrik I Wilayah I Gereja Methodist Indonesia, di laksanakan acara pelantikan Guru Injil Distrik I Wilayah I diantaranya yang dilantik adalah mereka yang sudah memenuhi syarat yang tercantum dalam Disiplin Gereja Methodist.
Pelantikan dilaksanakan oleh Pimpinan Distrik I Wilayah I, DS. Pdt. Yayasin Purba S. dan disaksikan oleh konpresisten yang hadir pada saat itu, yaitu majelis dan utusan gereja-gereja Methodist se-distrik I, dan semua Pdt/ Guru Injil yang melayani di Distrik I.




Wednesday, May 27, 2009

"Malam Pemulihan III" Kenaikan Tuhan Yesus


Juliaty, Shely, dan Suryani eh yang sembunyi itu Desi lho...
Ini dia Remaja Cowok Pos Pelayanan Methodist Brahrang
Jemaat yang antusias mengikuti ibadah Malam Pemulihan
Jumlah kehadiran mencapai lebih dari 100 orang
Pdt. Torang Pasaribu, S.Th, MA. (Ketua Umum Yayasan Terang Hidup)
HambaNya yang sedang menantang jemaat dalam altar Call
Komitment dan kerendahan hati jemaat
Berkan hatimu untyuk Brahrang
Jason (Gitar), Riandy Yap (Keyboard), heni (singer)
(Ev. Sistiani sedag memimpin acara Malam Pemulihan III)
Puji syukur kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah mempercayakan pelayanan ini.
Pada hari Minggu, 24 Mei 2009, Pk 19.00 WIB. Pos Pelayanan Methodist Brahrang mengadakan acara "Malam Pemulihan III" Memperingati Hari Kenaikan Tuhan Yesus. Acara ini berlangsung dengan baik, dihadiri oleh + 100 orang, dengan membawa tema : "Tanda-Tanda orang Percaya" (Mazmur 25), Pdt. Torang Pasaribu, S.Th, MA. mengajak jemaat untuk kembali berkomitment sebagai orang Percaya yang sudah memiliki keselamatan dari Tuhan Yesus untuk tidak egois tetapi harus memberitakan keselamatan tersebut kepada orang-orang lain yang belum percaya.
Berikut personel acara yang telah diberikan kepercayaan oleh Tuhan Yesus melasanakan acara ini:
Koordinator Umum : CGI. David Kandar, S.Th
Koordinator Publikasi : Ev. Bertlan Sihombing M.Couns
Koordinator Acara : Gr. Sistiani
Personel :
Song leader : Gr. Sistiani
Singers : Sdri. Heni; Sdr. Albert
Pemusik : Sdr. Riandy (Keyboard); Sdr. Jason (Guitar)
Perlengkapan dan peralatan : Sdr. Sutono; Sdr. Steven; Sdr. Albert
Dan semua personel adalah hasil dari koordinasi seluruh anggota PRMI yang mempunyai beban pelayanan untuk kemajuan Pos Pelayanan Methodits Brahrang.
Demikian sediit ulasan acara "Malam Pemulihan III" ini. Doa dan harapan saya pribadi melalui acara ini memberikan semangat dan komitment yang baru untuk lebih lagi melayani demi pertumbuhan jemaat Pos Pelayaan Brahrang, secara khusus bagi pengurus, Ketua Kebaktian Umum. Untuk lebih mempunyai beban dalam pelayanan. Thanks. GBU

Berikut sekilas foto-foto Malam pemulihan Kenaikan Tuhan Yesus:

Thursday, February 5, 2009

Olive Sang Malaikat Kecil


























































































































































Sang Malaikat Kecil telah Menyelesaikan Tugasnya

Kisah nyata tentang kehidupan gadis kecil yang bernama Olivia
________________________________________________________________________
Pengantar Redaksi: Dalam terbitan Warta RC minggu lalu dimuat suatu ucapan belasungkawa atas berpulangnya Olivia Laurencia, 10 tahun, keponakan dari Jelly Lim, anggota Dewan Paroki Regina Caeli. Banyak Warga RC yang menyempatkan diri melayat di rumah duka ikut menitikkan air mata tapi sekaligus diteguhkan iman mereka mendengar kisah hidup Olivia yang berjuang melawan penyakitnya sejak usia satu setengah tahun. Berikut adalah kesaksian yang ditulis oleh salah seorang kerabatnya. Semoga kesaksian ini membawa kita pada permenungan yang mendalam tentang makna hidup kita masing-masing.
______________________________________________________________________________________
Tiga Juli 1999, tangis bayi memecah kesunyian. Sang bayi mungil lahir ke dunia membawa kebahagiaan bagi pasangan Jimmy dan Aiwan. Kulit putih kemerah-merahan, mata yang sungguh indah, bahkan ia memiliki bobot tubuh yang cukup besar dibandingkan ukuran normal bayi yang baru lahir. Semua orang yang melihat memuji sang bayi cantik yang kemudian diberi nama Olivia Laurencia dengan nama kecil Ping Ping ini. Yah, ini adalah mahakarya yang sungguh indah dari Tuhan bagi keluarga muda itu.
Sang bayi mungil tumbuh cepat dan makin cantik dari waktu ke waktu. Babak baru kehidupannya dimulai ketika umur satu setengah tahun. Saat anggota keluarga yang lain melihat adanya kelainan penglihatan pada Oliv kecil, segera mereka memeriksakannya ke dokter. Bagaikan disambar petir mereka harus menerima kenyataan bahwa Olivia divonis menderita kanker mata, atau istilah kedokterannya penyakit Retina Blastoma. “Biasanya untuk penyakit begini umurnya paling sekitar 2 tahun lagi,” demikian kata sang dokter yang terus terngiang-ngiang di ingatan orangtuanya.

Bergelut dengan Pengobatan

Berbagai pengobatan mulai dijalani, bahkan pengobatan sampai ke luar negeri. Dokter menyarankan agar bola mata kiri yang terkena kanker segera diangkat. Namun sang papa bersikeras untuk tidak mengambil jalan itu. “Dia seorang anak gadis, bagaimana dia menghadapi hidupnya kelak dengan mata palsunya. Jalan ini juga tidak bisa menjamin 100% sel kanker itu hilang begitu saja. Mata dia sungguh indah, semua orang juga mengakuinya,” berontak sang papa. Akhirnya dipakailah cara kemotherapy untuk mematikan sel-sel kanker yang telah tumbuh itu. Saat sang putri kesayangan teriak menahan sakit yang dideritanya, sang papa tidak kuat menerima kenyataan itu bahkan ia membenturkan kepalanya sendiri ke dinding.
Menurut pengakuannya meski sudah dibaptis dan menjadi pengikut Kristus, Jimmy dan Aiwan belum menjadi pengikut Kristus yang sesungguhnya. Untuk pergi ke gereja pun kadang masih agak ogah-ogahan. Tepatnya hanya menjadi umat yang biasa-biasa saja. Dalam mimpinya suatu malam Jimmy didatangi oleh malaikat yang membawa sebuah maklumat berisi hanya satu kata ‘BAPTIS’. Setelah menceritakan kepada saudaranya, saudaranya itu memberikan masukan “baptis berarti kamu mesti bertobat!”. Sambil tetap menjalani pengobatan, kondisi Olivia mengantar papa dan mamanya lebih rajin dalam berdoa dan mengikuti persekutuan. Mereka lebih berpasrah dan menyerahkan sepenuhnya kepada kehendak Bapa. Mereka bertumbuh dalam iman di tengah penyakit yang diderita Olivia.
Di sela-sela kesibukan mengurusi pengobatan Olivia, Allah mendatangkan penghibur di keluarga ini. Seorang anak pemberian Tuhan hadir di tengah mereka. Sang adik kecil itu kemudian diberi nama Yohanes Natanael. Setidaknya ini adalah suatu penghiburan di tengah kesedihan mereka.
Olivia sempat menjalani dua kali kemotherapy yang membuat kondisi fisiknya drop. Saat ia drop dan trombosit dalam tubuhnya turun, sang papa dan pamannya dengan kondisi was-was musti siap mengantri sepanjang hari untuk mendapatkan bantuan darah di PMI. Demikian sepanjang hidupnya Olivia menjalani pengobatan. Biasanya setelah therapy ia mengalami kerontokan rambut hingga botak sama sekali. Dengan fisik yang demikian Olivia tidak pernah merasa rendah diri. Ia tetap menjadi anak yang periang. Bahkan di sekolah ia termasuk salah satu murid yang memiliki prestasi yang cemerlang. Seluruh keluarga besar sangat menyayangi dan memberi perhatian penuh kepadanya. Saat ilmu kedokteran sudah angkat tangan dan hanya memberikan harapan kosong atas kesembuhannya, seluruh keluarga tidak berputus asa. Berbagai pengobatan alternatif dijalani. Pantangan-pantangan makanan selalu dituruti oleh gadis kecil ini. Obat-obatan dari berbagai bentuk dan rasa yang sungguh merusak indra pengecapan juga dilahap dengan pasrah.

Membawa kepada Kristus

Dalam kondisi demikian, Oliv kecil sungguh bergantung pada Tuhan Yesus. Setiap pagi saat jam dinding baru menunjukkan pukul 04.00, bagai jam weker Olivia membangunkan orangtuanya untuk mengajak doa pagi. Ketika melihat papanya bersedih hati, Olivia selalu berujar “Smile”. Dengan polosnya Olivia berujar dan mengajarkan papanya “Dalam masalah apa pun kita harus selalu smile.” Imannya kepada Yesus itu membuat ia boleh dibilang tak pernah mengeluh soal penyakit yang dideritanya. Ia bahkan tak pernah menangis karena penyakit itu.
Iman Olivia ini menghantarkan sang kakek, nenek, om, tante yang belum mengenal Kristus menjadi orang-orang percaya. Ketegaran Olivia membuat mereka semua merasakan bahwa Yesus sungguh ada bersama Olivia. Hal itu pula yang kemudian mendorong keluarga besarnya semakin berpasrah pada Yesus. Bahkan mereka kemudian terjun aktif dalam kegiatan rohani di lingkungannya. Sungguh inilah karya besar yang ditinggalkannya.
Bulan-bulan terakhir menjelang ajalnya ia menunjukkan kasihnya yang luar biasa kepada keluarganya, terutama kepada adik kecilnya. Ia berujar kepada sang mama “Kan Oliv mau jadi peri yang baik hati”. Natal dan malam Tahun Baru 31 Desember 2008, meskipun menahan sakit kepala yang belakangan selalu menyerangnya, ia berusaha tetap ceria. Saat acara tukar kado bersama jemaat Gereja, ia juga masih selalu bercanda dengan semua orang. Beberapa hari kemudian, 4 Januari 2009, saat sakit kepala yang semakin parah dan disertai dengan muntah-muntah, keluarga memutuskan untuk merawatnya di rumah sakit. Semakin lama kondisi fisiknya semakin parah. Tubuhnya bahkan sudah sulit untuk menerima asupan makanan. Hal yang ditakutkan pun terjadi. Hasil MRI menunjukkan sel kanker yang sudah membutakan mata kirinya telah menjalar sampai ke otak bahkan ke seluruh tubuhnya.

“Terimakasih Tuhan Yesus”
Setiap hari ia hanya bisa terbaring lemas dan tertidur. Saat ia terbangun, kesakitan yang sungguh luar biasa dialaminya. Ia hanya bisa berteriak, “Aduh sakit, sakit sekali Tuhan…”. Sang mama yang tidak kuat melihat penderitaan putrinya mengatakan, “Kalau sakit sekali, menangis saja Oliv,” tapi anak ini sungguh kuat. Dia tidak pernah mau menangisi kesakitannya. Orang tuanya kembali dikuatkan dan diajarkan untuk tetap tegar dalam segala masalah, walaupun itu tidak mengenakkan. Kesakitannya semakin memuncak, bahkan obat penahan sakit yang diberikan dokter sudah tidak bisa menghilangkan rasa sakit itu. Dua malam menjelang ajalnya, Oliv yang bulan Juli mendatang genap berumur 10 tahun berdoa penuh iman. “Terima kasih Tuhan atas kasih karuniaMu, Oliv percaya Oliv sudah sembuh, Oliv sudah dipulihkan. Tidak ada satu penyakit apa pun di badan Oliv, dari ujung rambut sampai ujung kaki Oliv, karena sudah Engkau tebus di kayu salib. Tuhan berkati Oliv, Tuhan ampuni semua dosa Oliv, terima kasih Tuhan, Haleluya, Amin...” Sebuah doa yang sungguh indah dan penuh makna. Doa seorang anak yang sungguh mencintai dan mengimani Yesus.
Saat malam terakhir ia bahkan sempat meminta sang papa yang memang sangat dekat dengannya untuk memeluk, menurunkannya dari ranjang pasien dan memangkunya. Dia meminta kepada semua orang dan keluarga yang mengunjunginya untuk senantiasa berdoa dan mendoakannya sepanjang malam itu. Detik-detik maut semakin mendekatinya. Dalam kesakitan yang sudah tidak tertahan, kalimat terakhir yang keluar dari mulutnya “Sakit sekali ya Tuhan, Oliv sudah tidak tahan lagi…” kemudian kepalanya jatuh terkulai sambil berucap “Trima kasih Tuhan Yesus” . Kemudian ia sudah tidak sadarkan diri, tubuhnya mulai kejang-kejang. Saat sang papa membisikkan ke telinganya “Papa merelakan Oliv pergi, karena papa percaya di surga penuh damai sejahtera dari pada di dunia dengan menanggung penderitaan. Saat Oliv bertemu dengan Yesus dan Yesus ingin memegang tangan Oliv, segeralah sambut tangan-Nya. Selamat jalan Oliv kami semua merelakan Oliv.” Dalam kondisi yang sudah ‘koma’ Olivia meneteskan airmata.
Sesaat setelah itu, bergantian istri pendeta memegang tangan Oliv sambil membisikkan di telinganya, “Kalau Oliv sudah bertemu Tuhan Yesus, Oliv genggam kencang tangan tante yah.." Dalam keadaan ‘koma’ itu ia benar2 menggenggam tangan itu dan tak lama kemudian Oliv kecil pun pergi untuk selamanya dengan perlahan, tenang dan damai. Dua belas Januari 2009, pukul 15.45.

Tugasnya sudah selesai

Kedua orang tuanya tentu sedih dengan kepergiannya. Tapi mereka mengimani bahwa Olivia sudah bahagia di surga selamanya. Mereka berusaha menahan tetesan airmata dan merelakan kepergiannya. Mereka berusaha meneladani apa yang selalu dikatakan Olivia selama hidupnya, bahwa “Segala sesuatu ada waktunya; selalu tersenyumlah dalam segala hal; tetap kuat dan tegar dalam pergumulan; berserah dirilah kepada Tuhan Yesus, karena Dia akan memberikan jalan terbaik dan selalu mengasihi kita”.
Jasadnya sudah terbaring kaku, tapi ia terlihat seperti hanya tertidur. Semua pelayat yang melihat, memuji Olivia bagaikan peri kecil cantik yang tertidur pulas. Wajah dan kulitnya putih bersih. Bibir kecilnya menyunggingkan senyum kecil bahagia. Salah satu mata yang tadinya agak cekung karena sel kanker sudah menggerogoti dan membutakan mata kirinya bahkan terlihat normal kembali. Ia benar-benar seperti tertidur. Semua mengimani, saat ajal menjemputnya Tuhan terlebih dahulu memulihkan fisiknya. Keluarga besarnya juga mengimani bahwa Olivia adalah penolong yang diberikan Tuhan di tengah-tengah keluarga mereka. Melalui sakit yang dideritanya satu persatu anggota keluarga besarnya bertobat dan menerima Kristus. Tugas malaikat kecil ini sudah selesai, maka ia kembali dipanggil Bapa ke surga.
Bahkan saat pemakamannya, di tengah-tengah cuaca yang sepanjang hari dipenuhi hujan deras, ketika kebaktian pamakaman dimulai, dan ketika sang pemimpin Ibadat menyerukan “Semoga prosesi pemakaman ini diliputi dengan cuaca cerah… Tuhan, walaupun kami tidak dapat melihat dengan mata kami tapi kami yakin Tuhan hadir di tempat ini,” detik itu juga, gemuruh guntur berbunyi seakan langit menjawab. Dan hujan yang sepanjang hari menyelimuti bumi, seketika berhenti. Semua yang menghantar ke pemakaman ini dengan tertegun berujar dalam hati, “Sungguh ia benar-benar dikasihi Tuhan”.
Segalanya berjalan lancar, kepergian sang malaikat kecil bahkan didoakan dan dihantar oleh beratus-ratus pelayat. Walaupun Olivia sudah tidak ada di dunia, tapi karyanya dalam dunia sungguh selalu akan dikenang. Karena bukan diukur dari berapa lama kita tinggal di dunia, tetapi seberapa berartinya hidup yang kita jalani.
Selamat jalan Olivia, doa kami menyertaimu selalu. Dan kami percaya, engkau juga senantiasa mendoakan kami dari sana. (sanz)

Sunday, February 1, 2009

"Natal Pos Pelayanan Methodist Brahrang Desember 2009"

Puji Tuhan, segala nya karena anugerahNYA, pada tanggal 21 bulan Desember 2009 Panitia Natal Pos Pelayanan Methodist Brahrang telah berhasil menjalankan tugas pelayanannya, disebabkan acara Natal telah berjalan dengan baik.
Keberhasilan Ke panitia an Natal yang di mayoritasi oleh Remaja Methodist Pos Pelayanan Brahrang dapat terlaksanakan disebabkan karena adanya kesatuan hati dari semua panitia, dan kesatuan dalama persekutuan.
Kepanitiaan Natal ini dikomandoi oleh Ev. Bertlan S, S.Th, M.Couns, sebagai Ketua Panitia. Dan dengan mengusung Tema : "Bersatu dalam Kristus", dengan kerinduan Natal tahun ini membawa pemahaman bahwa dalam Persekutuan atau Ibadah dalam Kristus tidak pernah membeda-bedakan budaya, bahasa, adat istiadat, dan kelas sosial, karena ketika kita menjadi milik Kristus, kita adalah sama di hadapanNYA.
Renungan Natal di bawakan oleh Ev. Hana Shi, dengan tema diatas, Ev. Hana Shi menjelaskan lebih tegas lagi bahwa adanya suatu harapan bagi Gereja saat ini untuk tidak mengulang kembali peristiwa Mahatma Gandi yang ditolak oleh Gereja di India ketika Mahatma Gandi akan beribadah, disebabkan gereja di India pada saat itu terlalu sukuisme. Kerinduannya, gereja dapat menerima setiap orang yang percaya Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat dan yang mau beribadah tanpa membeda-bedakan. Lanjutnya beliau menegaskan bahwa, Yesus pun datang ke dunia dan sebelum naik Ke Surga pesannya adalah berita keselamatan untuk seluruh bangsa di dunia.
Berikut beberapa Foto Panitia, (Remaja) dan Ev. David Kandar, S.Th, seusai acara Natal:




Saturday, January 31, 2009

"CINTA itu semacam BENIH"


(Dedicated to my Friend-PLMBNG)
Tambah Gambar
Melalui kisah cinta Mario dan Rima dibawah ini, maka teori yang mengatakan "Cinta itu semacam benih" ternyata benar. Cinta itu ibarat sebuah benih yang keberhasilannya tergantung pada bagaimana setiap pasangan memelihara, merawat, menyiram, dan mengijinkannya untuk bertumbuh semakin hari semakin kuat. Jadi yang paling penting adalah ada benih cinta dan benih itu harus dijaga, dirawat dan dipelihara.


PEREMPUAN YG DICINTAI SUAMIKU (Sebuah cerita ilustrasi)

Kehidupan pernikahan kami awalnya baik2 saja menurutku. Meskipun menjelang pernikahan selalu terjadi konflik, tapi setelah menikah Mario tampak baik dan lebih menuruti apa mauku. Kami tidak pernah bertengkar hebat, kalau marah dia cenderung diam dan pergi kekantornya bekerja sampai subuh, baru pulang kerumah, mandi, kemudian mengantar anak kami sekolah. Tidurnya sangat sedikit, makannya pun sedikit. Aku pikir dia workaholic. Dia menciumku maksimal 2x sehari, pagi menjelang kerja, dan saat dia pulang kerja, itupun kalau aku masih bangun. Karena waktu pacaran dia tidak pernah romantis, aku pikir, memang dia tidak romantis, dan tidak memerlukan hal2 seperti itu sebagai ungkapan sayang. Kami jarang ngobrol sampai malam, kami jarang pergi nonton berdua, bahkan makan berdua diluarpun hampir tidak pernah. Kalau kami makan di meja makan berdua, kami asyik sendiri dengan sendok garpu kami, bukan obrolan yang terdengar, hanya denting piring yang beradu dengan sendok garpu. Kalau hari libur, dia lebih sering hanya tiduran dikamar, atau main dengan anak2 kami, dia jarang sekali tertawa lepas. Karena dia sangat pendiam, aku menyangka dia memang tidak suka tertawa lepas. Aku mengira rumah tangga kami baik2 saja selama 8 tahun pernikahan kami. Sampai suatu ketika, disuatu hari yang terik, saat itu suamiku tergolek sakit dirumah sakit, karena jarang makan, dan sering jajan di kantornya, dibanding makan dirumah, dia kena typhoid, dan harus dirawat di RS, karena sampai terjadi perforasi di ususnya. Pada saat dia masih di ICU, seorang perempuan datang menjenguknya. Dia memperkenalkan diri, bernama meisha, temannya Mario saat dulu kuliah. Meisha tidak secantik aku, dia begitu sederhana, tapi aku tidak pernah melihat mata yang begitu cantik seperti yang dia miliki. Matanya bersinar indah, penuh kehangatan dan penuh cinta, ketika dia berbicara, seakan2 waktu berhenti berputar dan terpana dengan kalimat2nya yang ringan dan penuh pesona. Setiap orang, laki2 maupun perempuan bahkan mungkin serangga yang lewat, akan jatuh cinta begitu mendengar dia bercerita. Meisha tidak pernah kenal dekat dengan Mario selama mereka kuliah dulu, Meisha bercerita Mario sangat pendiam, sehingga jarang punya teman yang akrab. 5 bulan lalu mereka bertemu, karena ada pekerjaan kantor mereka yang mempertemukan mereka. Meisha yang bekerja di advertising akhirnya bertemu dengan Mario yang sedang membuat iklan untuk perusahaan tempatnya bekerja. Aku mulai mengingat2 5 bulan lalu ada perubahan yang cukup drastis pada Mario , setiap mau pergi kerja, dia tersenyum manis padaku, dan dalam sehari bisa menciumku lebih dari 3x.. Dia membelikan aku parfum baru, dan mulai sering tertawa lepas. Tapi disaat lain, dia sering termenung didepan komputernya. Atau termenung memegang Hp-nya. Kalau aku tanya, dia bilang, ada pekerjaan yang membingungkan. Suatu saat Meisha pernah datang pada saat Mario sakit dan masih dirawat di RS. Aku sedang memegang sepiring nasi beserta lauknya dengan wajah kesal, karena Mario tidak juga mau aku suapi. Meisha masuk kamar, dan menyapa dengan suara riangnya, " Hai Rima, kenapa dengan anak sulungmu yang nomor satu ini ? tidak mau makan juga? uhh… dasar anak nakal, sini piringnya, " lalu dia terus mengajak Mario bercerita sambil menyuapi Mario , tiba2 saja sepiring nasi itu sudah habis ditangannya. Dan….aku tidak pernah melihat tatapan penuh cinta yang terpancar dari mata suamiku, seperti siang itu, tidak pernah seumur hidupku yang aku lalui bersamanya, tidak pernah sedetikpun ! Hatiku terasa sakit, lebih sakit dari ketika dia membalikkan tubuhnya membelakangi aku saat aku memeluknya dan berharap dia mencumbuku.. Lebih sakit dari rasa sakit setelah operasi caesar ketika aku melahirkan anaknya. Lebih sakit dari rasa sakit, ketika dia tidak mau memakan masakan yang aku buat dengan susah payah. Lebih sakit daripada sakit ketika dia tidak pulang kerumah saat ulang tahun perkawinan kami kemarin. Lebih sakit dari rasa sakit ketika dia lebih suka mencumbu komputernya dibanding aku. Tapi aku tidak pernah bisa marah setiap melihat perempuan itu. Meisha begitu manis, dia bisa hadir tiba2, membawakan donat buat anak2, dan membawakan ekrol kesukaanku. Dia mengajakku jalan2, kadang mengajakku nonton. kali lain, dia datang bersama suami dan ke-2 anaknya yang lucu2. Aku tidak pernah bertanya, apakah suamiku mencintai perempuan berhati bidadari itu? karena tanpa bertanya pun aku sudah tahu, apa yang bergejolak dihatinya. Suatu sore, mendung begitu menyelimuti jakarta , aku tidak pernah menyangka, hatikupun akan mendung, bahkan gerimis kemudian. Anak sulungku, seorang anak perempuan cantik berusia 7 tahun, rambutnya keriting ikal dan cerdasnya sama seperti ayahnya. Dia berhasil membuka password email Papa nya, dan memanggilku, " Mama, mau lihat surat papa buat tante Meisha ?" Aku tertegun memandangnya, dan membaca surat elektronik itu, Dear Meisha,Kehadiranmu bagai beribu bintang gemerlap yang mengisi seluruh relung hatiku, aku tidak pernah merasakan jatuh cinta seperti ini, bahkan pada Rima. Aku mencintai Rima karena kondisi yang mengharuskan aku mencintainya, karena dia ibu dari anak2ku.Ketika aku menikahinya, aku tetap tidak tahu apakah aku sungguh2 mencintainya. Tidak ada perasaan bergetar seperti ketika aku memandangmu, tidak ada perasaan rindu yang tidak pernah padam ketika aku tidak menjumpainya. Aku hanya tidak ingin menyakiti perasaannya. Ketika konflik2 terjadi saat kami pacaran dulu, aku sebenarnya kecewa, tapi aku tidak sanggup mengatakan padanya bahwa dia bukanlah perempuan yang aku cari untuk mengisi kekosongan hatiku. Hatiku tetap terasa hampa, meskipun aku menikahinya.Aku tidak tahu, bagaimana caranya menumbuhkan cinta untuknya, seperti ketika cinta untukmu tumbuh secara alami, seperti pohon2 beringin yang tumbuh kokoh tanpa pernah mendapat siraman dari pemiliknya. Seperti pepohonan di hutan2 belantara yang tidak pernah minta disirami, namun tumbuh dengan lebat secara alami. Itu yang aku rasakan.Aku tidak akan pernah bisa memilikimu, karena kau sudah menjadi milik orang lain dan aku adalah laki2 yang sangat memegang komitmen pernikahan kami. Meskipun hatiku terasa hampa, itu tidaklah mengapa, asal aku bisa melihat Rima bahagia dan tertawa, dia bisa mendapatkan segala yang dia inginkan selama aku mampu. Dia boleh mendapatkan seluruh hartaku dan tubuhku, tapi tidak jiwaku dan cintaku, yang hanya aku berikan untukmu. Meskipun ada tembok yang menghalangi kita, aku hanya berharap bahwa engkau mengerti, you are the only one in my heart.yours,MarioMataku terasa panas. Jelita, anak sulungku memelukku erat. Meskipun baru berusia 7 tahun, dia adalah malaikat jelitaku yang sangat mengerti dan menyayangiku. Suamiku tidak pernah mencintaiku. Dia tidak pernah bahagia bersamaku. Dia mencintai perempuan lain. Aku mengumpulkan kekuatanku. Sejak itu, aku menulis surat hampir setiap hari untuk suamiku. Surat itu aku simpan diamplop, dan aku letakkan di lemari bajuku, tidak pernah aku berikan untuknya. Mobil yang dia berikan untukku aku kembalikan padanya. Aku mengumpulkan tabunganku yang kusimpan dari sisa2 uang belanja, lalu aku belikan motor untuk mengantar dan menjemput anak2ku. Mario merasa heran, karena aku tidak pernah lagi bermanja dan minta dibelikan bermacam2 merek tas dan baju. Aku terpuruk dalam kehancuranku. Aku dulu memintanya menikahiku karena aku malu terlalu lama pacaran, sedangkan teman2ku sudah menikah semua. Ternyata dia memang tidak pernah menginginkan aku menjadi istrinya. Betapa tidak berharganya aku. Tidakkah dia tahu, bahwa aku juga seorang perempuan yang berhak mendapatkan kasih sayang dari suaminya ? Kenapa dia tidak mengatakan saja, bahwa dia tidak mencintai aku dan tidak menginginkan aku ? itu lebih aku hargai daripada dia cuma diam dan mengangguk dan melamarku lalu menikahiku.. Betapa malangnya nasibku. Marioterus menerus sakit2an, dan aku tetap merawatnya dengan setia. Biarlah dia mencintai perempuan itu terus didalam hatinya. Dengan pura2 tidak tahu, aku sudah membuatnya bahagia dengan mencintai perempuan itu. Kebahagiaan Mario adalah kebahagiaanku juga, karena aku akan selalu mencintainya. ********** Setahun kemudian… Meisha membuka amplop surat2 itu dengan air mata berlinang. Tanah pemakaman itu masih basah merah dan masih dipenuhi bunga. " Mario, suamiku…. Aku tidak pernah menyangka pertemuan kita saat aku pertama kali bekerja dikantormu, akan membawaku pada cinta sejatiku. Aku begitu terpesona padamu yang pendiam dan tampak dingin. Betapa senangnya aku ketika aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aku mencintaimu, dan begitu posesif ingin memilikimu seutuhnya. Aku sering marah, ketika kamu asyik bekerja, dan tidak memperdulikan aku. Aku merasa diatas angin, ketika kamu hanya diam dan menuruti keinginanku… Aku pikir, aku si puteri cantik yang diinginkan banyak pria, telah memenuhi ruang hatimu dan kamu terlalu mencintaiku sehingga mau melakukan apa saja untukku…..Ternyata aku keliru…. aku menyadarinya tepat sehari setelah pernikahan kita. Ketika aku membanting hadiah jam tangan dari seorang teman kantor dulu yang aku tahu sebenarnya menyukai Mario .Aku melihat matamu begitu terluka, ketika berkata, " kenapa, Rima ? Kenapa kamu mesti cemburu ? dia sudah menikah, dan aku sudah memilihmu menjadi istriku ?"Aku tidak perduli,dan berlalu dari hadapanmu dengan sombongnya.Sekarang aku menyesal, memintamu melamarku. Engkau tidak pernah bahagia bersamaku. Aku adalah hal terburuk dalam kehidupan cintamu. Aku bukanlah wanita yang sempurna yang engkau inginkan.Istrimu,Rima"Di surat yang lain, "………Kehadiran perempuan itu membuatmu berubah, engkau tidak lagi sedingin es. Engkau mulai terasa hangat, namun tetap saja aku tidak pernah melihat cahaya cinta dari matamu untukku, seperti aku melihat cahaya yang penuh cinta itu berpendar dari kedua bola matamu saat memandang Meisha……"Disurat yang kesekian, "…….Aku bersumpah, akan membuatmu jatuh cinta padaku.Aku telah berubah, Mario . Engkau lihat kan, aku tidak lagi marah2 padamu, aku tidak lagi suka membanting2 barang dan berteriak jika emosi. Aku belajar masak, dan selalu kubuatkan masakan yang engkau sukai. Aku tidak lagi boros, dan selalau menabung. Aku tidak lagi suka bertengkar dengan ibumu. Aku selalu tersenyum menyambutmu pulang kerumah. Dan aku selalu meneleponmu, untuk menanyakan sudahkah kekasih hatiku makan siang ini? Aku merawatmu jika engkau sakit, aku tidak kesal saat engkau tidak mau aku suapi, aku menungguimu sampai tertidur disamping tempat tidurmu, dirumah sakit saat engkau dirawat, karena penyakit pencernaanmu yang selalu bermasalah…….Meskipun belum terbit juga, sinar cinta itu dari matamu, aku akan tetap berusaha dan menantinya…….."Meisha menghapus air mata yang terus mengalir dari kedua mata indahnya… dipeluknya Jelita yang tersedu-sedu disampingnya. Disurat terakhir, pagi ini… "…………..Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke-9. Tahun lalu engkau tidak pulang kerumah, tapi tahun ini aku akan memaksamu pulang, karena hari ini aku akan masak, masakan yang paling enak sedunia. Kemarin aku belajar membuatnya dirumah Bude Tati, sampai kehujanan dan basah kuyup, karena waktu pulang hujannya deras sekali, dan aku hanya mengendarai motor.Saat aku tiba dirumah kemarin malam, aku melihat sinar kekhawatiran dimatamu. Engkau memelukku, dan menyuruhku segera ganti baju supaya tidak sakit.Tahukah engkau suamiku,Selama hampir 15 tahun aku mengenalmu, 6 tahun kita pacaran, dan hampir 9 tahun kita menikah, baru kali ini aku melihat sinar kekhawatiran itu dari matamu, inikah tanda2 cinta mulai bersemi dihatimu ?………"Jelita menatap Meisha, dan bercerita, " Siang itu Mama menjemputku dengan motornya, dari jauh aku melihat keceriaan diwajah mama, dia terus melambai-lambaikan tangannya kepadaku. Aku tidak pernah melihat wajah yang sangat bersinar dari mama seperti siang itu, dia begitu cantik. Meskipun dulu sering marah2 kepadaku, tapi aku selalu menyayanginya. Mama memarkir motornya diseberang jalan, Ketika mama menyeberang jalan, tiba2 mobil itu lewat dari tikungan dengan kecepatan tinggi…… aku tidak sanggup melihatnya terlontar, Tante….. aku melihatnya masih memandangku sebelum dia tidak lagi bergerak……" Jelita memeluk Meisha dan terisak-isak. Bocah cantik ini masih terlalu kecil untuk merasakan sakit di hatinya, tapi dia sangat dewasa. Meisha mengeluarkan selembar kertas yang dia print tadi pagi. Mario mengirimkan email lagi kemarin malam, dan tadinya aku ingin Rima membacanya. Dear Meisha,Selama setahun ini aku mulai merasakan Rima berbeda, dia tidak lagi marah2 dan selalu berusaha menyenangkan hatiku. Dan tadi, dia pulang dengan tubuh basah kuyup karena kehujanan, aku sangat khawatir dan memeluknya. Tiba2 aku baru menyadari betapa beruntungnya aku memiliki dia. Hatiku mulai bergetar…. Inikah tanda2 aku mulai mencintainya ?Aku terus berusaha mencintainya seperti yang engkau sarankan, Meisha. Dan besok aku akan memberikan surprise untuknya, aku akan membelikan mobil mungil untuknya, supaya dia tidak lagi naik motor kemana-mana. Bukan karena dia ibu dari anak2ku, tapi karena dia belahan jiwaku….Meisha menatap Mario yang tampak semakin ringkih, yang masih terduduk disamping nisan Rima. Diwajahnya tampak duka yang dalam. Semuanya telah terjadi, Mario .
Kadang kita baru menyadari bahwa kita sangat mencintai seseorang, ketika seseorang itu telah pergi meninggalkan kita..


Binjai, awal Januari 2009 (dedicated to my friend....PLMBNG)

Oleh: Ev. David Kandar, S.Th

Tuesday, January 13, 2009

“PERGI”

Khotbah GMI Getsemani
11 Januari 2009
Oleh; GI. David kandar, S.Th
diterjemahkan penyampaiannya dalam Bahasa Mandarin oleh : Sdr. Fu Ta Cang

“PERGI”
“Karena itu pergilah, jadikan semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam Nama Bapa, dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Ku perintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”
(Matius 28:19-20)

Saudara/ i yang Tuhan Yesus kasihi, Matius 28 :19-20 adalah ayat yang dikenal sebagai Amanat Agung dari Yesus Kristus, mengapa dikatakan demikian, karena kalimat di atas adalah pesan terakhir kepada murid-muridNya sebelum kenaikanNya ke Surga.
Amanat atau pesan ini, bukan saja hanya kepada murid-murid Yesus saat itu, tetapi kepada kita yang mengaku diri sebagai murid-murid Tuhan Yesus, anak Tuhan yang telah memiliki jaminan keselamatan kekal dari Yesus Kristus. Juga amanat ini ditujukan bagi gereja-gereja yang mengakui bahwa Tuhan Yesus adalah kepala gerejaNya.
Saudara/i banyak hal dikerjakan gereja pada saat ini, atau dikerjakan orang percaya pada zaman ini, yaitu, datang kebaktian atau acara-acara gereja secara teratur, memberikan persembahan secara sukarela kepada gereja, mendukung program-program yang dijalankan oleh gereja (seperti Gereja kita 7 in 1), ikut ibadah (ok), ikut persekutuan (rajin), ikut pembinaan (tidak pernah absen), ikut pelayanan (sudah), satu hari satu kebaikan (malah saya lebih dari satu kebaikan), satu minggu satu jam doa syafaat (saya bahkan 3 jam bahkan lebih), dan yang terakhir 1 tahun satu jiwa buat Tuhan (ini susah, satu pun tidak dapat, karena takut, gengsi, masa bodo). Dan akhirnya karena yang ke 7 tidak bisa dilakukan beralasan mentaati hukum ke sebelas “Jangan berbuat ulah”. Memang kelihatannya semua yang dilakukan diatas baik karena dari 7 program gereja kita, enam sudah dilaksanakan, tetapi kalau jemaat bisa buat yang lebih baik, mengapa tidak dilakukan?
Bagaimana jemaat yang lebih baik itu:
1. Setiap jemaat, adalah setiap orang yang sudah mengenal Kristus harus membuat Kristus lebih dikenal.
2. Jemaat yang sudah bertumbuh harus menolong sesamanya dalam pertumbuhan kerohanian
Bagaimana caranya?
Membuat Kristus lebih dikenal, caranya mengabarkannya. Perhatikan Matius 28:19-20:
Dalam Matius 28:19, dimulai dengan kata
Pergi,
berarti suatu kalimat perintah, pergilah, adalah suatu penekanan dari kata pergi “therefore go”, kata pergi ini berbicara tentang kuantitas/ jumlah, pencaharian akan jiwa-jiwa terhilang, atau dengan kata lain Going travelling/ Misi/ Mission. Berkeliling mencari jiwa yang belum terjangkau (unreach people). Contoh atau teladan yang paling jelas dari kata pergi ini adalah dari Tuhan Yesus sendiri ketika Ia ada di dunia ini, mengerjakan tugas Bapa, Ia pergi menyusuri Galilea, menyembuhkan (healing), memulihkan, dan menjangkau setiap jiwa yang terhilang, yang terkurung oleh budaya Yahudi dengan hukum yang mematikan,(dunia ini banyak orang terhilang karena belum percaya Tuhan Yesus dan masih terkurung oleh budaya/ adat istiadat, (contoh; orang/ suku Tionghua).

Kalimat selanjutnya,
jadikan semua bangsa...
Maksud di sini berbicara tentang tujuan misi itu sendiri, tujuan dari kata “pergi” itu, yaitu memberitakan Injil kepada bangsa-bangsa. Hal ini memberikan penjelasan bahwa penekanan tujuan dari misi tidak ada batasan sosial, budaya, adat istiadat.
Banyak zaman sekarang pekabaran Injil dibatasi oleh adat istiadat, kelas sosial
(Ilustrasi: Peristiwa mahatma Gandhi).....
Memang benar dalam konteks misi ada satu tujuan atau Visi, tetapi dalam konteks penerimaan tidak. Maksudnya, dalam pekabaran Injil boleh kita mempunyai misi dan visi ke suatu tempat, daerah. Tetapi dalam konteks penerimaan bagi jiwa yang sudah di dapatkan tidak ada batasan.
(jangan sampai peristiwa Mahatma Gandi terjadi)..

Murid, disini menjelaskan tentang kuantitas dan kualitas (jumlah dan mutu), Murid/ memuridkan memberikan suatu defini orang yang hidupnya mencerminkan pengajaran dari Yesus Kristus, murid berarti mempertahankan dan melanjutkan pengajaran gurunya, dan dari segi pengajaran berbicara tentang kualitas, tetapi dari segi memuridkan, memberikan definisi tentang kuantitas/ jumlah (istilah pelipat gandaan...........(Ilustrasi: MLM)

Baptislah mereka......
Banyak orang belum memahami arti baptis. Baptisan sebagai suatu arti dimana saudara diminta berdiri dan mengaku percaya bahwa Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Sebagai suatu janji atau komitmen di hadapatn Tuhan dan sesama jemaat yang harus dipertanggung jawabkan di dalam kehidupan kita ketika kita sudah masuk di dalam komunitas ke Kristenan.

Mengajar/ Teaching. – Didaskalos.
Dalam dunia sekarang ini, pengajaran dianggap tidak perlu, dan dalam dunia sekarang ini, banyak orang menghindar dari ajaran-ajaran yang sejati, (II Tim. 4).
Di sinagoge Yesus mengadakan: Kegiatan Mengajar.
Didaskalos – mengajar, seorang guru, dalam agama Yahudi adalah seorang yang memiliki wewenang untuk menafsirkan kitab Torah. Jadi tidak sembarangan orang atau tokoh agama diperbolehkan untuk menafsirkan dan mengajar Torah.
Didaskalos berhubungan dengan kata Grammateis, artinya “Scribes”, atau seorang yang
bertanggungjawab mengajarkan kebenaran dan keselamatan kepada umat.
Menurut Gerhardsson, B., dalam bukunya The Mighty Acts of Jesus according to Matthew,
menulis bahwa Yesus di sinagoge sedang melakukan “Block Teaching”. Dan mata kuliah atau
bahan yang diajarkan Yesus adalah “Exposition of Torah”.
Jadi apa yang dilakukan oleh Yesus ini begitu penting dan urgen, karena dalam jaman itu dimata
Yesus, sinagoge bukan lagi melambangkan kehadiran Allah, tetapi: lambang dari “Isolasi tokoh agama (Tokoh agama dihormati dan lebih didengar lebih dari pada menghormati dan taat
kepada Tuhan)”, kemunafikan, kepalsuan, dan kesesatan.” Itulah sebabnya kalau kita membaca
seluruh kitab Injil ini sinagoge bukanlah tempat orang-orang berdosa dan kafir untuk mencari
Tuhan walaupun disitu ada banyak ahli-ahli Taurat yang tahu banyak tentang Allah dan Torat.
Mereka tidak ingin ke sana karena hidup ahli Taurat dan orang Farisi itu penuh dengan diskriminasi,
cari keuntungan, kemunafikan, kepalsuan, politik, dan kesesatan. Tidak ada daya tarik sama sekali.
Di sinagoge itu kebenaran diputarbalikkan, kebenaran menjadi dosa, dan dosa menjadi kebenaran.
Karena itu, setelah kita bisa pergi mendapatkan jiwa-jiwa terhilang, menjadikan atau memuridkan.maka
kita harus pula dapat megajar mereka sebagai pertanggung jawaban iman kita pada Tuhan Yesus.

Maka oleh karena itu perintah-atau amanat agung ini harus kita laksanakan sebagai gereja dan sebagai umat
percaya untuk wujud pertanggung jawaban kita sebagai murid-murid Tuhan Yesus untuk pergi
memberitakan Injil (Ingat iklan Coca Cola “Always Coca Cola” dimana saja dan kapan saja), dan setelah
itu pertanggung jawabkan dengan memuridkan mereka, mengajar mereka, AMIN

Wednesday, December 17, 2008

Happy Christmas













Happy Christmas 25 Desember 2008






and






Happy New Year 01 Januari 2009